Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Chapter. 37. Setuju


__ADS_3

"Nenek hanya bisa berdoa untuk kebahagiaanmu cicitku, nenek sangat ingin melihatmu bahagia dengan pria yang sangat mencintaimu," batin Neneknya.


Semua anggota keluarga besarnya berharap Raisa menemukan cinta sejatinya kelak, dan Reinhard bisa bahagia bersama dengan Papi sambungnya.


Hari ini, Raisa sudah memutuskan untuk segera menemui pria yang sudah dipilihkan oleh Keluarganya, bakal menjadi calon suaminya nanti.


Raisa tidak ingin membuat kecewa keluarganya dan juga dia ingin keluarganya lengkap. Rei bisa mendapatkan Ayah sambung, walaupun hingga detik ini pencariannya tentang ayah biologis putranya belum diketahui rimbanya.


Setelah menempuh beberapa jam lamanya, pesawat pribadi yang ditumpanginya sudah mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta.


Tanpa istirahat atau singgah ke tempat lain, dia langsung bertolak ke tempat pertemuan yang sudah ditentukan oleh Richard Meiyer lewat pesan singkat yang dikirim ke nomor hpnya Raisa.


Seharusnya dia beristirahat sejenak di kediamannya,tetapi dia tipe perempuan yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan selama dirinya sanggup untuk melakukannya.


Dia mengemudikan mobilnya seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun juga. Sedangkan Aisyah menuju rumah sakit tanpa sepengetahuan siapa pun juga.


Dia sudah memiliki janji ketemu dengan Adams untuk melakukan tes DNA terhadap Reinhard dan Richard agar dugaan dan bukti yang mereka dapatkan beberapa hari ini bisa menguatkan lebih jelas lagi.


"Semoga hasilnya sesuai dengan dugaanku bahwa dia adalah Ayah kandungnya Tuan Muda," gumam Aisyah yang sedang di jalan akan ke rumah sakit.


Mobilnya sudah memasuki area Rumah Sakit. Dia sudah berjalan ke arah Ruangan khusus untuk melakukan prosedur tes tersebut. Dia juga sudah memerintahkan untuk mengambil sampel darahnya Rei serta milik pria Richard.


Kalau masalah tersebut bagi Adams bukanlah rintangan yang berarti dan halangan untuk melakukannya Sedari dahulu seperti itu lah pekerjaan yang dilakoninya hingga sekarang menjadi asisten pribadinya Yudha sekaligus orang paling dipercayai oleh keluarga besarnya.


Awalnya langkahnya sangat pasti, hingga tersisa beberapa meter dari tempatnya berdiri tiba-tiba langkahnya dia hentikan.

__ADS_1


"Apa aku harus bertemu dengannya lagi, aku harus bilang apa padanya? Kalau dia bertanya lagi mengenai jawabanku," lirih Raisa yang nampak kebingungan sendiri dengan sikapnya.


Ada kebimbangan dan keraguan yang dihadapinya saat langkahnya semakin mendekati tempat tersebut. Antara melihat kebahagiaan putra semata wayangnya dengan balas dendam kepada pria yang tidak lain adalah ayah biologis dari Reinhard.


Dia memegang handle pintu itu dan berniat ingin memutar knop pintunya, tapi kembali ia mengurungkan niatnya itu.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya lalu meraih gagang pintu untuk memantapkan hatinya.


Tapi pegangannya sedikit terlambat karena ada seseorang yang lebih duluan membuka pintu tersebut. Sehingga terbuka lebar lah pintu itu dan memperlihatkan wajah seseorang yang sudah hampir 7 tahun dia tidak temui sekalipun.


Mereka saling menatap, berdiri mematung tanpa ada suara dan tidak ada yang ingin berinisiatif terlebih dahulu membuka percakapan mereka.


Mereka sama-sama sibuk saling bertatapan satu sama lainnya. Mereka meresapi rasa rindu yang membuncah di dalam dadanya. Saling menyalurkan kerinduan yang terpendam di dalam ruangan hampa di dalam lubuk hatinya yang paling terdalam.


"Aisyah," hanya kata itu yang meluncur dari bibirnya.


Senyuman itu tulus dan hangat diberikan oleh Dokter Rizaldi untuknya. Ada berbagai rasa yang tiba-tiba hadir di saat tatapan mata mereka saling berbicara, hingga suara seseorang yang memanggil namanya mampu memutuskan kontak mata mereka.


"Mas!!"


Aisyah menatap ke arah pemilik suara seorang perempuan yang memanggil nama Rizaldi dengan sebutan Mas.


Aisyah bergantian menatap perempuan itu dengan Rizal.


Seakan-akan Aisyah melempar sebuah pertanyaan yang ingin mengetahui siapa perempuan itu.

__ADS_1


Perempuan itu terus berjalan hingga ke samping Rizaldi lalu mengalungkan tangannya ke lengan panjang Rizaldi.


"Mas kok lama banget sih, sedari tadi aku nungguin Mas loh, apa Mas gak kasihan dengan calon bayi kita," ujarnya sembari mengelus perutnya yang sudah sedikit buncit itu.


Aisyah langsung bergerak mundur setelah mendengar penjelasan dari bibir wanita cantik itu. Bibirnya bergetar, gejolak di dadanya bergolak. Dia tidak menyangka jika pertemuannya kali ini menegaskan hubungan mereka untuk kedepannya.


Mampir dong dinovelku yang lain dengan judul:



Pesona Perawan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Dilema Diantara dua pilihan


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


__ADS_2