Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Chapter 30. Reinhard Diantar Pulang


__ADS_3

Pagi harinya, Rexy belum muncul juga setelah kepergiannya kemarin sore hari itu. Hingga Richard dengan penuh keikhlasan menjaga dan merawat Rei hingga kondisinya sudah berangsur membaik dari sebelumnya. Tanpa mengeluh sedikit pun.


Richard baru saja keluar dari kamar mandi bersamaan dengan kedatangan Tim dokter terbaik yang menangani kesehatan Lee.


Richard perlahan berjalan ke arah Dokter dan berencana ingin bertanya tentang perkembangan dan kemajuan keadaan dari Reinhard


"Pagi Dok," sapanya Richard di depan beberapa Dokter dan Perawat..


Dokter yang disapa segera berbalik badan saat mendengar suara bariton dari Richard.


"Pagi juga Tuan," balasnya dengan tersenyum ramah pula.


"Dokter bagaimana dengan kondisi putraku?" Tanyanya yang kembali melupakan hubungan apa sebenarnya dengan Rei.


Richard tidak memikirkan apa yang barusan meluncur dari bibirnya, perkataan itu refleks terlontar begitu saja.


Richard sering melupakan hubungan mereka yang sebenarnya jika berhadapan dengan Reinhard yang mampu merubah dan menghipnotis dirinya dengan tingkah dan sikap polosnya Rei.


"Ya Allah kenapa akhir-akhir ini, Saya sering salah menyebut namanya, apa yang terjadi padaku?" Batinnya Richard.


"Alhamdulillah kondisi putra Bapak sudah baikan dan hari ini juga sudah bisa pulang ke rumah," terangnya sembari memasukkan alat stetoskop ke dalam saku baju almamater kebesarannya.


"Syukur Alhamdulillah kalau gitu Dok," balasnya.


Rich kembali terdiam ketika pintu kembali tertutup saat para Tim dokter sudah meninggalkan ruangan tersebut.


Pikiran itu dua hari ini sering dia pikirkan. Entah apa yang terjadi padanya jika berhadapan langsung dengan Rei


Dia akan begitu banyak bicara, sering bercanda dan tersenyum. Seakan-akan kesulitan dan masalah yang dihadapinya akan terlupakan sesaat.


"Sepertinya Aku harus segera menghubungi nomor hpnya Rexy untuk segera datang ke sini menjemput Rei," dia merogoh hpnya yang berada di dalam kantong celananya.

__ADS_1


Tut.. Tut.. Tut..


Berulang kali Richard menghubungi nomor hpnya pamannya Rei, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Hingga Richard lelah untuk menelpon Rexy kembali lagi.


Richard segera menelpon nomor asisten pribadinya yaitu Kemal Palevi Muhammad.


"Semoga pria galau ini mengangkat teleponnya," umpat Richard.


Setelah telepon tersambung tanpa basa-basi lagi dia menyampaikan hal penting yang diinginkan oleh Richard.


"Kemal tolong segera ke Rumah Sakit dan jangan lupa bawa pakaian ganti untuk saya dan juga Reinhard," jawabnya yang tidak ingin dibantah ataupun mendengar komentar lagi dari asistennya itu.


Kemal belum berbicara apa pun, CEO tempat dia bekerja sudah memutuskan dan mematikan sambungan teleponnya.


"Alhamdulillah, untung saja si bos melupakan tentang pencarian identitas asli dari bocah itu sehingga aku masih bisa terselamatkan, kalau tidak bisa-bisa gaji dan bonus ku di sunat," jawabnya sembari melihat ke arah layar hpnya yang sudah mati.


Kemal segera berjalan ke arah luar Ruangan Kantornya. Dia segera melaksanakan perintah dari atasannya itu. Dia tidak ingin terlambat melaksanakan perintah dari orang nomor satu dari Perusahaan tempat dia bekerja.


Reinhard duduk di dalam kursi roda. Awalnya ingin digendong oleh Richard tapi, dia menolaknya dengan halus. Richard mendorong kursi rodanya Rei lalu berjalan ke arah Loby RS untuk menunggu mobil yang akan mengantar mereka pulang ke kediaman Kakeknya Rei.


Siapa pun yang melihat mereka, pasti akan mengira jika mereka adalah anak dan ayahnya. Tetapi, mereka berdua tidak ada yang mengetahui dan menyadari hal tersebut.


Kemal semakin mempercepat langkah kakinya ke arah tempat Richard berada. Nafasnya ngos-ngosan saking lelahnya berlarian.


Dia menundukkan tubuhnya dengan memegang ke dua lututnya. Dia melakukan hal itu bertujuan agar kondisinya kembali seperti semula.


Ricard hanya menautkan kedua alisnya melihat tingkah laku Kemal yang selalu bisa diandalkan. Asisten pribadinya sekaligus udh seperti adiknya sendiri dimatanya Richard.


"Maafkan saya Bos!!, terpaksa harus terlambat datang, Lumayan hari ini macet di jalan luar biasa Bos," jelasnya yang kelelahan berlari agar tidak mendapatkan teguran dan omelan yang bisa berujung pada pemotongan bonusnya.


"Tidak apa-apa, Kamu ke dalam kamar perawatan Lee dan periksa semua barang-barang yang masih tertinggal," ujarnya sebelum masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Terlebih dahulu Abi menggendong tubuh kecil Lee di dalam mobil dengan penuh kehati-hatian.


"Makasih banyak Uncle Rich," jawabnya.


"Sama-sama Boys," dengan senyuman yang tulus dipersembahkan oleh Richard hanya untuk Rei seorang.


Kemal sudah meninggalkan Loby RS sedangkan sebuah mobil dengan tipe XF Land sudah berbaur dengan pengguna jalan lainnya. Mobil itu meluncur di jalan aspal dengan pelan.


Perjalanan mereka cukup lancar tanpa adanya kendala dari kemacetan yang biasanya terjadi di jalan raya.


Richard sudah bertanya sebelumnya pada Lee, alamat rumah Papa Yudha. Sehingga supir pribadinya menuju jalan yang dimaksud, dengan tepat hingga terhindar dari kesasar dan salah alamat.


Richard masih fokus dengan hpnya karena ada beberapa pesan chat penting dari relasi bisnisnya. Hingga tidak menyadari jika mobilnya sudah terparkir di depan kediaman Yudha Lee Atmadja.


Rei segera menyadarkan Richard dengan cara menggoyangkan tangan kanannya Richard.


"Uncle Rich stop!!! Berhenti di depan Uncle kita sudah sampai di depan rumah Kakek," pekik Rei.


Richard segera menginjak pedal remnya untuk menghentikan laju mobilnya, ia menatap ke arah Rei setelah baru menyadari jika mereka sudah tiba di hadapan Kediaman Martin.


Richard segera turun ke bawah tanpa menjawab perkataan dari Rei. Dia menggendong tubuhnya Rei dengan dibantu oleh supir untuk ikut menurunkan kursi rodanya Rei. Untuk sementara waktu dia pakai selama masih dalam proses penyembuhan.


"Sayang apa benar ini rumahnya Kakeknya Rei?" Tanyanya dengan menatap dengan penuh kasih sayang.


"Uncle Ash's words are very true."


"Kalau gitu kita masuk saja yuk," jawabnya dengan kembali mendorong kursi roda milik Rei.


Sedangkan beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu, berjalan ke arah pintu setelah mendengar suara decitan pintu dan tidak ingin membiarkan orang itu terlalu berlama-lama di luar.


Pintu lebar dan menjulang tinggi itu terbuka dengan lebar dari arah dalam. Mereka terkejut melihat siapa pria yang menggendong tubuh kecil Rei.

__ADS_1


Syukur alhamdulillah atas dukungannya terhadap Cinta dan Dendam..


Tetap Dukung CdD Cinta dan Dendam dengan cara: like setiap bab Updatenya, komentar, Favoritkan untuk dapat Notifikasi Updatenya setiap hari, Rate Bintang 5 dan Giftnya seikhlasnya yah..


__ADS_2