Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Eps. 21. Sepertinya Aku Pernah Melihatnya


__ADS_3

Di dalam sebuah Restoran yang cukup mewah dan berkelas, seseorang dengan pakaian resminya membalut tubuh atletisnya. Dengan potongan rambutnya yang *******, bentuk tubuhnya sesuai dengan perawakan wajahnya yang cukup tampan dan pastinya membuat semua wanita ingin berlomba-lomba mendapatkan hatinya.


Sesekali orang itu menyesap minumannya sembari menunggu kedatangan perempuan yang nantinya akan menjadi calon istrinya.


Hingga suara seksi dari seorang perempuan yang mampu mengalihkan perhatiannya.


"Maaf, dengan Tuan Richard Meiyer Lien?" Serunya yang lebih mirip kepertanyaan.


Pria itu pun berbalik, ke dua mata mereka saling bertemu, mereka saling bertatapan satu sama lain. Hingga berlangsung beberapa saat.


Mereka sama-sama saling menyelami rasa yang ada. Mereka seperti sama-sama pernah bertemu sebelumnya, tapi di antara mereka tidak ada yang mengetahui di mana.


"Kenapa wajahnya seperti pernah aku lihat sebelumnya."


"Serasa aku pernah melihatnya sebelumnya, tapi itu tidak mungkin karena ini pertemuan pertama kami, setelah Kakek John menjodohkan kami." Raisa terdiam membeku ditempatnya tapi, hatinya bertanya-tanya tentang sosok pria itu.


Mereka memutuskan kontak mata ketika pelayan Resto berada di antara mereka yang ikut berdiri sedari tadi. Tapi mereka, tidak ada yang menyadari kedatangannya.


"Maaf Mbak," ucap Raisa yang tersenyum simpul ke arah Mbak tersebut.


Ke duanya duduk di kursi, lalu mereka membaca buku menu yang disodorkan oleh Pelayan.


"Kami pesan makanan yang paling recommended di sini," ucap keduanya secara bersamaan.


Pelayan menatap mereka bergantian. Pelayan tersebut tersenyum menanggapi kekompakan mereka.


"Kami pesan itu saja," jawabnya singkat sambil menunjuk gambar makanan yang ada di dalam buku menu yang disodorkan oleh pelayan tersebut.


"Minumnya Nona?" tanya pelayan itu.


"Minumannya yang terbaik bawa ke sini." Jawab Richard.


Mereka kembali duduk dan kebanyakan terdiam dan hanya saling menatap saja. Wajah mereka sama-sama tidak ada yang bisa menebak apa yang mereka pikirkan. Hingga makanan sudah tertata dan tersaji di atas meja mereka masih tetap saling berpandangan.

__ADS_1


"Makasih Mbak," ucap Richard.


Pelayan tersebut tersenyum manis ke arah keduanya lalu berkata, "sama-sama Nona, kalau ada yang Tuan dan Nona inginkan tinggal panggil Kami saja, Kami selalu siap untuk melayani Tuan dan Nona."


Mereka mulai menyantap makanan itu dalam kediaman mereka. Hanya dentingan sendok, garpu dan pisau makan yang terdengar dari tempat mereka. Tidak ada yang ingin mengakhiri kebisuan dan ketenangan diantar mereka.


"Hatiku bergetar setiap kali melihat ke dua pasang matanya yang begitu bening sebening embun pagi."


Richard diam-diam memperhatikan Raisa dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Mereka sudah menyelesaikan makan mereka. Hingga Raisa mulai membuka percakapan diantara mereka.


"Maaf Saya adalah cucu dari Kakek John Atmadja, Raisa Annira Elshanum," ketika menjabat tangan Richard.


Pertemuan mereka sungguh berbeda dengan yang lainnya. Biasanya perkenalan terjadi di awal mereka bertemu, tapi kali ini dengan mereka terjadi pada diakhir pertemuan mereka. Seharusnya sedari tadi saat awal mereka bertemu.


"Heeemmm, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyanya yang sangat penasaran dengan apa yang dirasakannya.


"Maaf, sepertinya dugaan Anda salah besar, menurut saya tidak pernah bertemu dengan Tuan dan malam ini adalah pertemuan pertama kita," jawabnya dengan gaya duduknya tidak meninggalkan kesan seorang perempuan dari kalangan kaum jetset.


Richard sama sekali tidak menimpali jawaban dari Raisa. Dia hanya memandangi wajah Raisa yang membuatnya dejavu.


Richard hanya menaikkan alisnya sebelah mendengar perkataan dari mulut Raisa.


"Kekurangan yang seperti apa yang membuatmu mengatakan kalau kamu tidak pantas menjadi pendampingku?" Tanya Richard.


"Aku sudah punya anak," jawabnya dengan singkat yang membuat Richard langsung menyunggingkan senyumnya.


"Tidak masalah, bagiku itu bagus, berarti kamu sudah punya pengalaman yang banyak tentang itu," ujarnya dengan menggantung di ujung perkataannya.


Raisa hanya menautkan ke dua alisnya lalu menatap tajam ke arah Richard yang tersenyum penuh arti. Raisa tidak ingin lagi menanggapi perkataan dari Richard,dia langsung pamit ingin pulang.


"Maaf Saya harus pulang karena besok pagi Saya harus kembali bekerja jadi pasti butuh waktu istirahat yang cukup," ujarnya lalu berdiri dari duduknya.


Pria itu sedikit pun tidak membalas atau menyanggah perkataan dari Raisa. Ia hanya terdiam seribu bahasa, tapi memikirkan sesuatu yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Assalamu alaikum, permisi," salamnya kemudian berlalu dari hadapan Richard.


Richard hanya menatap kepergian Raisa sambil kembali meraih gelasnya yang berisi minuman.


"Aku akan mencari tahu siapa kamu, tatapan matanya yang tajam mengingatkan aku pada gadis kecilku," gumamnya.


Where do you want to hide?


I can smell your smell


Never run from me


Because we promised


Let the sun lie at noon


Pretending not to be hot


No need to torture yourself


Hide existing love


I don't need any language


To reveal I love you


I never rest


To love you according to my promise, promise


A thousand faces tease me


All I remember is your face

__ADS_1


I promise never play


Once you're still you


__ADS_2