Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 76. Alasan Maxy Merajuk


__ADS_3

Mirah menatap ke arah putra sulungnya dengan ramah, "sayang kok enggak mau makan, emangnya ada apa? Apa Mommy boleh tahu?" tanyanya yang pura-pura tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka.


Macy yang biasanya irit bicara pas ditanya langsung menyahut saja dan tanpa basa-basi lagi.


"Ini semua gara-gara dia Moms, aku gak suka kalau dia terlalu ramah sama pria lain," jawabnya dengan wajahnya yang cemberut ke arah Camelia.


Camelia yang mendengar perkataan dari mulutnya Maxy spontan menutup mulutnya saking terheran heran dengan penuturan Maxy.


"Ya Allah…, Bapak eeehhh Tuan Muda maksudnya senyum itu ibadah loh Tuan Muda jadi sewajarnya lah saya membalas senyuman mereka," ujarnya Kamelia.


Ia yang tidak menyangka jika hanya karena itu Maxyl mogok makan dan minum obatnya. Maxy seperti anak kecil saja yang merajuk.


Yudha hanya jadi pendengar setia dan tidak ingin menimpali percakapan mereka yang menurutnya putranya terlalu posesif dan tinggi rasa cemburunya itu.


"Maxy! putranya Mommy, wajar dong Camelia tersenyum ramah pada semua pasiennya, kalau gak ramah bisa-bisa pasiennya tambah sakit dan satu hal yang perlu kamu tahu jika kamu tidak ingin melihat hal itu, segera dihalalkan toh," terang Mirah yang menutup pembicaraannya dengan senyuman.


Camelia yang mendengar perkataan dari Mirah tersedak kemudian batuk-batuk. Dia terlalu shock mendengar perkataan dari istri seorang pengusaha sukses.


Maxy meraih gelas yang berisi air putih lalu menyodorkan segelas air putih tersebut ke arah Camelia. Sedangkan Camelia tanpa pikir panjang mengambil gelas tersebut tanpa banyak pikir lagi.


"Mommy pamit dulu soalnya masih ada yang perlu Mommy sama Daddy urus, ingat obatnya harus diminum jangan seperti anak kecil dong sayang kalau kamu ingin cepat nikah," terangnya sembari mencium kening putranya itu.

__ADS_1


Mirah masih sering memperlakukan seperti itu kepada semua anak-anaknya, padahal mereka sudah besar.


"Hati-hati Moms, Dad, aku selalu sayang kalian," ucapnya.


Mirah sebelum keluar dari ruangan perawatan dia tersenyum lalu menatap ke arah Camelia lalu berkata, "Camelia, Mommy minta tolong jaga putra Moms yah, kalau masih ngeyel gak mau minum obat pukul saja."


Maxy hanya tersenyum saat Mirah berkata seperti itu kepada putranya. Maxy bangga pada kedua orang tuanya karena mereka tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Bahkan selalu ada disetiap anak-anaknya membutuhkan mereka disisinya.


Mereka bergandengan tangan saat mereka berjalan di koridor rumah sakit. Semakin tua mereka semakin memperlihatkan kemesraan mereka di depan umum. Berbanding terbalik waktu mereka masih baru-baru menikah.


"Kalau menurut Mas, apa Camelia perempuan yang cocok menjadi pendamping hidupnya Maxy?" Tanyanya saat mereka berjalan ke parkiran mobil.


"Heeemm, kalau menurut Daddy dia gadis yang baik, ramah, penyayang, sopan walaupun statusnya sudah janda," jelasnya.


Martin ikut tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang menurutnya tidak biasanya jika membahas masalah cucu.


"Mommy ingin cucu perempuan Dad, pasti asyik dibawa ke arisan," ucapnya yang membayangkan jika dia punya cucu perempuan.


"Berdoa saja semoga apa yang Mommy inginkan segera terkabul dan jadi kenyataan," timpalnya Yudha.


"Amin ya rabbal alaamin," sahutnya Mira.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, Richard dan Maxyvsudah dinyatakan bisa keluar dari Rumah Sakit. Camelia dan putrinya Ica ikut bersamanya.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Diantara Dua Pilihan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Pelakor Pilihan


Aku hanya sekedar baby sitter


Cinta Ceo Pesakitan


Tetanggaku Idola Suamiku


__ADS_1


Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


I love you all Readers…


__ADS_2