Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 114. Kepergian Raisa Honey Moon


__ADS_3

"Apa kamu sudah mau berangkat ke Bandara?" Tanyanya Rexy yang menuruni undakan tangga saat melihat adik kembarnya berjalan ke arah pintu keluar.


Raisa yang mendengar seruan dari saudara kembarnya segera menolehkan kepalanya ke arah Rexy," iya kak," ucapnya dengan singkat.


"Rei ada di mana? Kok aku gak lihat?" tanyanya Rexy lagi yang mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Rei kalau gak salah lihat sih, dia ada bersama papinya di depan, dia dari mengurus sesuatu bersama putranya," jawabnya dengan seulas senyumannya.


Raisa bahagia melihat anak dan suaminya walaupun baru beberapa hari saling mengenali tapi, mereka sudah akrab dan seperti seorang Ayah dan anaknya yang sejak dahulu sudah tinggal bersama.


Nyonya Mirah sama sekali tidak mempermasalahkan masalah Mutia yang cucu dari orang yang telah mengacaukan kehidupan keluarganya karena baginya itu semua sudah menjadi bagian dari masa lalunya. Yang paling penting adalah mereka bahagia dengan siapapun pilihan yang dijatuhkan pasangannya bagi Amairah dan Martin tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.


Mbak Marni dan Mbak Wati yang melihat mereka membawa koper segera menggantikan posisi mereka. Raisa dan Bu Mirah kemudian berjalan di depan Mbak Marni dan Mbak Wati menuju garasi rumahnya.


"Hati-hati dan selalu waspada saja karena cuaca di Dubai sepertinya tidak menentu kadang panas kadang dingin," ujarnya lalu meraih kunci mobilnya yang ada di gantungan kunci mobil sebelum pergi dari rumahnya.


"Moms aku pamit dulu, titip Reinhard Moms," ucapnya yang berpamitan pada Mommy nya sambil mengecup pipi dan meraih punggung tangannya Bu Mirah untuk dia cium.


"Aah kamu sudah nikah juga masih seperti anak remaja yang belum melupakan kebiasaannya," cerca Rexy dengan senyum bahagianya ke arah Raisa yang sudah bersungut-sungut.


"Moms aku juga pamit dulu, ada urusan dikit di luar," ucapnya yang berpamitan pada Mommy nya.


"Jangan lama-lama, kalau sudah selesai segeralah pulang," ucap Mirah yang sedikit merasa tidak enak saat putranya berpamitan kepadanya.


"Oke moms," jawabnya dengan tidak lupa mengecup pipi kanan mamynya itu.


Bu Mirah menatap intens ke arah anaknya dan merasa sedih saat Rexy sudah pergi dan melajukan mobilnya menuju jalan raya.

__ADS_1


"Ya Allah… lindungilah anak-anakku dari segala marabahaya," tatapannya sendu sembari bergumam.


"Ingat kalau pesawatnya sudah sampai di sana tolong hubungi Mommy," ucapnya yang mewanti-wanti anaknya.


"Tanya Daddy kalau aku sudah berangkat, tidak sempat untuk berpamitan kepada Daddy," ujarnya dengan meminta pada Mommynya.


"Baik sayang, Daddy pasti mengerti dan kamu berangkat tidak perlu merisaukan apa pun yang ada di sini," terangnya yang meminta pada anaknya.


"Rei!! Mommy berangkat dulu sayang, kamu jangan nakal dan ingat tugasnya," tutur Raisa yang memeluk tubuh putra tunggalnya itu.


"Hati-hati Mami, jangan lupa pulangnya nanti harus bawa pulang adek bayi," balasnya yang sangat berharap agar dia segera diberikan adik oleh kedua orang tuanya.


"Insya Allah, doakan saja Mami dan Papi sayang," ucapnya sembari mencium kening putranya.


Richard pun menciumi punggung tangan Ibu mertuanya sebelum pergi. Rei dan Mirah belum masuk ke dalam rumahnya, mereka ingin melihat mobilnya menghilang dari pandangan matanya. Ada perasaan sedih yang meliputi kepergian keduanya untuk bulan madu.


"Ya Allah… semoga sesampainya di sana aku segera mendapatkan informasi mengenai keberadaan putri kecilku," lirihnya dengan melajukan mobilnya ke arah alamat yang pernah dikunjungi olehnya bersama dengan Mutia satu minggu yang lalu.


Beberapa menit kemudian, Rexy segera mematikan mesin mobilnya. Lalu memperhatikan ke sekeliling rumah itu dari depan hingga ke belakang.


"Katanya orang tadi, pemilik rumah ini hanya pergi bekerja selama satu bulan dan akan kembali kira-kira kemungkinannya hari ini," cicitnya tangannya memegang setia setir mobilnya tapi, arah pandangannya tertuju pada rumah yang sedari tadi dia perhatikan dan amati dengan seksama.


Rexy terus melihat ke arah pintu pagar rumah minimalis itu. Dia sangat berharap agar apa yang dia cari hari ini terkabul. Hingga berselang beberapa jam kemudian, sedikit pun tidak ada tanda-tanda jika akan datang tuan rumahnya.


Hingga matanya mengantuk dan tanpa dia sadari matanya sudah terpejam saking lelahnya menunggu berjam-jam. Pintu pagar besi itu berdecit dengan cukup bising. Membuat tidurnya terusik. Dia mengucek matanya dan mempertajam


jarak pandangannya ke arah pagar itu. Seulas senyum terbit dari wajahnya dan segera buru-buru berjalan ke arah pemilik rumah tersebut. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat siapa sosok orang itu.

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pesona Perawan


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..

__ADS_1


Tetap dukung Cinta dan Dendam dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan dan Votenya yah Readers...


__ADS_2