Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 146


__ADS_3

"Apaaaaaa!! Mai tega menyamakan cewek seksi dan cantik ini dengan kucing!!" Canda Mayang yang berakting berpura-pura marah dan tidak suka.


Sedangkan Nadia dan Mairah sudah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Mayang.


"Yang namanya cewek cantik dan seksi itu pasti laku dan sudah menikah sedangkan kamu masih saja betah menjomblo iya gak Nad?" tanya Amai yang mengompori Mayang dengan seulas senyumannya.


"Kamu kok tahu sih Amai, jujur amat malah," timpal Nadia yang menambah untuk memperkeruh masalah.


"Awas yah kalian, kalau besok aku dapat cowok yang ganteng dan tajir bakal aku pamerin sama kamu dan Aku akan membuat kalian cemburu," ucap Mayang yang tidak sadar dan lupa jika dirinya sebenarnya sudah punya calon suami.


Perbincangan mereka berlanjut hingga ngelantur ngidul hingga sampai Sabang dan Merauke.


"Nadia gimana princess dia baik-baik saja kan? gw kangen nih sama putrimu," ucap Mirah yang tersenyum melihat Bayinya Nadia yang tertidur lelap dengan pose yang lucu.


"Alhamdulillah princess anteng-anteng saja kok malah tidak terlalu merepotkan sih, aku lebih santai selama dia lahir," jawab Nadia yang tersenyum manis.


"Gimana gak santuy kalau yang mengurus princess adalah neneknya, dia mah kerjaannya tidur mulu, lihat badannya yang semakin melar saj," sarkas Mayang yang ingin meledek Nadia yang terus tersenyum dibalik layar hpnya.


"Masya Allah Nad, tubuh kamu itu karung goni apa...?" tanyanya Mirah yang kaget melihat Nadia yang bobot tubuhnya semakin bertambah setelah melahirkan.


"Gak tau nih, berat badanku tiap Minggu naik, padahal aku sudah ikut program senam pasca melahirkan tapi gak ngaruh juga," ucap Nadia yang murung karena sudah gak langsing lagi.


"Percuma loh ikut senam, kamu tahu tidak itu cuma buang-buang cuan saja," ucap Mayang yang punya cara untuk membully Nadia.


"Kok kamu ngomong itu percuma malah itu bagus kalau Nadia ikut fitness, senam aerobik atau apa itu untuk menurunkan berat badannya,"kilah Mirah yang pura-pura tidak tahu padahal sebenarnya Mirah sangat mengerti dengan maksud dari Maya.


"Gimana gak percuma kalau Kerjaannya setiap hari cuma mati doang alias makan tidur, porsi makannya saja Amai kalau kamu lihat pasti kaget loh lihatnya, porsinya seperti orang yang tidak pernah makan dalam seminggu hahahaha," jelasnya Mayang yang tertawa terbahak-bahak menertawai keadaan Nadia.


"Salah sudah kasihan Nadia, dan suatu saat nanti kamu juga akan merasakan perubahan itu dalam diri kamu Sehingga kamu akan sadar betapa besar tugas kita sebagai seorang ibu," terang Mirah yang tidak sanggup lagi tertawa terbahak-bahak dengan kejahilan ke dua sahabatnya.

__ADS_1


"Besok aku antar oleh-oleh untuk princess dan mamanya, kalau untuk Mayang Aku bawa ke kantor saja," ucap Mirah.


Mereka berbincang-bincang hingga malam hari. Seperti itulah kebiasaan mereka jika ada waktu senggang mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk bercanda dan saling membully.


Mirah kembali menatap perhiasan satu stel yang diberikan oleh suaminya Yudha untuknya sebagai mas kawin atas pernikahannya. Ia pun membuka satu set perlengkapan shalatnya dan meraba bahannya yang sungguh halus dan adem jika dipakai.


Mirah pun memutuskan untuk memakai mukena tersebut sebagai perlengkapan shalatnya dan memakainya setiap hari jika dia shalat.


Mirah membuka jendela kamarnya dan mengijinkan angin masuk kedalam kamarnya yang berhasil menerpa wajah dan tirai jendelanya. Ia menatap cahaya rembulan yang begitu bersinar menyinari jagat raya malam ini.


"Ya Allah jadikanlah aku istri yang pintar berbakti kepada suamiku dan ijinkan Aku untuk melaksanakan kewajibanku sebagai istrinya," batinnya Mirah harapan Amairah sambil terus menatap Sang Dewi Malam.


Sedangkan di dalam kamar apartemen yang sangat mewah, seseorang pun ikutan berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati indahnya bulan purnama di atas langit yang tinggi dengan ditemani oleh beberapa kaleng minuman yang bersoda.


"Kenapa Aku sampai lupa untuk meminta nomor hp dan minta alamatnya di kota S?" Gumam Yudha pada dirinya sendiri.


"Aku telpon Doni saja yah pasti dia tahu nomor hpnya Mirah," jelas Yudha sambil meraih gawainya di atas Meja.


"Tolong kirim nomor HP dan alamatnya di Surabaya, karena minggu depan aku akan ke kota S, aku ingin mengikuti reuni teman SMA aku dan menghadiri acara pesta Perusahaan Pak Agung Wijaya dan aku ingin dia yang menemaniku," tutur Yudha dan langsung mematikan telponnya.


"Tapi...." perkataan Doni terpotong sebelum Dion berbicara lagi.


tutututut... bunyi HP yang sudah tidak terhubung lagi dengan si penelpon.


"Tapi..., kebiasaan dari dulu, selalu saja tidak memberikan saya waktu untuk menjawab tapi sebentar juga menelpon lagi kalau belum yakin dengan keputusannya," umpat Doni yang kembali menarik selimutnya dan sebelum tidur selalu memandang wajah sang calon istri yang keberadaannya entah kemana.


"Sepertinya dia lupa kalau ia yang katanya ingin menutupi status dari orang lain dan tentang jati dirinya di hadapan istrinya itu" cicitnya Doni lagi.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang judulnya tidak kalah seru loh, judul novelnya ada di bawah ini, ceritanya lebih Bagus dan seru pastinya dari ini.



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pesona Perawan


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..


Alurnya novel ini maju mundur cantik yah...

__ADS_1


__ADS_2