Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
55. Kebahagiaan


__ADS_3

Richard tersenyum kegirangan karena telah menggendong tubuh kekasihnya sekaligus ibu dari anaknya untuk kedua kalinya walaupun dalam keadaan yang berbeda.


"Aku sangat bahagia bisa menggendong tubuhmu untuk kedua kalinya, dulu Kamu sendiri yang memintaku untuk menggendongmu tapi kali ini aku yakin berinisiatif untuk melakukannya dan aku sangat bahagia bahkan andai aku mampu, aku akan seperti ini terus," batinnya yang menatap tidak jemu wajahnya Raisa.


Raisa masih mengalungkan tangannya ke leher Richard. Mereka masih saling beradu pandang keheranan. Ada yang refleks tersenyum sumringah ada yang tidak percaya dan ada yang spontan menutup matanya Reinhard yang masih kecil.


Beberapa orang yang berada di dalam ruangan tersebut, mengundurkan diri tanpa pamit. Mereka memberikan waktu yang lebih untuk keduanya untuk saling meresapi dan mendalami apa yang terjadi di dalam hati mereka.


Rei menarik tangan dari Mama Mirah serta yang lainnya dan tak lupa memberikan kode kepada semuanya untuk pergi dari sana.


Reinhard masih kecil tapi, sangat mengerti dengan keadaan dari kedua orang dewasa tersebut. Dia awalnya menutup kedua matanya setelah menyadari bahwa Mami dan calon Papinya sedikit bermesraan di mata mereka.


"Apa kita jadi berangkat jalan-jalannya?" Sembari tersenyum kearah Raisa yang masih terdiam tanpa berkedip sedikit pun.


Richard yang melihat Raisa tidak ada reaksi dikitpun berinisiatif menciumi pipi Raisa sepintas. Ia memajukan wajahnya dan segera mencium sekilas pipi Raisa bagian kiri.


Raisa baru tersadar dari lamunannya, ia sedari tadi sibuk berselancar di dunia lamunannya hingga bibir dingin menyentuh pipinya barulah kembali tersadar.


"Aaaaaaaahhhhh!!!" Pekik Raisa yang tersentak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Richard.


Kedua matanya melotot hingga membulat sempurna sedangkan mulutnya terbuka lebar saking terkejutnya dengan perlakuan dari Richard. Dia meletakkan telunjuknya ke atas bibir calon istrinya itu.


Raisa bukannya terdiam malahan dia menggigit jarinya Richard tanpa terduga. Richard secepat kilat menarik tangannya dari dalam mulutnya Raisa yang seperti sedang menggigit makanan saja.

__ADS_1


Wajahnya memerah saking perih yang dirasakannya, jarinya bekas gigitan giginya Raisa cukup membuat meringis menahan perih.


Delisha melihat jemarinya Richard yang merah dan sedikit ada darah yang keluar dari jari itu. Dia pun menarik tangannya Richard lalu menghisap jemarinya untuk mencegah aliran darah yang semakin banyak.


Nampak raut wajah penyesalan dari wajahnya Raisa atas tingkah refleks pujaan hatinya tadi. Ia malahan tersenyum melihat wajah khawatir dan ketakutan yang terpancar dari wajahnya Raisa.


"Sudah, enggak apa-apa kok tidak sakit juga," tuturnya agar Raisa berhenti menghisap telunjuknya.


Delisha berhenti melakukan hal tersebut sesuai perintah dari Abi.


"Maaf yah Abang, aku tidak sengaja," ujar Delisha dengan sangat menyesal atas reaksi refleksnya.


Semenjak kejadian beberapa tahun lalu yang disebabkan oleh Abimanyu juga, Delisha sering bereaksi tak terkendali.


Mungkin trauma yang dia rasakan membuatnya kadang kala melakukan tindakan yang membuat dirinya dalam keadaan bahaya.


"Maaf Rausa tidak sengaja, ia pikir Abang akan menyakiti Delisha," terangnya dengan sendu penuh penyesalan.


Raisa membalas pelukan dari calon suaminya dengan buliran air matanya yang sudah membasahi pipinya.


"Abang tidak merasa disakiti, jadi stop yah dan Abang tidak ingin melihat Raisa menangis lagi, mulai detik ini Abang akan marah jika Raisa menangis," sembari menghapus air matanya Raisa yang mengalir membasahi pipinya.


Raisa menganggukkan kepalanya dan setuju dengan permintaan dari Richard tersebut.

__ADS_1


"Sudah nangisnya, ayo sana mandi, apa Kamu lupa kalau kita akan pergi bersama Rei?' tanyanya yang memberikan senyuman yang hangat untuk Raisa.


"Makasih Abang, aku mandi dulu kalau gitu, Abang nunggunya di bawah saja, gak enak sama yang lain kalau kita berduaan di dalam kamar," jelasnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Richard pun berjalan ke arah luar dan tidak lupa menutup rapat pintu kamarnya Delisha calon istrinya. Ia tersenyum mengingat apa yang terjadi barusan bersama dengan Ibu dari anaknya.


"Mungkin sebaiknya aku jujur sama dia kalau sudah nikah, aku takut jika dia tahu lebih duluan takutnya dia akan trauma dan menolak pernikahan kami," batinnya Richard.


...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Dilema Diantara dua pilihan...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...

__ADS_1


...8. Hanya Sekedar Baby Sitter...


...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......


__ADS_2