
Kehadiran anak di dalam suatu hubungan keluarga pasti akan membawa suatu perubahan besar yang cukup signifikan. Hanya beberapa menit saja, mereka sudah sampai di depan playgroup tempat Ica istrinya dititipkan.
Camelia sedikit pun tidak ingin ada orang lain yang mengatakan bahwa Khairunnisha adalah hanya putri angkatnya saja.
Kehadiran Ica dalam hidupnya sebagai pelipur lara dan pengobat atas kesedihannya menanti kepulangan suaminya yang tidak pasti itu. Camelia menggendong putrinya ke dalam mobil. Ica didudukkan di dekat Maxy.
"Maaf Tuan Muda, tidak apa-apa kan kalau aku dudukkan Ica dekatnya Tuan?" Tanyanya sebelum menidurkan putrinya.
"Boleh, itu tidak masalah," jawabnya.
Ica yang mendengar perkataan dari bundanya menangis kencang. Dengan suaranya yang cempreng memenuhi seluruh penjuru ruangan kediaman utama keluarga Lee.
"Ica tidak mau duduk di dekatnya Paman, Bunda," ucap Ica di sela tangisannya.
"Jangan nangis sayang, sini bunda pangku kalau gitu," jelas Camelia yang mengulurkan tangannya ke arah Ica.
Ica menggelengkan kepalanya dan bukannya memelankan suara tangisannya malahan semakin menangis saja.
"Tidak mau, tidak mau dipangku bunda," jawabnya lagi dengan lelehan air matanya sudah membasahi seluruh wajahnya.
Camelia sudah merasa tidak enak hati karena mengganggu ketenangan dari Axel.
"Maafkan putriku Tuan Muda, aku akan segera mendiamkannya," ucap Camelia yang kembali berusaha untuk membujuk anaknya agar segera diam.
Maxy refleks menarik tubuhnya ica ke dalam pangkuannya. Ica yang sedari tadi menginginkannya langsung terdiam sejenak dan menghapus air matanya dengan ujung roknya.
"Kenapa pakai ujung roknya putrinya Ayah, ini sayang pakai tissue," tutur Maxy yang penuh dengan kasih sayang.
__ADS_1
Nalurinya langsung tergerak saat melihat Ica yang menangis. Seakan-akan Ica adalah istrinya sendiri.
Camelia yang melihat hal tersebut, semakin tidak enak hati karena sudah mengganggu dan merepotkan pasien yang seharusnya beristirahat dalam pemulihannya.
"Ica ayo sama Bunda sayang, Tuan Muda baru saja keluar dari rumah sakit, Ica tidak boleh ganggu yah," ujarnya yang berusaha untuk membujuk putrinya itu.
Maxy langsung menepis dengan lembut tangannya Camelia sambil berkata, "Tidak apa-apa kok, malahan aku suka jika Ica ingin duduk di dalam pangkuanku," balasnya sembari tersenyum tipis.
"Ya Allah… kenapa Ica bersikap seperti itu di hadapan Tuan Muda padahal dengan orang lain yang baru dilihatnya pasti akan ketakutan jika ada orang asing yang mendekatinya," Aisyah membatin.
Aisyah yang melihat kejadian tersebut tersenyum lalu berkata," Tunggu apa lagi sih Tuan Muda, sekali nikah sudah dapat istri dan anak, sudah paket komplit loh," celetuk Aisyah dari kursi depan.
Camelia wajahnya langsung memerah mendengar perkataan gurauan dari Aisyah. Dia tidak ingin besar kepala tetapi kalau selalu mendapatkan perlakuan dan suara-suara seperti itu hatinya bakal luluh juga dalam pesona Axel.
Berselang beberapa saat, mereka sudah sampai ke kediaman utama keluarga Lee. Kedatangan mereka disambut hangat oleh semua anggota keluarga Lee yang kebetulan hadir di dalam rumah itu.
Nenek Masitha segera menyambut cicit sulungnya, sedangkan Mirah menggendong tubuh Ica. Camelia merasa sangat malu dan terharu dengan perlakuan baik dan spesial dari mereka semua.
Camelia yang diperlakukan seperti malahan kaget dan dia tidak menyangka kedatangannya akan disambut seperti itu dengan luar biasa.
"Makasih banyak Nyonya besar," katanya sambil membalas pelukan dari Nenek Masitha.
Nenek Masitha memeluk Camelia dengan hangat. Dia bersyukur dan bahagia karena Maxy menemukan gadis yang langka yang tidak seperti kebanyakan gadis lainnya yang hanya mencintai harta saja.
"Aku disambut seperti anggota keluarganya saja, padahal aku hanya perawat sementara dari putra mereka," lirihnya Camelia.
Camelia masih tidak habis pikir dengan sikap mereka yang sangat baik terhadapnya. Mereka bahkan lebih terkesan cuek pada Maxy dan menyambut kedatangan Camelia dengan begitu hebohnya.
__ADS_1
Mereka sudah mengetahui perasaan dari dari putra sulungnya terhadap Camelia sehingga mereka memutuskan untuk merestui hubungan mereka dan berusaha agar Camelia segera menerima cinta putranya itu.
"Di sini siapa yang sakit, saya atau Camelia?" Tanyanya dengan wajah berpura-pura sedihnya.
Di dalam hatinya, dia sangat bahagia bahkan bersorak gembira, karena semua keluarganya menerima Camelia dengan tangan terbuka terlepas dari statusnya seorang janda. Kenyataan yang mereka ketahui tentang Camelia sedikit pun tidak mereka beberkan hingga ke telinganya Maxy.
Mereka menginginkan Maxy mencintai Camelia apa adanya dan semua yang ada pada diri Camelia tanpa terkecuali.
Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Diantara Dua Pilihan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Pelakor Pilihan
Aku hanya sekedar baby sitter
Cinta Ceo Pesakitan
Tetanggaku Idola Suamiku
__ADS_1
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..
I love you all Readers…