
Bibi Herma ikut tertawa terbahak-bahak bersama Mirah. Ibu Herna senang dan bahagia karena bisa bertemu kembali dengan keponakannya walaupun emang sudah ada niat dan rencana untuk mengunjungi rumah Mirah.
Perbincangan mereka berlanjut hingga mereka sama-sama sudah selesai belanja dan mengamankan belanjaan mereka ke atas mobil masing-masing. Mereka pun berjalan mencari restoran untuk mengisi perut mereka yang sudah berdendang ria ingin diisi dengan asupan makanan.
Hingga sore hari, Ibu Herna dan Mirah anak dari kakak sulungnya itu masih asyik berbincang-bincang hingga perbincangan mereka menjalar hingga ke ranah pribadi Mirah. Bu Herna kepo dengan kehidupan keponakannya itu..
"Mirah boleh nanya sesuatu gak sama kamu, tapi ini agak pribadi dan mungkin bibi sedikit kepo dengan kehidupan pribadi kamu, tapi maafkan ibu Nak Ibu sedari dulu ingin bertanya, tapi ibu selalu menahan hasrat ibu untuk bertanya dan selalu menganggap bahwa belum saatnya saya mengetahui hal itu," ucap Bu Herna panjang lebar sambil mengaduk isi minumannya setelah semua makanan sea food mereka habiskan.
Mirah menatap ke arah Bu Herna dan ia sangat mengerti dengan maksud dan arah tujuan pertanyaan dari ibu Herna tersebut. Dia pun tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Bu Herna dengan seulas senyuman seakan-akan tanpa ada beban dalam hatinya.
"Mungkin sekarang saatnya aku mengutarakan tentang hubungan dan rumah tanggaku kepada orang lain karena selama ini aku tidak pernah memberitahu siapa pun tentang kehidupan pribadiku termasuk kepada duo's Baby sitterku," batinnya Mirah.
"Maaf kalau ibu sudah lancang dan kamu tersinggung dan percaya lah pada ibu kalau ibu tidak ada niat sedikit pun untuk mencampuri kehidupan pribadi kamu tapi apa salahnya kamu berbagi sama ibu agar kamu Ibu jangan dipendam sendirian," ujarnya Bu Herna lagi yang meyakinkan Mirah untuk lebih terbuka.
Mirah masih ragu dan bimbang untuk menceritakan masalah pribadinya karena menurutnya itu agak sensitif.
Bu Herna mengambil tangannya Mirah lalu menggenggamnya, "gak baik loh jika ada masalah tapi gak ada tempat yang cocok dan baik untuk tempat kita berkeluh kesah," ungkap Ibu Herna yang memegang tangan Mirah hal itu bertujuan agar Mirah yakin dan percaya kepadanya kalau dia layak untuk dia jadikan tempat untuk berbagi suka maupun duka.
Mirah menarik nafas dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan-lahan.
"Kalau kisah hidup Mirah itu sangat panjang dan cukup membuat semua orang akan menganggap saya ini perempuan sekaligus Istri yang tidak baik Bi," jelasnya Mirah yang menjeda perkataannya karena sedikit sungkan.
__ADS_1
Bu Herna menganggukkan kepalanya agar Mirah melanjutkan perkataannya tersebut tanpa ada rasa was-was atau takut.
"Karena orang-orang akan beranggapan begitu karena harus melewati malam pertama bersama pria asing yang sama sekali saya tidak kenali, bahkan wajahnya pun sampai sekarang tidak saya ketahui apa kah hidungnya pesek atau mancung, Saya menikahi seorang pria atas dasar perjodohan dari kakek angkat saya karena saya tidak ingin membuat kakek dan juga keluarga angkat saya kecewa dan murka makanya saya menerima perjodohan itu, singkat cerita suamiku itu sama sekali tidak mencintaiku tapi mencintai perempuan lain yaitu sepupu angkatku sendiri hingga pernikahan kami masuk bulan ke 6 saya belum juga disentuh oleh Adam suamiku, melirik saja tidak pernah apa lagi menyentuhku itu sama sekali tidak dia lakukan hingga Adam membawa pacarnya ke rumah kami dan bersamaan dengan kehadiran ke dua mertuaku di rumah kami di situlah aku mengetahui kebusukan mereka yang ternyata selama ini bermain di belakangku hingga tragedi itu terjadi saat kami berbulan madu deh bukan saya, tapi mereka yang berbulan madu aku hanya ikut untuk menutupi kejelekan mereka saja," jelasnya Mirah panjang lebar tanpa ada lagi yang ditutupinya yang sesekali mengusap air matanya.
"Terus gimana dengan kamu apa kau marah atau berontak dengan ketidakadilan yang kamu dapatkan?" tanya Bibi Her yang masih memegang tangan keponakannya.
"Hingga malam terakhir kami di Denpasar tragedi itu terjadi, awalnya Aku kira pria yang masuk ke dalam kamarku dalam keadaan mabuk adalah suamiku sendiri yaitu Adam, sehingga aku hanya menuruti keinginan dari pria itu hingga kami melewati malam yang begitu panjang hingga Maxy pun hadir ke dunia karena kesalahpahaman dan keteledoran aku yang lupa mengunci rapat pintu kamarku akhirnya aku hamil dan aku ditalak oleh Adam disaat aku menyadari kalau ternyata aku hamil anak dari pria lain," jelas Mirah yang sedari tadi berusaha menahan laju air matanya.
"Menangis lah nak jika menangis akan membuat kamu menjadi lebih baik dan keluarkan semua beban pikiran kamu yang selama ini mengganjal di kepalamu," pinta Bibi Herna yang terus memberikan semangat dan dukungan moril untuk Mirah.
"Makasih banyak Bi, tapi baku takut Bi, gimana jika suatu saat nanti pria itu mencari kami dan mengetahui kalau dia mempunyai seorang putra apa yang harus aku lakukan Bi?" tanya Mirah yang bingung dengan sikap apa yang harus dia lakukan jika hal itu jadi kenyataan.
"Tapi kalau pria itu benar-benar datang dan ingin bertanggung jawab apa yang akan kamu lakukan dan katakan kepadanya?" Tanya Bibi Her yang ingin mengetahui sikap dan reaksi Mirah nantinya.
Bibi Her menatap ke dalam kelopak mata Mirah dan mencari kebohongan dari balik pembicaraan dan perkataan kejujuran yang disampaikan oleh Mirah di depannya..
****************
Jangan lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang judulnya tidak kalah seru loh, judul novelnya ada di bawah ini, ceritanya lebih Bagus dan seru pastinya dari ini.
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1