Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 87. Dia


__ADS_3

"Aunty suka es krim rasa yang mana, apa stroberi atau vanilla saja?" Tanyanya yang memegang eskrim tersebut dengan erat agar tidak terlepas dari dalam genggamannya.


"Aunty sebenarnya suka dua-duanya tapi, tidak mungkin Aunty ambil semua jadi aunty pilih vanilla saja," terangnya dengan mengambil es krim yang ada di tangan kanan Ica.


Mereka duduk berdampingan dengan menikmati lelehan es krim tersebut. Siapapun yang melihat mereka pasti akan mengira jika mereka adalah anak dan ibunya. Cara memegang, cara menikmati es itu persis tanpa ada perbedaan sedikit pun.


Beberapa saat kemudian, Ica bertanya padanya perihal siapa dia dan kenapa berada di sana.


"Aunty Ica boleh tanya sesuatu gak?" Tanya dengan kilatan matanya yang berbinar.


"Ica cantik mau tanya apa sama Aunty?" Tanyanya balik dengan senyumannya yang tersungging di bibirnya.


"Aunty ke sekolah Ica cari siapa dan nama Aunty siapa?" Tanyanya yang jiwa keponya sudah muncul ke permukaan.


"Aunty Mutiara, Ica boleh panggil Aunty Liora, Aunty ke sini cari anak aunty yang hilang," jawabnya dengan menatap tak jemu ke arah Ica.


"Jadi Ica panggil Aunty Mutia saja yah," ucapnya dengan wajah kegirangan.


"Ya Allah… kenapa setiap kali aku berdekatan dan melihat senyumannya hati selalu tenang dan damai, seakan-akan aku sudah mengenal anak ini dari dulu."


Tatapannya selalu tertuju pada apa yang dilakukan oleh Ica. Dia tak segan-segan untuk tertawa lepas jika ada hal lucu yang dilakukan oleh Ica di depannya.


"Kok Ica belum pulang, apa Mama dan Papanya belum datang menjemput?" Tanyanya dengan melihat ke sekelilingnya yang sekolah sudah nampak mulai sepi.

__ADS_1


"Ica nungguin Uncle ganteng, kalau bunda sibuk kerja Aunty di rumah sakit, kalau Ayah belum bisa jemput Ica masih sakit," jawabnya dengan begitu detail dengan diakhiri senyuman manisnya.


"Oh gitu yah, kalau gitu Aunty temani kamu nungguin Uncle ganteng yah, gak apa-apa kan sayang!" Tanyanya sembari menoel dagunya Ica.


"Serius Aunty mau nemenin Ica?" Ica malah bertanya balik dengan wajah seriusnya.


"Serius, Aunty akan pergi dari sini setelah Ica pulang," terangnya dengan wajah yang penuh harap.


"Hore, ada yang temani Ica," teriaknya yang lompat-lompat di tempatnya.


Liora melupakan jika ada janjinya bertemu dengan pria yang rencananya akan dijodohkan oleh kakeknya untuknya. Dia sama sekali sudah melupakan hal tersebut. Dunianya hari ini seakan tersita oleh senyuman kebahagiaan dari Ica gadis kecil yang cantik baru dijumpainya.


Sedangkan di dalam ruangan tempat meeting, seorang pria dengan wajah garangnya mendengarkan satu persatu penjelasan dari beberapa karyawan yang bekerja di Perusahaannya. Hari ini bertepatan dengan rapat bulanan yang harus diikuti untuk mengetahui sejauh mana perkembangan Perusahaan yang dipimpinnya tersebut.


"Sudah jam 12," gumamnya.


Dia menatap ke arah David untuk segera melanjutkan rapatnya. Karena dia ingin menjemput Ica dari sekolahnya.


David yang ditatap seperti itu segera melaksanakan perintah yang belum terucap dari CEOnya.


"Maaf untuk selanjutnya rapat akan dipimpin oleh Pak David," ucapnya sambil berdiri dari kursi kebesarannya lalu menyambar kunci serta hpnya.


Tidak ada yang berani menentang keputusannya itu. Jika ada yang berani berargumen apapun nasibmu agar berakhir menyedihkan.

__ADS_1


Dia segera berjalan cepat ke arah mobilnya berada. Dia tidak ingin membuat Ica terlalu lama menunggunya.


"Semoga Ica tidak menangis menungguku, sudah lambat hampir tiga jam," ucapnya kemudian melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa.


Sesekali dia menatap ke arah jamnya, raut wajahnya berubah khawatir dengan keadaan Ica. Hingga hanya butuh waktu beberapa menit saja mobilnya sudah berhenti di depan sekolahnya Ica.


Dia mematikan segera mesin mobilnya lalu berjalan ke arah dalam halaman Sekolahnya Ica. Langkahnya terhenti yang awalnya berlari. Dia melihat punggung anak kecil yang mirip dengan Ica membelakangi posisinya Ica berada.


Langkahnya sedikit melambat karena sudah yakin jika yang dilihatnya adalah Ica. Dia berjalan pelan-pelan dan perlahan saja.


"Siapa perempuan itu yang bersamanya, semoga saja dia perempuan baik-baik?" Rexy membatin.


Dia semakin melangkahkan kakinya menuju kursi panjang yang mereka duduki bersama.


Dia pun berteriak agar Ica menyadari kedatangannya, " Ica!!"


Dua orang itu menoleh ke belakang tepatnya ke arahnya yang sedang berdiri.


Rexy tersenyum melihat Ica yang baik-baik saja tapi senyumannya luntur seketika saat melihat siapa yang bersama dengan Ica. Perempuan itu pun sama terkejutnya dengan yang dirasakan oleh Rexy.


Mereka sama-sama berdiri saling menatap dan tak berkedip. Ica yang menyadari kedatangan Rexy tersenyum kegirangan.


Fania minta tolong setelah Membaca setiap Babnya untuk selalu meninggalkan jejak berupa Koment dan tekan tanda Like, karena tanpa itu Dukungan kalian tidak berarti. jadi Fania mohon kesediaannya untuk memberikan komentarnya apa pun itu sesuai dengan isi cerita Babnya.

__ADS_1


__ADS_2