
"Syukur Alhamdulillah kalau niatnya seperti itu," pungkas Nenek Masitha.
"Ya elah calon manten sudah kebelet pengen nikah saja," gurauan Maxi yang berjalan ke arah mereka dengan tersenyum kepada calon adik iparnya.
"Raisa sudah jadi calon manten kalau Kamu kapan mengakhiri kejombloanmu, apa sudah permanen?" Dibalas candaan oleh Dion.
"Mantul tuh Uncle, seharusnya Rei sudah punya sepupu sebagai teman bermainnya, tapi hingga sekarang calon Auntynya saja belum nongol juga hingga sekarang," sahut Rexy yang ikut menyudutkan Maxy kakaknya.
"Belum ada yang cocok dan menyentuh di hati, kalau tiba saatnya pasti Maxi akan kenal dengan kalian, kalau sudah dapat calonnya," jawabnya yang tertawa garing di hadapan keluarganya.
Mereka tertawa bareng sembari menikmati makanan dan minuman buatan khusus oleh Mommy Mirah.
Mereka kembali terdiam sejenak setelah mendengar perkataan dari Rei, mereka seakan-akan hanyut dalam perkataan seorang anak kecil.
"Berarti Reinhard akan punya Papi dan Papinya Rei adalah Uncle Rich," ucapnya dengan polos.
Richard menatap intens ke arah Raisa bergantian dengan Rei. Dia kembali dibuat tercengang dengan kenyataan yang baru saja didengarnya.
"Tentu saja! Uncle Rich akan menjadi Papinya Rei kalau sudah menikah dengan Maminya,apa kamu bahagia kalau Uncle jadi Papinya Reinhard?" Tanya Redy sambil menggendong tubuh Rei yang tidak kecil dan ringan lagi itu ke dalam pangkuannya.
Kebiasaannya Rexy jika berdekatan dengan keponakan satu-satunya. Dia pasti akan memangku tubuh keponakannya padahal Rei sudah besar.
"Rei sangat bahagia uncle Rexy," jawabnya dengan wajahnya yang merona saking bahagianya.
"Kalau gitu siapa Ayahnya Rei, apa jangan-jangan dia adalah putraku hasil dari malam itu?" Batin Richard yang mengingat kejadian yang hampir 10 tahun lebih itu.
Richard menatap ke arah Raisa dan seolah-olah ingin bertanya langsung hal tersebut di hadapan calon istrinya lewat sorot kedua matanya yang tajam itu.
Raisa yang menyadari jika, dirinya diperhatikan seperti itu selalu menghindar dan sangat tahu apa maksud dari tatapannya calon suaminya tersebut.
__ADS_1
"Jadi akad nikahnya hari minggu, resepsinya bulan Agustus menunggu kedatangan kakek dan neneknya Richard yah," ujarnya Nenek Masitha.
"Iya Nek, insya Allah rencananya seperti itu karena bagiku akad nikah sangatlah penting dan Saya tidak mau menundanya lagi," terangnya.
"Insya Allah, Allah meridhoi niat baikmu, dan Nenek hanya meminta sama Kamu terima segala kekurangannya Raisa apa pun itu Nak, dan yakinlah pernikahan kalian akan bahagia," terang Nenek Masitha.
"Amin ya rabbal alamin," jawab semuanya.
Suasana keakraban tercipta di dalam ruangan tersebut. Raisa sering kali melihat Richard yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
"Ya Allah… kenapa tatapan mata tajam bak Elang itu sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?" Batinnya Raisa keheranan dengan penuh tanda tanya.
Raisa tersipu malu, wajahnya merona memerah menahan rasa grogi dan nerfesnya, jika mereka saling beradu pandang tanpa sengaja.
"Aku harus cari waktu luang untuk membicarakan dan bertanya langsung padanya, siapa Ayah kandungnya Rei tapi apa dia akan jujur dan terbuka atau mungkin sebaiknya aku bertanya pada Rexy saja," gumam Richard.
Mereka sedang menikmati acara santainya ditemani dengan berbagai sajian kue kering dan basah buatan sepesial dari tangan Mirah untuk menyambut kedatangan calon menantunya.
"Apa yang terjadi di depan?" Tanya Mirah yang kebingungan.
"Sepertinya itu suara berasal dari depan parkiran mobil," timpal Maxi.
"Bagaimana kalau kita memeriksa apa yang terjadi," ucap Yudha yang mengajak lainnya untuk melihat apa yang terjadi.
"Iya ayo, sepertinya suaranya mirip dengan suaranya Aisyah," terangnya.
Mereka berlarian ke arah depan dan ingin memeriksa apa yang terjadi dan membuat seseorang berteriak.
Mereka berjalan terburu-buru ke arah depan, langkah mereka terhenti saat melihat tubuh Asisten pribadinya Richard berada di atas tubuhnya Aisyah dengan tangannya yang menempel seperti tokek dibagian aset terpentingnya Aisyah.
__ADS_1
Raisa segera menutup mata putranya karena menurutnya apa yang terjadi di depannya tidak boleh dilihat oleh putranya yang masih kecil.
Saking terkejutnya, Kemal dan Aisyah sama sekali tidak bangkit dari baringnya. Mereka saling bertatapan satu sama lainnya.
Aisyah seakan-akan melupakan bahwa tangannya Nathan masih setia di atas puncak gunung Bromo milik Aisyah.
"Empuk dan kenyal," perkataan itu berhasil meluncur dari mulutnya Kemal tanpa filter.
Plaaaakkkk!!!!
Tanda tangan dari Aisyah cukup keras hingga pipi kirinya Kenal Nathaniel Sanjaya memerah saking kuatnya tamparan yang dilayangkan oleh Aisyah.
Mereka yang melihat kejadian itu langsung bersamaan memegang pipi mereka. Seakan-akan pipi mereka yang terkena tamparan panas itu.
...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Dilema Diantara dua pilihan...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
__ADS_1
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......