
"Forget the about one who coused the pain, Lupakan seseorang yang membuatmu sakit."
Nyonya Marcella menatap wajah anak dan cucunya dengan iba, ia kembali teringat sekitar 20an tahun yang lalu.
flashback on..
Malam itu langit tampak sangat indah karena dipenuhi oleh taburan bintang dan disinari dengan cahaya sang Dewi Malam. Lampu dari setiap gedung pencakar langit dan beberapa bangunan yang ada di sana.
Hujan salju turunnya salju sama sekali tidak menyurutkan niat dan semangat Nyonya Marcela untuk terus menunggu hingga tuan besar John Atmadja bersedia bertemu dengannya.
Nyonya Marcella segera masuk ke dalam mobilnya dan memakai pakaian hangatnya karena udara semakin dingin. Mereka tidak menyangka jika di malam itu tiba-tiba turun hujan salju.
Untung saja Bu Marcella dan anak buahnya membawa beberapa pakaian tebal sehingga mereka tidak terlalu merasakan dinginnya cuaca yang tiba-tiba langsung berubah menjadi minus derajat.
"Apa kita pulang saja Nyonya atau tetap menunggu?" tanya Antoni anak buah kepercayaannya itu sambil memutar kepalanya kebelakang.
"Kita tunggu saja dulu sampai mereka merasa bosan dan jenuh melihat kita masih menunggu mereka di sini" ucap Nenek Marcela dengan keyakinannya kalau kali rencananya akan berhasil.
Nenek Marcela turun dari mobilnya dan berjalan tergesa-gesa dan kembali berusaha untuk menerobos masuk ke dalam rumah Tuan besar Mark Prin Atmadja ketika pintu besi itu terbuka lebar.
Upaya yang dilakukan oleh Nenek Marcela berhasil dan bersembunyi sambil berjalan mengendap-endap menuju ke arah pintu besar itu. Tapi, langkahnya terhenti di saat tangannya baru ingin meraih gagang pintu itu. Suara seseorang yang berhasil menginterupsinya dan suara itu sangat familiar di gendang telinganya.
"Berhenti" ucap tegas dan beram orang itu.
Nenek Marcelha menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu berasal. Dan kembali mematung di tempatnya seperti seorang maling yang kedapatan mencuri saja. Nenek Marcela tergagap dan salah tingkah.
"Bagaimana kabarmu Marcella, lama kita tidak bersua!" ucap orang itu.
"Alhamdulillah kabarku baik seperti yang kamu lihat" jawab Masitha.
__ADS_1
"Aku yakin kamu kesini untuk menemui cucuku Macy" ucap Liliana Prawira John Horne.
"Cucumu adalah cucuku juga dan tidak mungkin cucumu itu lahir ke dunia ini jika bukan Yudha putraku," ucap Marcella yang menohok.
"Hahah kamu benar juga, Ayo kita masuk ke dalam tidak baik berbicara di luar, kita nikmati teh buatanku dan aku yakin kamu pasti merindukannya bukan," ucap Ibu Liliana sambil merangkul sahabat lamanya itu.
Liliana dan Masitha adalah sahabat yang sangat akrab dan baik sebelum kejadian kematian Abra Alex Atmadja yang ditembak oleh Nur Hadi dan karena tipu muslihatnya lah yang mengakibatkan kefua keluarga besar harus menjadi korban dan terpisah hingga sekarang.
Karena ulah Nurman lah sehingga kesalahpahaman diantara mereka awet hingga sekarang dan keegoisan dan keras kepala John yang tidak ingin mendengarkan dan menerima alasan sehingga permusuhan mereka yang sudah puluhan tahun masih bertahta.
"Aku ke sini ingin bertemu dengan suamimu dan kamu sudah pasti tahu apa alasanku," ucap Marcella yang sudah duduk di kursi yang berada di ruang tengah rumah besar itu.
Liliana belum menanggapi perkataan dari Marcela dan masih asyik meracik teh thai kesukaan Masitha dulu, Teh yang selalu diinginkan olehnya jika berkunjung ke kediamannya sewaktu masih tinggal di Tanah Air tercinta.
"Minumlah dulu teh buatanku nanti kita bahas tentang cicit kita itu," timpal Ibu Liliana yang meletakkan cangkir kopi di hadapan Nyonya Marcela.
"Kamu terlalu memujiku dan membuat kepala ini serasa semakin besar saja," timpalnya ibu Liliana yang tersenyum bahagia mendengar pujian sahabatnya itu.
Hingga larut malam mereka masih berbincang-bincang dan melepas rasa rindu mereka.
"Maafkan atas sikap suamiku yang sudah menyakitimu, dan maafkan aku yang waktu itu tidak bisa berbuat banyak untuk membela suamimu dan aku sangat tahu kalau bukanlah suami kamu yang menembak mati Kakak Abra, tapi Nur Hadi lah yang melakukan hal itu" jelas Ibu Liliana.
Ibu Liliana memegang kedua tangan Nenek Marcella dan juga ikut bersedih melihat air mata Ibu Marcella yang sudah tidak terbendung lagi.
"Andai saja aku bisa melakukan hal itu pasti aku sudah berhasil membantu kalian, tapi apa lah dayaku, kamu pasti sudah tahu karakter dari suamiku bagaimana orangnya," ucap sendu Ibu Liliana.
"Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja Liliana Aku akan melakukan apa pun untuk mencari bukti tentang kematian Kak Abraham hingga aku bisa menemukannya barulah Aku bisa hidup dengan tenang," timpal Bu Marcella..
"Aku akan selalu membantu dan mendukungmu andai saja Aku bisa pasti aku akan menjadi orang pertama yang akan membantumu" terang Ibu Liliana lagi.
__ADS_1
"Andai saja waktu itu Nirwana adiknya Nur Hadi hadir di persidangan, pasti suamiku tidak akan harus menderita dan akhirnya meninggal dunia di dalam tahanan, Aku sudah mencarinya tapi sampai sekarang Aku tidak berhasil," ujarnya Ibu Marcella yang sangat kecewa atas ketidak mampuannya dan ketidak berdayaaannya selama ini.
"Kamu harus sabar dan kuat, insya Allah suatu saat nanti Kamu pasti bisa menemukan bukti yang bisa memulihkan nama baik suami kamu," ucap Ibu Liliana.
Jangan lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang judulnya tidak kalah seru loh, judul novelnya ada di bawah ini, ceritanya lebih Bagus dan seru pastinya dari ini.
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1