
Ada seseorang dari balik tembok yang sedari tadi merekam aktivitasnya mereka dari awal mereka bertemu hingga detik ini. Orang itu tersenyum licik sembari berkata,"aku dapat kartu as untuk menjatuhkan keangkuhan Kakekmu dan keluarga besar kalian akan kembali berperang," umpatnya dengan senyuman liciknya itu.
Dia mengirim hasil rekamannya ke nomor asisten pribadinya Tuan Besar Nurman dan Tuan Besar Luis. Tujuan orang itu tidak lain ingin kembali mengadu domba mereka seperti yang dulu dia lakukan.
"Aku yakin mereka akan kembali bertarung dan pertumpahan darah akan kembali terulang seperti lima puluh tahun lalu." Senyuman liciknya selalu menghiasi wajahnya.
Biiippp…
Bunyi hp Pak Yuda selaku kaki tangan kepercayaan dari Nurman kakeknya Mutiara bergetar di atas meja. Membuat pandangan semua orang yang sedang meeting di Tokyo Jepang itu melihatnya dengan pandangan mata yang berbeda-beda. Pak Yudha penyebab dari hal tersebut segera meminta izin dan keluar dari ruangan meeting mereka.
"Siapa orang yang telah berani mengusik pekerjaan kami?" Tanyanya yang tidak mengetahui dengan siapa orang yang telah mengirimkan pesan chat tersebut.
Matanya terbelalak sempurna saat melihat isi dari video tersebut, "Ini pasti hanya rekaman editan dari seseorang yang tidak bertanggung jawab, aku yakin itu."
Pak Yudha kembali memeriksa secara detail rekaman video itu dengan berulang kali hingga dia yakin dengan apa yang diketahui tentang isi dari video tersebut.
"Bagaimana kalau Paman mengetahui apa yang dilakukan Mutiara bersama dengan cucu dari musuhnya pasti hal ini akan menjadi musibah besar lagi," ujarnya yang sangat ketakutan dan khawatir dengan nasibnya Mutia sendiri.
Pak Yudha melupakan jika tembok pun memiliki telinga untuk mendengar. Pak Yuda berniat untuk menghancurkan bukti tersebut dan tutup mulut tetapi ternyata orang misterius yang mengirimkan video itu juga mengirimkan video tersebut ke nomor hpnya Tuan Besar Nurman.
"Semoga saja Paman tidak mengetahui semua yang dilakukan oleh Liora jika dia tahu aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada nasibnya Mutia dan putri kecilnya," Pak Yudi membatin.
__ADS_1
Sedangkan di belahan dunia lainnya, Rexy masih bersama dengan Mutiara. Mereka duduk di taman sekolahnya Ica sambil menunggu sunset datang menyapa. Mereka duduk berdampingan dengan kepalanya Mutia bersandar di pundaknya Rexy. Sedangkan tangan mereka saling menggenggam satu sama lainnya.
"Maafkan Abang! Abang yang tidak berada disampingmu untuk menemani kamu saat hamil dan melahirkan putri kita," tuturnya Rexy sembari memandangi indahnya cahaya matahari sore itu dengan genggaman tangannya yang saling bertautan dengan tangannya Mutia.
"Adek sangat mengerti dengan apa yang terjadi pada Abang, semua ini juga terjadi karena kesalahanku yang menuruti permintaan kakek untuk menjebak Raisa, adek yang seharusnya meminta maaf pada Abang," terangnya yang sangat menyesali keputusannya dulu raut wajahnya sendu.
"Sudah jangan ungkit masa lalu, karena hanya akan berakhir dengan penyesalan yang tidak bertepi," timpalnya yang merasa bahagia dengan apa yang mereka lakukan dikala senja itu.
"Apa aku boleh bertemu dengan putriku?" tanya Rexy dengan penuh harap sambil mencium punggung tangan Liora.
Mutiara yang ditanya hanya mampu terdiam. Dia terdiam sesaat seolah-olah tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari Rexy Ayah dari putrinya yang menghilang dan maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Rexy untuknya.
Rexy yang tiba-tiba melihat wajah sendu dari kekasihnya itu, tidak mengerti karena menurutnya permintaannya adalah hal yang wajar saja dia ungkapkan karena dia adalah ayah biologis dari anaknya.
"Adek apa yang terjadi pada putriku katakan padaku, please!!" pinta Rexy yang sudah khawatir dengan hal itu apalagi melihat Mutia yang terdiam dan menundukkan kepalanya.
Rexy memegang dagunya Mutia dan mengangkat perlahan agar ia bisa melihat wajahnya Mutia. Tapi, tiba-tiba air matanya menetes membasahi pipinya, dia sesegukan dalam tangisnya. Rexy yang melihat hal itu, tidak mengerti dengan apa yang terjadi sehingga membuatnya semakin bingung saja.
"Mutia sayang, apa yang terjadi kepada anakku, tolong bicaralah!" Rengek Rexy dengan memegang kedua puncak pundaknya Mutiara.
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
__ADS_1
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Cinta dan Dendam...
...3. Pelakor Pilihan...
...4. Hanya Sekedar Pengasuh...
...5. Cinta ceo Pesakitan...
...6. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
...7. Menggenggam Asa...
...8. Cinta Kedua CEO...
...9. Kau Hanya Milikku...
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
__ADS_1