Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Chapter. 40. Acara Lamaran


__ADS_3

"Semoga dia bisa menjadi papinya Reinhard yang penuh tanggung jawab, dan menerima putraku seperti putranya sendiri." Harapannya yang sangat besar itu.


Jalan malam itu cukup padat, dikarenakan banyaknya jumlah mobil yang memadati jalan raya. Seperti itulah biasanya, jalan protokol ibu kota sudah berlangganan dengan macet.


Beberapa saat kemudian, Richard sudah sampai di depan pintu rumah keluarga besar Yudha calon mertuanya.Beberapa orang terlihat masing-masing membawa barang-barang seserahan lamaran.


Dengan berbagai barang seserahan lamaran dari berbagai macam, jenis, model, dan mereknya. Barang itu sudah berjejer dengan rapi di dalam tangan beberapa anak buahnya.


Senyuman diwajahnya Richard, tidak pernah pudar. Dia sudah tidak sabar ingin menikahi gadis kecilnya itu.


Richard perlahan menekan bel, berulang kali dia tekan barulah pintu itu terbuka. Mbak Wati yang bertugas untuk membuka pintu itu dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Mulutnya menganga, matanya terbuka lebar saat menyadari jika calon suami dari Nona Mudanya sudah datang melamar.


Richard belum membuka mulutnya untuk berbicara sepatah katapun, Mbak Wati segera berlari ke arah dalam. Dia segera berlari ke arah kamarnya Nyonya Muda Mirah.


Nenek Masitha yang melihat Mbak Wati berlarian hanya menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan ke arah pintu, Beliau mengetahui kedatangan Richard.


Richard menyambut kedatangan Nenek Masitha dengan segera meraih tangannya untuk segera dia cium punggung tangannya.


"Sudah lama nak?" Tanyanya dengan seulas senyum yang mengembang di bibirnya.


"Baru nyampe kok Nek," balasnya sambil memberikan kode kepada anak buahnya untuk segera membawa semua barang seserahan ke dalam kediaman Nenek Masitha.


"Maaf kedatangan Richard tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, aku tidak ingin menunda lebih lama lagi saat cucu kesayangan Nenek bersedia menikah denganku Nek,"tuturnya dengan ramah.


"Syukur Alhamdulillah, Nenek malahan sangat senang Nak, mendengar kabar tersebut," ucapnya lalu memegang lengan calon cucu menantunya itu.


Mbak Wati dan Mirah berjalan tergesa-gesa ke arah pintu depan. Mereka tidak ingin membuat calon anggota baru keluarganya menunggu terlalu lama.

__ADS_1


Langkahnya terhenti saat melihat Richard dan Nenek Masitha sudah duduk berhadapan dan tertawa bersama.


Nenek Masitha yang melihat cucu menantunya sudah datang, dia meminta untuk segera memanggil Raisa untuk segera menemui calon suaminya.


"Mirah tolong panggilkan Raisa nak, kasihan anak Richard sudah menunggu cukup lama," perintahnya Nenek yang tidak ingin dibantah.


Mirah tanpa sepatah kata pun langsung berjalan ke arah lantai dua tempat kamarnya Raisa berada.


Tok.. tok..


"Raisa sayang, buka pintunya nak," ujarnya Sambil mengetuk pintu kamar putrinya.


Raisa segera membuka pintunya karena kebetulan sudah selesai berpakaian. Mirah tersenyum manis ke arah putrinya.


"Kamu sangat cantik sayang, Mama pangling melihatmu," terang Mirah yang memuji kecantikan anaknya.


"Makasih banyak Moms, oiya Moms Rei sudah tidur, kok aku enggak lihatnya?" Tanyanya yang menatap ke arah pintu kamar putranya.


"Ohh gitu," ucapnya singkat.


"Ayok kita turun, Nak Richardi ada di bawah," lalu mengapit tangan putrinya.


Raisa menatap ke arah Mommynya yang tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Perasaan tadi baru ketemu,kok dia datang lagi?" Tanyanya yang keheranan dengan kedatangan Richard.


Mereka berjalan menuruni tangga sambil berbincang-bincang.


"Dia datang untuk melamar Kamu," ujar Mirah sembari menatap ke arah putrinya.

__ADS_1


"Ternyata dia membuktikan perkataannya, aku kira dia hanya bercanda," cicitnya.


Mirah menatap ke arah Raisa yang ingin memastikan saja apa yang barusan dikatakan oleh putri tunggalnya itu.


"Kamu tadi bilang apa Sayang?" Tanyanya.


"Hemmm, tidak apa-apa kok moms," jawabnya yang sedikit berbohong untuk menutupi perkataannya.


Mereka berjalan bergandengan tangan layaknya seperti saudara adik kakak saja. Kedekatan mereka tidak seperti Mama dan anak tapi, mereka lebih seperti sahabat saja.


Raisa sudah berdiri di hadapan Richard, baru saja ingin mendudukkan tubuhnya tetapi kegiatannya terhenti saat seseorang memanggilnya.


"Mami!!!!!" Pekik Orang itu.


...Mampir dong dinovelku yang lain dengan judul:...


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Dilema Diantara dua pilihan...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...

__ADS_1


...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......


__ADS_2