
"Alhamdulillah, Reinhard sangat baik-baik saja, apa Papi datang untuk jemput Rei dan Mami kan?" Tanyanya yang masih dalam gendongan Richard.
Richard menggendong tubuh Rei hingga ke dalam ruang tamu di dalam kediaman Utama Keluarga Yudha dengan penuh perjuangan karena tubuhnya Rei cukup berat.
Tetapi, sama sekali dia tidak perlihatkan.
Richard hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari Rei.
Miirah yang mendengar keributan dari perbincangan keduanya segera berjalan ke arah depan. Mirah tersenyum bahagia melihat kedekatan antara cucunya dan calon menantunya itu.
"Andai saja Richard adalah Ayah kandungmu, pasti Mommy sangat bahagia melihat kalian, Rei pasti juga akan sangat bahagia," batinnya Mirah.
Mirah tanpa segan meneteskan air matanya. Dia sudah beberapa kali melihat putrinya Raisa meratapi nasibnya yang harus menjadi single parent. Bahkan mereka sudah berusaha untuk mencari keberadaan dari ayah biologisnya Rei.
Tetapi, hingga sekarang belum ada tanda-tanda akan segera mengetahui keberadaan pria yang telah menanamkan benih di dalam rahim putri tunggalnya.
"Mommy dan Daddy akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Papi Kamu nak," lirihnya Mirah dengan wajah sendunya.
Mirah berjalan ke arah mereka dengan memberikan senyumannya kepada kedua pria yang berbeda generasi tersebut.
"Assalamualaikum," sapanya saat sudah duduk di hadapan mereka berdua.
Richard dan Rei kompak melihat ke arah sumber suara tersebut kemudian membalas salam dari Mirah dengan bersamaan, "Waalaikumsalam."
"Mommy melihat kalian sangat bahagia, memangnya apa yang membuat kalian sebahagia ini?" Tanyanya yang mulai duduk di salah satu sofa.
"Hari ini Papi Rich mau ajak Lee dengan Mami jalan-jalan loh Mama," sahutnya Rei.
"Pantesan Rei happy banget sedari tadi, ternyata kalian mau hiling gitu toh," ujarnya disertai dengan seulas senyuman.
"Apa Mama Mirah ingin ikut bareng Kami?" Tanya Rei yang menawarkan agar neneknya juga ikut sembari menatap ke arah Amairah berada.
"Maaf Mama gak bisa ikut gabung dengan kalian, Mama banyak urusan sayang, kan mau urus acara nikahannya Mami dengan Papimu," menolaknya dengan halus.
__ADS_1
"Aku bangunin Mami dulu yah Pi," pamit Rei sembari berlari ke arah tangga tanpa menunggu ucapan balasan dari Richard.
Richard hanya tersenyum menanggapi perkataan dari putranya yang sudah berlari meninggalkan mereka.
"Maaf mungkin akan sedikit menunggu lama, begitu lah kebiasaan Raisa kalau hari libur," terangnya Mirah yang tersenyum dengan tingkah putri tunggalnya itu.
"Tidak apa-apa kok Moms, sepertinya saya saja yang terlalu kepagian datangnya," balasnya dengan senyuman smirknya.
Rei berlari hingga ke depan pintu kamar Maminya. Dia mencoba memutar handle pintu. Dan ternyata pintu itu terbuka tidak terkunci.
"Alhamdulillah pintunya tidak terkunci, ini kebiasaan Mami sih kalau tidur lupa mengunci rapat pintunya," Rei geleng-geleng kepala dengan kebiasaan Maminya yang belum berubah juga.
Lee semakin menggelengkan kepalanya melihat tubuh Maminya yang tertutupi oleh selimut hingga tubuhnya sedikit pun tidak kelihatan.
Lee langsung melompat ke atas ranjang king size milik Delisha di bagian sisi kirinya.
Lee tersenyum sebelum melancarkan rencananya untuk ngerjain Maminya agar segera bangun.
"Mami ada cecak!! Tolong Mami ada cecak!!" Teriak Lee tepat di telinga Delisha.
"Aaaaaaahhhhhhh!!!"
Delisha melompat-lompat ketakutan dan berteriak-teriak saking takutnya jika berhubungan dengan cicak. Delisha lebih memilih untuk menghadapi pencuri tiga orang dari pada seekor cicak.
Abi dan Amairah yang kebetulan berada di lantai bawah mendengar tidak langsung teriakan dari Delisha. Mereka langsung berdiri dan berlari ke arah kamarnya Delisha.
Abi kaget dan khawatir jika terjadi sesuatu kepada kedua orang terpenting dalam hidupnya itu.
Tanpa banyak tanya Richardi langsung membuka pintu kamarnya Raisa. Dia melihat calon istrinya berteriak histeris dan melompat di atas ranjangnya.
Richard pun maju dan menarik tubuh Raisa dengan spontan ke dalam gendongannya.
Richard menggendong ala bridal style tubuhnya kekasihnya. Sedangkan Raisa semakin dibuat terkejut karena tubuhnya tiba-tiba melayang dan berputar.
__ADS_1
Saking takutnya dengan cicak dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Richard dengan matanya yang terpejam.
"Iiihhh tolong!!! singkirkan cicak itu dari dalam kamarku," teriak Raisa.
Richard melirik ke arah Mbak Marni dan beberapa art untuk segera mencari keberadaan cicak tersebut. Sedangkan Rei sedari tadi hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari perempuan yang telah melahirkannya.
Dia tidak kuasa menahan tawanya sehingga diujung pelupuk matanya meneteskan air mata.
Mirah melihat cucunya bertingkah seperti itu sudah mengetahui jika cucunya lah sumber dari kekacauan pagi hari itu.
Dia hanya tersenyum menutup mulutnya karena tidak ingin ada yang melihat jika dia tersenyum disaat putrinya ketakutan.
Richard tersenyum kegirangan karena telah menggendong tubuh kekasihnya sekaligus ibu dari anaknya untuk kedua kalinya walaupun dalam keadaan yang berbeda.
"Aku sangat bahagia bisa menggendong tubuhmu untuk kedua kalinya, dulu Kamu sendiri yang memintaku untuk menggendongmu tapi kali ini aku yakin berinisiatif untuk melakukannya dan aku sangat bahagia bahkan andai aku mampu, aku akan seperti ini terus," batinnya yang menatap tidak jemu wajahnya Raisa.
...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Dilema Diantara dua pilihan...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Baby Sitter...
__ADS_1
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......