Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 159


__ADS_3

"Ingat jangan katakan kepada Nenek kalau aku ada di sini, jika ketahuan oleh Nenek aku akan pecat kamu," ancam Yudha yang berlalu masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kemudi.


Anak buahnya hanya diam tanpa kata dan menganggukkan kepalanya saja. Yudha awalnya mengemudikan mobilnya ke arah apartemen pribadinya yang ada di tengah kota S tapi langsung memutar balik lagi mobilnya. Ia kemudian melajukan ke arah kediaman neneknya yang ada di kota S tapi tidak jadi lagi.


Akhirnya Yudha mengemudikan mobilnya tak tentu arah. Dia hanya mengikuti arah jalan raya saja. Dan tanpa dia sadari ternyata mobil dan jalan raya menuntunnya hingga sampai ke rumah minimalis modern yang bercat hijau tua senada dengan warna pagar besi dan taman yang menghiasi halaman rumah tersebut yang nampak asri.


"Ini kan rumah peninggalan nenek yang sekarang disewa oleh seorang ibu dengan anaknya, kok bisa-bisanya aku ke Sini yah?" Gumamnya Yudha yang memperhatikan rumah itu.


Yudha heran dengan sikapnya sendiri. Martin tidak menyangka kalau dia akan sampai ke Sini padahal awalnya dia ingin menemui Mirah.


"Apa aku masuk saja yah dan berpura-pura kalau ingin memeriksa keadaan rumah karena selama ini Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang telah menyewa rumah itu," batinnya Yudha.


Dengan berbagai pemikiran Martin pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Kebetulan rumah tersebut lampunya belum padam walaupun sudah jam 11 malam.


Tetapi Yudha sudah membulatkan tekadnya untuk masuk seakan-akan ada sesuatu yang menariknya untuk masuk. Langkah Yudha yang cukup lebar dan langkahnya tidak tersendat karena pagar besi tersebut ternyata tidak tergembok sehingga dia leluasa untuk masuk ke dalam halaman rumahnya kontrakannya Mirah.


Sedangkan sang pemilik rumah baru saja menidurkan putranya yang sempat rewel karena meminta sesuatu yang terbilang sangat mustahil untuk Mairah penuhi.


"Moms, Maxy kangen sama Uncle ganteng, antar Axel yah Moms ketemu sama uncle ganteng!" rengek Maxy yang sudah hampir 4 bulan tidak bertemu dengan Yudha yang dia anggap sahabatnya dan Maxy memanggil Yudha dengan sebutan Uncle ganteng.


"Insya Allah Mommy akan ajak Axel bertemu dengan Uncle ganteng tapi bukan sekarang besok saja yah Sayang, sekarang sudah tengah malam waktunya Axel untuk bobo" ucap Amairah yang bingung gimana caranya mempertemukan Axel dengan Uncle ganteng yang Axel maksud.


"Mommy janji dan gak bakalan bohong kan?" Tanya Maxy yang matanya sudah berkaca-kaca dan takut jika Mommynya kembali berbohong seperti saat dia dirawat di RS.

__ADS_1


"Mommy janji, jadi Maxy tidur yang nyenyak biar besok kita bisa bertemu dengan Uncle ganteng," janji Mirah sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kecil putra sulungnya itu.


Maxy pun kembali berbaring dan masuk ke dalam selimutnya walaupun pergerakannya terbatas karena kondisi kakinya yang masih kadang sakit. Mirah pun mematikan lampu kamarnya anaknya lalu perlahan menutup pintu.


Mirah menangis tersedu-sedu dan tidak tahu bagaimana caranya agar putranya mengerti kalau untuk bertemu dengan uncle ganteng adalah hal yang terbilang susah dan mustahil.


"Ya Allah apa aku harus kembali berbohong kepada anakku tapi kalau aku berbohong aku harus pakai alasan apa dan jika aku menolak permintaan dari putraku pasti Maxy akan kembali kecewa dan sedih," batinnya Mirah yang sangat sedih.


Mirah menangis tersedu-sedu di depan pintu kamar Maxy dan tubuhnya merosot ke bawah dan terduduk di atas lantai yang dingin. Mbak Marni yang melihat hal tersebut ingin jujur dan berterus terang ingin mengatakan kalau uncle ganteng itu adalah Pak Yudha suaminya sendiri.


Mbak Marni sudah berdiri di belakang punggung Mirah sebelum pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Ia melihat ke arah jam di dinding dan bingung siapa yang bertamu ke rumahnya yang sudah tengah malam. Dia lalu berjalan gontai ke arah pintu. Dan langsung mengunci kenop pintunya agar terbuka.


"Maaf cari siapa?" Tuturnya Mirah ketika pintu itu saat pintu sudah berhasil terbuka hanya sebagian saja.


Mirah langsung tersenyum sangat manis ke arah Martin saat pintu sudah berhasil terbuka dengan lebarnya. Yudha refleks membalas senyuman Mirah yang tidak kalah manisnya. Mereka hanya terdiam dan saling berpandangan tanpa suara.


Tiba-tiba jantung Yudha berdisko dan berdetak lebih kencang dari biasanya. Martin pun tanpa sengaja memegang bagian dadanya. Mirah yang kaget melihat Yudha yang tiba-tiba dan spontan memegang dadanya langsung memegang Yudha dan takut jika terjadi sesuatu kepada suaminya.


"Apa yang terjadi Mas , apa Mas baik-baik saja?" tanya Mirah dengan raut wajahnya yang khawatir.


Yudha yang diperhatikan seperti itu salah tingkah dengan reaksi Mirah yang menurutnya berlebihan dan diluar ekspektasinya.


Jangan lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang judulnya tidak kalah seru loh, judul novelnya ada di bawah ini, ceritanya lebih Bagus dan seru pastinya dari ini.

__ADS_1



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pesona Perawan


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


__ADS_2