
Pertemuan yang mereka lakukan malam itu menghasilkan dan berbuah manis. Mereka berhasil menemukan titik temu dan pemecahan masalah. Mereka pun memutuskan untuk menginap di Apartemen tersebut. Doni dan Regan memilih untuk tidur di kamarnya Ali, untung muat dengan postur tubuh mereka yang cukup tinggi. Sedangkan Nenek Masitha bersama dengan Mayang.
Awalnya mereka ingin langsung ke kamar Nur Emaknya Alif, tapi mereka mengurungkan niatnya. Karena sudah jam 2 malam, mereka untuk memutuskan nanti besok pagi baru mereka berbicara dari hati ke hati agar terasa lebih enak dan santai. Tidak semua permasalahan yang dihadapi harus diatasi dan dipecahkan dengan menggunakan kekerasan ataupun pemaksaan.
Biarkanlah semuanya berjalan dan mengalir seperti apa adanya. Saling terbuka dan jujur serta saling memahami adalah salah satu kunci untuk mencari jalan keluar dari permasalahan. Mereka yakin Emaknya Alif pasti akan jujur dilihat dari sikapnya selama ini.
Ke esokan harinya, seperti biasanya Nurmala bangun lebih cepat dari yang lainnya. Sudah bergelut dengan kompor, panci dan pisau dapurnya. Nurala sedang sibuk masak makanan untuk sarapan mereka.
Berbagai masakan rumahan berhasil dimasaknya yang terakhir akan dia masak adalah sayur capcai, baru akan memotong bahannya, pergerakan tangannya terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Sontak dia memalingkan wajahnya ke arah belakang.
Betapa terkejutnya dirinya, di saat dia melihat siapa pemilik suara yang menyapanya itu. Tubuhnya langsung gemetaran ketakutan, keringatnya sudah bercucuran membasahi pipinya.
Tangannya langsung refleks terhenti, lututnya lemas hingga seakan-akan tidak mampu untuk menahan berat badannya. Nyonya Masitha yang melihat apa yang dialami oleh ibu Nur segera berjalan mendekatinya.
Bu Masitha menepuk pelan pundaknya Nur bertujuan agar Nur bersikap santai saja, dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan dan dirisaukan oleh beliau.
"Mungkin jalan yang terbaik adalah aku jujur saja, aku tidak mau dihantui rasa bersalah dan terbebani terus dengan rahasia besar ini, kalau pun mereka tahu dan Ingin memisahkan aku dengan Ali aku harus ikhlas dan sabar menerimanya, bagaimana pun juga aku bukanlah siapa-siapanya Ali," batinnya Nur.
"Nur bagaimana kabarmu dek?" Tanya Bu Masitha yang sudah duduk di kursi meja dapur pas di depan Nur.
"Alhamdulillah baik Mbak," balasnya yang spontan.
"Lama yah kita tidak jumpa, kalau tidak salah 30 tahun lebih yah Nur," ujarnya sambil mencicipi beberapa masakan yang sudah tersaji di atas meja makan dengan cantiknya.
__ADS_1
"Iya Mbak terakhir kita ketemu saat Mas Anwar di Penjara," jawabnya dengan wajahnya yang sendu lalu menundukkan kepalanya saking sedihnya.
Bu Masitha kembali teringat kala itu, saat dirinya begitu yakinnya jika Nur akan membantunya untuk segera bersaksi dan membebaskan suaminya dari hukumannya atas kesalahan suaminya yang tidak pernah dia lakukan.
Air matanya kembali menetes, tapi hal itu tidak ingin dipikirkan dan diratapi hingga berlarut-larut lamanya. Tidak ada gunanya selalu hidup dalam rasa penyesalan dan hidup dalam kata andai saja.
Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki yang sudah terlanjur terjadi dan berusaha untuk tidak kembali melakukan hal sama, ibaratnya jangan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya.
"Masakanmu masih seperti dahulu Nur, Saya masih ingat jika kamu berkunjung ke rumah Kamu selalu menyempatkan memasak makanan dan kue untuk Tuan Yudha kecil, saya merindukan hal seperti itu Nur," ucapnya yang berlinang sudah air matanya.
Nurmala pun sudah berdiri terpaku dan terisak dalam tangisnya. Beliau mengingat masa bahagianya dahulu sebelum iblis merasuki hati dan jiwa kakak satu-satunya itu yang merubah Nawir menjadi manusia berhati batu.
"Maafkan saya Mbak, saya tidak hadir di persidangan Mas Anwar dikarenakan Abang Nawir menculikku dan membawaku pergi jauh dari kota S waktu itu, hingga Abang Nawir memenjarakanku dan mengasingkan aku hampir empat tahun lamanya," ucapnya dengan sesekali sesegukan sambil melap air matanya.
Nyonya Masitha tidak menyangka jika ternyata Nur hidup dalam penyiksaan dari saudara kandungnya sendiri. Jangankan adiknya, orang tuanya pun dia biarkan hidup sengsara hingga maut menjemput mereka satu persatu. Nawir sedikit pun tidak iba dan kasihan kepada mereka.
Mereka berpelukan saling menyalurkan rasa rindu dan kesedihan serta kebahagiaan karena mereka masih bisa dipertemukan kembali setelah sekian lama terpisah. Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat atau didengar. Tetapi hanya bisa dirasakan dengan hati.
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
__ADS_1
Tetap dukung Cinta dan Dendam dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan dan Votenya yah Readers...