Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 62. Dendam, Sedih Cinta Menjadi Satu


__ADS_3

"Ya Allah… aku mohon bukanlah pintu maafnya Raisa untukku, dan sadarkan lah dia jika aku sangat mencintainya dan siap menjadi imam dalam hidupnya dan mendampinginya dalam keadaan apapun itu, jangan biarkan dia memiliki rasa dendam untukku," batinnya Richard.


Suasana di dalam Resto sudah nampak mulai sepi. Seorang pria masih dalam keadaan yang seperti dua jam sebelumnya.


Richardi masih berlutut seperti sebelumnya. Rasa lelah, capek pasti sudah sangat dia rasakan. Tetapi, demi menerima dan mendengar langsung dari mulutnya Delisha. Jika dia dimaafkan dia sama sekali tidak peduli dengan kesakitan yang dia rasakan.


"Ya Allah… aku mohon bukalah pintu maafnya Raisa untukku, dan sadarkan lah dia jika aku sangat mencintainya dan siap menjadi imam dalam hidupnya serta mendampinginya dalam keadaan apa pun itu," batin Richard.


Di dalam sebuah Mushollah yang terletak di dalam mall tersebut, Raisa melaksanakan shalat wajib dan sunnahnya dengan sepenuh hati dan khusyu.


Tak lupa meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala kegundahan dan kegelisahan hatinya.


Dia tidak memungkiri, jika di dalam hatinya sudah terukir namanya Richard. Tapi ketakutannya turut andil dalam memilih jalan yang terbaik untuk masa depannya.


Rasa amarah, dendam dan bayang-bayang masa lalunya selalu hadir menghantui pikiran dan hatinya.


"Ya Allah… aku sangat marah dengan sikapnya waktu itu, hingga detik ini aku belum mampu untuk memaafkannya, tapi bagaimana dengan perasaannya putraku Rei jika dia mengetahui kalau aku sangat membenci papi kandungnya, Pria yang telah menghancurkan masa depanku," gumam Raisa di sela doanya.


Disaat sujud terakhirnya tadi, wajah Lee terbayang, seakan-akan putranya berbicara padanya, "Mami Rei sangat bahagia punya Papi, Rei janji tidak akan sedih lagi."


Hingga detik ini ucapan anaknya terngiang-ngiang di telinganya. Raisa menghabiskan waktunya di dalam Mushola selama berjam-jam. Dia kesana sekitar jam setengah empat dan keluar setelah ba'da isya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya sambil melangkah ke arah luar Mushola.


Raisa berjalan perlahan dan pelan ke arah Restoran yang tadi siang mereka tempati lunch. Suasana dalam Mall semakin ramai. Dia berjalan dengan langkah yang kecil, tapi tanpa sengaja telinganya menangkap suara seseorang yang berbicara tentang Abimanyu yang masih berlutut hingga detik ini.


"Itu tidak mungkin Abang bisa bertahan untuk terus berlutut dari jam 3 sore dan sekarang hampir jam delapan," lirihnya dengan senyum simpulnya.


Langkahnya semakin dekat ke Resto dan entah kenapa Raisa penasaran ingin melihat apakah yang dikatakan orang-orang benar adanya atau hanya kabar angin semata saja.


Langkah kakinya langsung terhenti saat melihat kalau Raisa masih berada di tempat semula dengan berlutut.


"Terbuat dari apa hatimu Abang? orang-orang sudah mengambil gambarmu hingga mereka saling berbisik-bisik, tapi sedikit pun tidak membuatmu goyah sedikitpun," cicit Raisa yang menggelengkan kepalanya melihat aksi nekatnya Richard.


Raisa mengambil posisi tempat duduk yang sedikit menjauh dari sana. Dia berniat mengamati langsung sampai sejauh mana pria yang melamarnya dan papi kandung putranya bertahan untuk memperjuangkan dirinya.


Raisa melirik jam yang ada di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul kurang 15 menit jam 9. Pengunjung Mall pun sudah mulai berkurang.


Bodyguardnya memberikan kode kepada Richard, jika Raisa berada tidak jauh dari tempatnya sedang menikmati beberapa dessert khas di Restoran tersebut. Richard tersenyum smirk ketika mengetahui hal itu.


Raisa sudah menguap dan mengantuk. Dia kembali melihat ke arah jamnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tetapi, Richard hanya tersenyum penuh arti.


"Aku yakin kamu akan luluh juga dan menerima permohonanku dengan semua yang aku lakukan saat ini," gumam Richard yang sesekali melirik sekilas ke arah Raisa calon istrinya.

__ADS_1


Bagi Abi berlutut seperti ini sudah biasa, apalagi tadi asisten pribadinya Nathan datang dan memaksanya untuk memakai alat khusus di lututnya agar tidak lecet dan terluka.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Diantara Dua Pilihan


Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar


Pelakor Pilihan


Aku hanya sekedar baby sitter


Cinta Ceo Pesakitan


Tetanggaku Idola Suamiku


__ADS_1


Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


I love you all Readers….


__ADS_2