
Sore itu suasana nya cukup tenang dan damai. Cuacanya yang mendung seakan-akan nantinya akan turun hujan membasahi permukaan seluruh bumi. Semilir angin dengan aromanya yang berbau khas pertanda akan segera turun hujan yang cukup lebat.
Seorang perempuan dewasa berdiri di belakang rumahnya sambil menatap beberapa tanaman yang ada di sekitarnya. Aisyah berdiri di teras belakang rumah kediaman Utama Keluarga Lee sembari menatap beberapa pohon yang daunnya bergoyang tertiup angin.
"Apa!!! Pasti apa yang aku dengar barusan bukanlah seperti kenyataannya, kalau seperti ini aku takut jika akan menjadi masalah besar di kemudian hari."
Orang itu kebetulan lewat di sekitar tempat berdirinya Aisyah dan mendengar pembicaraan Aisyah dengan seseorang lewat telepon.
"Ini tidak boleh terjadi, tapi bagaimana dengan Rexy dan anaknya, apa aku mencari tahu diam-diam saja putrinya atau memberitahukan Tuan Besar Luis saja, sepertinya dia yang bisa membantuku."
Dia tergesa-gesa meninggalkan tempat itu, setelah mendengarkan kenyataan yang ada. Air matanya menetes, dia tidak ingin kebahagiaan keluarganya tergadaikan dengan kebencian dari masa lalu mereka.
Rexy menurunkan Ica ke atas kursi tanpa sepatah kata pun. Dia langsung kembali berjalan ke arah kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Hanya butuh waktu sepersekian detik saja dia menyelesaikan mandinya dan buru-buru memakai pakaian santai saja.
"Aku harus bertemu lagi dengannya, aku harus mengetahui apa benar yang dikatakannya," gumam Rexy lalu meraih dompet serta hp dan kunci mobilnya.
Mirah yang kebetulan kembali melihat putra keduanya yang terburu-buru berjalan dan menutup pintu kamarnya, padahal niatnya ingin mendatangi puteranya dan ingin bertanya sesuatu. Dia ingin mengetahui apa yang membuat raut wajahnya sedari tadi seperti orang yang menahan amarahnya.
Amarahnya Rexy yang hanya menunggu dan mencari waktu tepat saja untuk meledak. Tetapi, upaya yang direncanakannya terhenti karena Rexy kembali meninggalkan Kediamannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Nak? Mommy ingin membantumu tapi kamu seakan-akan selalu menutup diri dari keluargamu, sifatmu tidak jauh beda dengan kakek." Dia melihat putranya dibalik jendela kamarnya saat mobilnya kembali melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya.
"Semoga dia belum pergi dari sana, apa aku telepon saja nomor hpnya, tapi mungkin dia sudah menggantinya ini sudah hampir lima tahun awal kami bertemu dulu," cicitnya Rexy.
Tangan kirinya mencari nomor hp Mutiara yang masih tersimpan di dalam kontak telponnya. Dia mencoba untuk menghubungi nomor hp tersebut. Ternyata nomor itu masih aktif.
Tut.. Tut.. Tut..
__ADS_1
Beberapa kali Rexy mencoba menghubunginya tapi hanya nada sambung saja yang mampu dia dengar. Hingga percobaan terakhir, Mutia mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum Abang," seru orang yang berada di seberang telpon dengan nada suara yang lembut dan mendayu.
Rexy tak mampu berucap sepatah kata pun,dikala mendengar suara Mutiara yang mengucap salam sewaktu teleponnya sudah tersambung.
Dia tidak menyangka gadis liar dan egois itu mulutnya bisa terucapkan kata yang mampu membuat amarahnya sedikit mereda.
Rexy tidak membalas ucapan perempuan yang sangat dia sayangi dan cintai itu. Dia masih sibuk memikirkan apakah yang dia telepon sudah tepat nomornya Liora atau bukan. Tapi, nama yang tertera di layar HPnya adalah belahan jiwaku.
"Abang, kenapa hanya diam saja, tolong bicaralah Abang," ucapnya yang bangkit dari atas rumput, tetapi tidak perduli dengan pakaiannya yang sedikit terkena noda tanah dan pasir.
"Waalaikumsalam, tunggu Abang di tempat yang tadi," Jawabnya singkat lalu segera mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Tut.. Tut.. Tut.. nada telepon sudah terputus. Mutia tidak menyangka, jika pria pujaan hatinya menyuruhnya untuk tetap disana sambil menunggu kedatangannya.
"Ya Allah…. Semoga saja Abang berubah pikiran dan menerima kenyataan bahwa kami memiliki seorang anak," tuturnya sembari meletakkan hpnya di ujung dagunya.
Berselang beberapa saat, mobil Ducati Monster diesel sudah terparkir dengan gagahnya di dalam parkiran TK. Tanpa berlama-lama dia segera berjalan ke tempat Mutiara berada.
Langkahnya sedikit pelan saat melihat punggung perempuannya yang sudah membuatnya hampir kehilangan akal sehatnya. Tidak dipungkiri bila dia sangat merindukan kehadiran dan senyuman perempuan itu.
Senyuman tipis tersungging di ujung bibirnya. Dia tidak menampik ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya hanya sekedar melihat punggung gadis yang akan ditemuinya.
"Mutiara," cicitnya saat sudah berada tepat di belakangnya.
Sedangkan yang disapa refleks memalingkan wajahnya ke arah belakang tepatnya ke sumber suara.
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
__ADS_1