Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 93. Kembali Terulang Seperti Lima Tahun Lalu


__ADS_3

Rexy tidak mengerti kenapa tiba-tiba Mutia terdiam bagaikan patung, hanya suara sesegukannya yang mampu terdengar hingga ke gendang telinganya Rexy. Raut wajahnya penuh keheranan dan penuh tanda tanya.


"Adek apa yang terjadi katakan pada Abang?" Tanyanya yang berusaha membujuk Mutiara untuk membuka mulutnya dan berterus terang kepadanya.


"Abang maafkan adek yang tidak bisa menjaga putri kecil kita," jawabnya dengan lelehan air matanya yang sedari tadi terus menetes.


"Tolong bicara yang jelas, jangan buat Abang ketakutan dan berpikir yang tidak-tidak," tuturnya yang sudah memohon kepada Mutia dengan menciumi genggaman tangannya.


Mutiara pun menjelaskan secara detail dari apa yang terjadi dengannya dan juga putri cantik mereka. Air matanya semakin deras saja di sela penjelasannya. Rexy yang mendengar penjelasan dari Mutia pun ikut bersedih dan menyesali perbuatannya itu.


"Apa kamu sudah mengecek dengan baik rumah orang itu jangan sampai dia sudah kembali ke rumahnya?" tanyanya.


"Aku sudah tiga kali ke sana Abang tapi hasilnya nihil mereka belum juga pulang," ujarnya dengan wajahnya yang sendu.


"Bagaimana kalau kita ke sana hari ini?" tanya Rexy yang memberikan usulan untuk segera bertindak dan kembali mencari informasi tentang perempuan yang mengadopsi anaknya.


"Ayo Abang sebaiknya kita segera kesana karena aku dapat feeling kalau kita akan menemukan sedikit keterangan dari sana," terang Mutua lalu menarik tangannya Rexsy menuju tempat mobilnya berada.


Mereka bergandengan tangan hingga ke tempat mobil. Mereka berdua bagaikan anak remaja yang baru mengenal cinta saja. Padahal mereka sudah memiliki seorang putri yang sangat cantik.


"Ya Allah… semoga firasatku benar adanya jika kami akan mendapatkan jawaban keberadaan putriku,amin," mutiara membatin.


Rexy memperlakukan Mutiara bagaikan Tuan Putri saja. Rexy membukakan pintu mobil lalu memasangkan seatbelt ke tubuhnya Mutiara. Sedangkan ia yang diperlakukan spesial dan sangat istimewa itu hanya tersenyum kegirangan saking bahagianya hingga melupakan kakeknya.


Tapi, tanpa sengaja hidung mancung mereka saling bersenggolan. Tatapan mata mereka saling bertemu. Hingga tanpa disadari keduanya bibir mereka saling menyentuh dan akhirnya saling meresapi satu sama lainnya.


Rexy memegang tengkuk lehernya Mutiara dengan pelan dan lembut. Dia mulai memperdalam ciumannya hingga saliva mereka saling bertukar satu sama lainnya.


Perlahan tapi pasti tangannya Rexy menyelusup masuk ke dalam pakaiannya Mutia. Sedangkan Mutia yang mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam saja menanti apalagi yang akan diperbuat oleh Rexy di atas tubuhnya.


Tangannya terus menelusup menyusuri gundukan dua puncak gunung Bromo terindah dengan sentuhan yang sangat lembut. Nafas mereka ngos-ngosan hingga saling melepaskan ciumannya.


Rexy menatap nanar ke arah Mutia seakan pandangannya mengisyaratkan jika dirinya menginginkan lebih. Mutia hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Aku sangat merindukanmu sayang, aku tidak mampu menahannya lagi untuk melanjutkan permainan kita," racau Rexy yang tangannya bergerilya ke sana kemari menyusuri puncak gunung Bromo satu persatu dengan tangannya sedangkan bibirnya mengecup dengan penuh kelembutan seluruh tubuhnya Mutiara.

__ADS_1


Rexy mengatur terlebih dahulu kursi mobilnya agar mereka lebih nyaman dan leluasa untuk bergerak dan melanjutkan perjalanannya yang baru separuh jalan.


Tak terasa semua pakaian yang membungkus tubuh mereka sudah terlepas dan teronggok di atas lantai mobil. ******* dan lenguhan mewarnai ruangan mobil tersebut.


Rexy yang hampir lima tahun berpuasa sore itu menuntaskan semuanya bersama kekasih pujaan hatinya. Walaupun keluarga mereka sama-sama saling bermusuhan.


Hingga sekitar satu jam kemudian, mereka menyudahi permainan mereka setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan indahnya surga dunia. Rexy mengecup kening Mutiara setelah mereka selesai melakukan hubungan intim.


Mutiara sedari tadi tersenyum malu-malu, wajahnya merona memerah menahan rasa gugupnya. Dia mengecup sepintas bibirnya Rexy.


"Aku sangat suka dengan perlakuan dan gayamu sayang, aku sangat mencintaimu dan bahagia bisa melakukannya lagi denganmu," ujarnya Mutiara lalu meraih pakaiannya untuk segera dia pakai lagi.


"Apa yang kamu rasakan aku pun merasakannya, aku sangat bahagia bisa menikmatinya lagi bersama wanita yang paling aku sayangi di dunia ini," tuturnya Rexy.


Setelah itu, Mereka menuju alamat rumah perempuan yang mengangkat anaknya. Rexy sedari tadi memegang tangannya Mutiara dan sesekali mencium punggung tangannya. Ia yang diperlakukan sangat istimewa oleh kekasihnya membuat dirinya seakan ingin terbang melayang hingga ke langit tingkat tujuh.


"Sayang kalau aku hamil lagi gimana?" Tanyanya Mutia sambil menatap ke arah Rexy yang serius mengemudikan mobilnya.


Rexy melirik sepintas lalu dia menjawab pertanyaan dari Rexy," aku akan segera menikahimu setelah putri kita ketemu walaupun kakekmu melarang kita," jelasnya dengan mantap.


Sedangkan di tempat lain, seorang Tuan besar melempar semua barang-barang yang ada di hadapannya yang mampu dijangkaunya.


Wajahnya penuh amarah, matanya memerah dan kedua bola matanya membulat sempurna. Hingga urat syaraf di tangannya begitu menonjol saking marahnya yang tidak bisa terbendung lagi.


Beberapa ajudan, bodyguardnya serta asisten pribadinya tidak ada yang berkutik dan tidak mampu untuk berkata apapun jika tidak nyawa mereka yang menjadi taruhannya.


Mereka hanya berharap semoga kemarahan junjungannya tidak berimbas keselamatan nyawa mereka yang kebetulan ada di sana.


"Yuda!! segera persiapkan pesawat kita akan kembali ke Indonesia sekarang juga," teriaknya ke arah Yuda yang berdiri tidak jauh dari Tuan Nurman.


"Sampai kapan pun aku tidak akan merestui hubungan kalian hingga maut menjemput ku pun aku tidak akan sudi bahkan hingga ke kehidupan selanjutnya aku tidak akan merestui kalian dan sebaiknya pria itu harus mati ditanganku."


Gelas yang di dalam genggamannya pecah hingga tetesan darah segar terjatuh ke atas lantai.


Didalam sebuah rumah yang lebih layak disebut istana. Seorang pria yang sudah sangat tua sedang duduk berhadapan dengan perempuan yang tidak kalah jauh dari usianya. Mereka membicarakan tentang nasib dan kehidupan cicit mereka.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan siapa wanita yang akan jadi pendamping cucuku, aku akan mengerahkan segala kekuatan dan kemampuanku untuk melindungi semua keturunan Horne dan Lee sampai kapan pun, jadi kamu bersabarlah dan tenanglah mereka akan aman di bawah perlindunganku," jelas Tuan Besar Luis Horne.


Nenek Masitha yang mendengar perkataan dari besannya sedikit bisa bernafas lega. Nenek Masitha segera terbang ke USA setelah secara tidak langsung mendengar perkataan Aisyah dengan seseorang lewat telepon.


Nenek Masitha tidak ingin menunda hal tersebut agar apa yang ditakutkannya tidak menjadi kenyataan.


"Charleston!!, siapkan persiapan segera kita akan berangkat ke Jakarta." Perintahnya dengan nada suara yang tegas.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pesona Perawan


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..

__ADS_1


__ADS_2