
Mendengar penjelasan dari Ica, mereka satu sama lainnya saling bertatapan dan tidak mengerti dengan maksud dari orang yang berbicara seperti itu.
Pak Yudha yang baru saja ingin meneguk kopinya pun tidak jadi meminumnya. Dia tidak menduga jika ada orang yang punya niat jahat memperlakukan anak sekecil itu dengan perkataan yang membuatnya bertanya-tanya
Kehangatan dan rasa empati yang diberikan oleh keluarga besar Lee membuat Camelia dan Ica merasa bisa tenang dan bahagia.
Selama beberapa hari ini tinggal di rumah Maxy, Camelia merasa terbantu karena dia tidak perlu lagi repot-repot dan capek mengantar jemput putrinya. Setiap hari Mirah lah yang menggantikan posisi Camelia yang bertugas mengantarkan, menjaga, menunggui Ica hingga jam pulang.
Mirah sama sekali tidak pernah mengeluh dengan rutinitas barunya itu. Malahan dia sangat bahagia dan bersyukur, karena dia bisa memamerkan kepada teman-teman arisannya kalau dia sudah memiliki seorang cucu perempuan. Mirah tidak peduli dengan tanggapan dari orang-orang jika mereka mengetahui yang sebenarnya.
"Ica kalau nanti di sekolahannya ada yang gangguin ica, tanya sama nenek Grandma yah sayang, tidak usah takut ada grandma yang selalu jaga Ica," tuturnya sembari mengolesi selai kacang di atas rotinya.
"Emangnya ada yang gangguin putri Ayah di sekolahnya?" Timpal Maxy yang ikut menimpali pembicaraan dua perempuan yang berbeda generasi itu.
Gadis kecil empat tahun lebih itu segera menggelengkan kepalanya untuk menyanggah perkataan dari Maxy.
"Tidak ada kok Ayah, Ica senang di sekolah barunya Ica banyak temannya yang baik sih," jawabnya dengan tingkah polosnya.
"Alhamdulillah kalau ica senang di sekolah barunya," ucap Amairah.
Camelia sedang ke rumah sakit karena tadi ada telpon dari atasannya katanya ada rapat penting yang harus dihadiri sehingga dia tidak ikut bergabung makan pagi bersama keluarga besar itu.
"Tapi Ica sedih Grandma," ucapnya dengan wajah sendu.
"Kenapa sayang, apa yang terjadi?" Tanyanya Mirah yang penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Ica menatap ke arah Mirah dan yang lainnya untuk berbicara seakan-akan dia meminta persetujuan sebelum berbicara. Hal itu membuat Maxy penasaran.
"Ica putrinya Ayah, apa yang terjadi?" Tanya Maxy yang jiwa kebapakannya muncul seketika ke permukaan setelah melihat reaksi wajahnya Ica.
Maxy begitu khawatirnya dengan kondisi dari Ica. Dia tidak menyangka jika anak kecil seperti
"Ada ibu-ibu yang bilang sama Ica kalau Ica itu tidak punya Ayah dan bunda katanya kalian bukan keluarga kandungnya Ica, Ayah keluarga kandung itu apa?" Tanyanya yang ingin mengetahui apa itu keluarga kandung.
Mendengar penjelasan dari Ica, mereka satu sama lainnya saling bertatapan dan tidak mengerti dengan maksud dari orang yang berbicara seperti itu.
__ADS_1
Pak Yudha yang baru saja ingin meneguk kopinya pun tidak jadi meminumnya. Dia tidak menduga jika ada orang yang punya niat jahat memperlakukan anak sekecil itu dengan perkataan yang membuatnya bertanya-tanya.
"Keluarga kandung itu adalah keluarga yang ada hubungan darah sayang, misalnya Grandpa dengan Ayah sama ica," Tutur Mirah yang terpaksa sedikit berbohong untuk menutupi kebenaran yang ada agar Ica tidak bersedih.
"Oh gitu yah, Ica senang punya keluarga kandung," ujarnya dengan bahagianya.
"Ayo sayang lanjutkan makannya, nanti kita terlambat ke sekolah," perintah Mirah.
Rexy yang ikut memperhatikan tingkah lucu Ica melihat senyuman di bibirnya langsung dejavu. Dia merasa mengenal senyuman itu. Dia terdiam dan memikirkan baik-baik perasaan yang tiba-tiba itu muncul dalam benaknya.
Kedatangan Ica di dalam keluarga besar mereka membawa kebahagiaan dan semakin mempererat hubungan diantara mereka. Lee yang selama ini tidak punya teman semakin bahagia karena tidak kesepian dan sendiri lagi. Apa lagi Ica mampu membuat suasana ramai dengan celotehan dan tingkahnya.
Jauh dari kediamannya keluarga Lee, ada seorang perempuan yang duduk di gazebo rumahnya. Dia mengelus perutnya dengan halus, air matanya menetes membasahi pipinya.
"Maafkan Mami sayang," ucapnya dengan lelehan air matanya membasahi pipinya.
Dia kembali teringat dengan masa lalunya empat tahun lebih. Dengan berat hati dia terpaksa membuang darah dagingnya sendiri ke Panti Asuhan. Terpaksa dia melakukannya demi untuk menutupi kesalahan besar yang dia lakukan. Hingga detik ini satupun dari anggota keluarganya yang tidak mengetahui aibnya itu.
Bukan pilihan yang terbaik yang ditempuh waktu itu. Dengan hamil diluar nikah tanpa suami, dengan usia yang masih muda terpaksa setiap hari menutupi kehamilannya dari orang-orang. Termasuk dari kakeknya.
"Mami merindukanmu putriku, Mami ingin sekali melihatmu, memelukmu dan menggendongmu, Nak," gumamnya Mutiara.
Dia pernah kembali mencari keberadaan putrinya di Panti Asuhan tetapi, ternyata putrinya sudah diadopsi oleh orang lain.
Flashback on..
"Ibu saya dulu pernah bilang tolong jangan biarkan anakku ada orang yang mengadopsinya karena suatu saat nanti saya akan kembali lagi kesini," ucapnya yang sedikit kecewa bercampur marah setelah mengetahui jika anaknya sudah diadopsi oleh seseorang yang tidak dikenalnya.
"Maafkan kami Bu waktu itu ibu panti asuhan yang lama sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu tapi kami waktu itu mengalami kekurangan biaya sehingga beberapa anak panti kami berikan kepada orang yang telah Sudi dan berbaik hati untuk mengadopsi mereka" jelasnya dengan sedikit kecewa dengan keputusan mereka waktu itu.
Dia kembali terduduk di kursinya dengan tangisannya yang sudah pecah.
"Putriku maafkan Mami nak" sesalnya yang membuat dadanya sesak dan sangat menyesali kenyataan yang baru diketahuinya.
Ibu Panti asuhan yang baru ikut menyesal dan hanya bisa memberikan alamat lengkap orang yang telah mengadopsi putri dari orang tersebut.
__ADS_1
"Ibu tolong katakan padaku siapa yang mengadopsi anakku?" Tanyanya yang tidak sabar dia ingin mengetahui hal tersebut.
Dia berhadapan dengan Ibu Panti asuhan dan niatnya datang kesana untuk melihat anaknya setelah empat tahun lebih dia titipkan di Panti tersebut. Tapi apa boleh buat anaknya sudah tidak berada di sana lagi.
"Sekali lagi kami minta maaf yang sebesar-besarnya Bu, atas keputusan kami itu," ujarnya.
"Makasih banyak Bu, semoga Puteri saya baik-baik saja dan hidup dengan orang yang tepat, permisi Bu" ujarnya lalu meninggalkan ruangan itu Bu panti asuhan.
Dia pun mencari alamat sesuai yang diberikan oleh pengurus Panti asuhan. Dengan berharap besar agar dia bisa menemui putrinya. Tetapi rasa penyesalan dan kesedihan itu masih menaungi kehidupannya. Rumah orang yang mengangkat anaknya sudah kosong beberapa hari dan satupun tetangganya tidak ada yang tahu kemana perginya pemilik rumah yang dia datangi itu.
Flashback off..
Kedatangan kakeknya yang sedari tadi berdiri di belakangnya pun sama sekali tidak disadarinya. Dia masih asyik dengan lamunannya, matanya memerah, hidungnya sembab setelah beberapa saat dia menangis.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Diantara Dua Pilihan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Pelakor Pilihan
Aku hanya sekedar baby sitter
Cinta Ceo Pesakitan
Tetanggaku Idola Suamiku
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
__ADS_1
I love you all Readers…