
Suasana di meja makan cukup ramai saat itu, padahal biasanya hanya dentingan sendok dan garpu saja yang beradu jika mereka sedang makan.
Ada beberapa hal yang berubah sesuai dengan kebiasaan mereka, seperti halnya dulunya tidak pernah ada perbincangan apa pun di dalam ruangan makan apa bila mereka sedang makan.
Perkataan yang barusan meluncur dari bibirnya Maxy membuat seluruh anggota keluarganya yang ada di sana terkejut bukan main setelah melihat dan mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Maxy yang tidak seperti kebiasaan yang dia lakukan dan terapkan di dalam keluarganya.
Raisa menatap tidak percaya dan keheranan ke arah kakak sulungnya sebelum berbicara, Maxy menganggukkan kepalanya tanda mengijinkan adik bungsunya untuk berbicara, " iya sayang, insya Allah hari ini Uncle Richard papinya Kakak Reinhardi sama Aunty akan bertolak ke Jerman setelah itu baru ke Dubai lagi," jawabnya sembari mengelus pucuk rambutnya Ica dengan penuh kelembutan.
"Oh gitu yah Aunty, jadi Abang Lee ditinggal dong kalau gitu?" Tanyanya lagi yang membuat suasana sarapan pagi hari itu terasa berbeda.
Rei yang mendengar namanya disebut oleh Ica ikut menyahut seruan dari Ica," kalau Abang ikut nanti Mami dan papi tidak bisa bawa pulang adek bayi, kan kemarin kamu minta adek bayi, ya kan?" Tanyanya Reinhard yang tersenyum manis ke arah Ica yang tersenyum kegirangan.
"Hore, ada dedek bayi kalau gitu, Aunty jangan lupa yah pulangnya nanti dari Dubai bawa adek bayi yah," ucapnya dengan wajahnya yang tampan penuh harap.
Raisa dan Richard saling bertatapan, beradu pandang dan tersenyum bersamaan ke arah Ica,"do'akan Aunty yah, semoga pulangnya bisa bawa adek bayi," ujar Richard dengan senyuman smirknya.
"Amin," jawab serentak dari semua orang yang ada di sana.
Kekerabatan dan kebersamaan yang terjalin diantara mereka semakin memperkuat dan mempererat tali silaturahmi diantara anggota keluarga besar Lee. Pak Yudha tersenyum gembira melihat banyak perubahan positif yang terjadi padanya selama Camelia berada di rumahnya.
Kehadiran Ica di dalam keluarganya pun menjadi penuh warna dan keceriaan. Suasana keceriaan dan kebersamaan Di dalam ruangan itu sangat kental dengan canda tawa dari mereka. Berbeda halnya dengan di ruangan lain yang berada di rumah lainnya. Seorang kakek tua telah mendudukkan satu-satunya cucu yang dimilikinya itu dengan wajah angkuh dan penuh amarahnya.
"Mutiara!! Katakan pada Kakek apa yang terjadi sebenarnya selama ini?" Tanyanya dengan nada suara yang menggema memenuhi seisi ruangan tersebut.
Seorang Kakek tua renta yang murka saat mengetahui jika cucu tunggal dan kesayangannya Ketahuan menjalin hubungan terlarang dengan cucu dari musuh bebuyutannya selama ini. Yang paling disesalkan adalah Mutia harus hamil dan diam-diam melahirkan seorang putri yang keberadaannya tidak ditemukan.
__ADS_1
Mutiara yang mendapatkan pertanyaan seperti itu tersentak terkejut dan sangat shock,"ya Allah… kenapa kakek bisa mengetahui informasi itu aku sangat bermain hati-hati dan selalu bisa menutupinya dari kakek," Mutia membatin.
"Mutia!!!! Katakan sejujurnya pada Kakek, apa hubungan kamu dengan Dennis cucu dari musuhnya Kakek haaa!!!" Bentaknya disertai dengan pertanyaan menggoyangkan tubuhnya cucunya dengan kedua tangannya matanya melotot seolah-olah akan melompat keluar dari tempatnya saja.
Mutia masih setia dalam kebungkamannya diam seribu bahasa karena masih dalam keadaan bingung. Dia tidak tahu harus berbicara apa pun. Menjawab dengan jujur juga salah lebih-lebih kalau bohong lagi. Mati enggan hidup pun segan itu pepatah yang pantas disematkan pada keadaan yang menimpa Mutiara saat itu juga.
"Baiklah karena kamu sama sekali tidak berbicara sedikitpun, Kakek akan tahu turun tangan langsung untuk melenyapkan pria yang telah memberimu seorang putri itu!!" Teriaknya dengan matanya yang sudah merah menyala saking marahnya dengan kepala tangannya.
Mutiara menggerakkan kakinya lalu bergeser ke belakang beberapa langkah saat mendengar perkataan dari kakeknya, dia tidak menyangka jika kakeknya sampai mengetahui jika dia telah melahirkan anak di luar nikah. Dia segera berlari ke arah kakeknya yang sudah berada di ambang pintu.
"Kakek!!! Aku mohon jangan lakukan apa pun pada Rexy dan putriku kakek, mereka adalah nyawaku, kakek aku mohon dengan sangat, jangan melukai mereka, saya tidak akan bisa hidup tanpa mereka," ratap Mutiara yang sudah berlutut di kakinya Nurman dengan deraian air matanya yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah ruah juga yang memohon agar dia kakeknya tersentuh dan merasa iba.
"Mereka tidak pantas mendapatkan perhatianmu dan permohonanmu tidak akan pernah kakek dengarkan, apapun yang terjadi hingga sampai dunia kiamat pun kakek tidak akan pernah memaafkan mereka dan mengizinkan kalian bersatu, camkan itu baik-baik!!" hardik nya Tuan Besar Ardian lalu mendorong dengan sekuat tenaga cucu kesayangannya itu hingga punggung Liora terbentur ke sudut meja.
"Kunci ruangan ini dan jangan biarkan dia bisa pergi dari istana ini apa pun alasannya, jika tidak nyawa kalian yang akan jadi taruhannya," perintah Ardian Nurman segera dilaksanakan oleh anak buahnya dengan sesuai yang diperintahkan kepada mereka.
"Jika dia sampai kabur maka nyawa kalian adalah gantinya, camkan itu!!" Gertak Tuan Ardian Nurman.
Ardian Nurman meninggalkan ruangan itu dengan penuh amarah yang meletup-letup hingga serasa akan keluar membakar apa saja yang dilaluinya.
...****************...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
Tetap dukung Cinta dan Dendam dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan dan Votenya yah Readers
__ADS_1