Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Chapter. 41. Kebingungan Richard


__ADS_3

Mereka berjalan bergandengan tangan layaknya seperti saudara adik kakak saja. Kedekatan mereka tidak seperti Mama dan anak tapi, mereka lebih seperti sahabat saja.


Raisa sudah berdiri di hadapan Richard, baru saja ingin mendudukkan tubuhnya tetapi kegiatannya terhenti saat seseorang memanggilnya.


"Mami!!!!!" Pekik Orang itu.


Seorang anak kecil berlarian menuruni undakan tangga. Dia berlari dari dalam kamarnya saat mendengar suara Maminya.


Anak itu berumur sekitar 10 tahun, wajahnya yang cukup tampan di usianya yang kadang membuat iri orang dewasa saja.


Maminya sudah pulang ke Indonesia setelah hampir dua minggu kepergiannya ke USA dengan urusan pekerjaan.


Dengan langkah kakinya yang pasti, dia menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Dia melihat punggung Maminya berjalan bersama dengan Mama Amairah.


Dengan suara yang cukup lantang, dia berteriak memanggil Mamanya.


"Mami!!!" Pekik anak itu.


Pandangan semua orang tertuju pada sosok anak laki-laki yang berlarian dengan wajah yang kegirangan. Hanya Richard yang penasaran dengan anak kecil tersebut.


"Boys jangan lari, entar kakinya kesandung," teriak Yudha kakeknya anak kecil itu.


"Iya nak jangan larian, Nenek takut lihat Kamu berlarian seperti itu," timpal Nenek Masitha yang ikut khawatir melihat cicitnya tidak menghentikan langkahnya.


Reinhard terus berlari tanpa menghiraukan ucapan dan teriakan dari orang-orang. Saking gembiranya dia tidak peduli dengan hal lainnya.


Dia memeluk tubuh Raisa dengan erat yang membuat Richard terperangah keheranan.


"Mami!! Rei sangat merindukan Mami," ucapnya sembari memeluk tubuh Raisa dengan eratnya.

__ADS_1


Tatapan mata tajam Richard menelisik memperhatikan kedekatan antara Raisa dengan Rei.


"Bukannya Nyonya Mirah adalah Mamanya, tapi kenapa Rei memanggil Raisa dengan sebutan Mami dan siapa ayahnya? setahuku Raisa masih gadis belum pernah menikah," batinnya Richard yang masih kebingungan dengan kondisi yang dia lihatnya.


Raisa membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan Rei lalu membalas pelukan dari anaknya.


"Mami juga sangat merindukan Rei, Mami sangat sayang Lee," ujarnya sambil menghujani ciuman di wajah putranya.


"Maafkan tingkah cucuku Rei, biasa anak-anak kalau ketemu dengan Maminya setelah berpisah beberapa hari," tutur Yudha.


"Cucu," cicitnya Richard yang semakin tidak percaya lalu menatap intens Rei dan Raisa bergantian.


Yudha yang berdekatan dengan Abi mendengar dengan jelas perkataan dari Abimanyu.


"Iya, dia cucu pertama di dalam keluarga Rei dan lucunya dia memanggilku dengan sebutan papa," jelasnya.


Yudha bisa membaca raut wajah terkejut sekaligus herannya Richard. Dia berniat untuk bertanya tentang ayahnya Rei, tetapi dia urungkan niatnya.


"Makasih banyak Tuan," jawabnya.


Yudha menghentikan langkahnya ketika mendengar Richard memanggilnya dengan sebutan Tuan.


"Mulai detik ini panggil saya dengan panggilan seperti Raisa dan yang lainnya dengan sebutan Daddy," terangnya Yudha dengan sedikit tegas.


"Maaf Dad, kebiasaan soalnya," jawabanya dengan senyuman simpulnya.


"Mulai saat ini biasakan panggil Daddy, dan Saya tidak ingin Kamu salah memanggil lagi," ucapnya dengan senyuman khasnya.


Raisa duduk berdampingan dengan Richard dan di tengah-tengahnya diapit oleh Rei.

__ADS_1


"Jadi nak Richardi kapan Kamu akan meresmikan hubungan kalian?" Tanya Pak Heri yang baru beberapa menit lalu hadir di tengah-tengah mereka.


"Rencananya saya langsung ingin menghalalkan Raisa tanpa ada acara pertunangan sebelumnya," jelasnya dengan mantap.


"Bukannya bagus kalau tunangan terlebih dahulu baru menikah nak?" Ucap Mirah yang ikut menimpali pembicaraan mereka.


"Saya ingin langsung menikahi Raisa saja Moms, karena bagiku akad nikah yang paling penting bukan pesta pertunangannya itu sendiri, lagian saya tidak ingin menunggu terlalu lama, lebih cepat lebih baik," jelasnya sahut Richard yang kembali mengalihkan pandangannya ke Raisa.


Perkataan dari Richard membuat semua orang tersenyum.


"Syukur Alhamdulillah kalau niatnya seperti itu," pungkas Nenek Masitha.


"Ya elah calon manten sudah kebelet pengen nikah saja," gurauan Maxi yang berjalan ke arah mereka dengan tersenyum kepada calon adik iparnya.


"Raisa sudah jadi calon manten kalau Kamu kapan mengakhiri kejombloanmu, apa sudah permanen?" Dibalas candaan oleh Dion.


...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Dilema Diantara dua pilihan...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...

__ADS_1


...7. Pelakor Pilihan...


...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......


__ADS_2