
Sedangkan di tempat yang sangat jauh dari rumah sakit Pelita. Raisa yang baru saja sampai di Amerika Serikat tepatnya di Washington DC yang awalnya akan ke New York, segera menghubungi Abangnya yaitu Maxy. Tapi, Abangnya sama sekali tidak mengangkat teleponnya.
"Ya Allah… Abang dimana kok telponnya nggak diangkat juga sih padahal sedari tadi aku hubungi nomor hpnya, sesibuk itu sampai-sampai tidak bisa angkat telpon walaupun hanya semenit doang," kesalnya Raisa yang keheranan melihat teleponnya yang tidak terjawab.
"Ada apa Nona Muda?" Tanya Aisyah yang melihat Raisa yang seperti orang yang kebingungan dan gelisah.
"Ini Abang Maxi, gak tahu kenapa juga sekalipun gak angkat telpon ku padahal hpnya aktif, kan ga biasanya gitu?" tuturnya dengan memutar-mutar gawainya.
"Mungkin Tuan Muda Maxy lagi sibuk Non, jadi enggak sempat angkat," jawabnya Aisyah yang tidak ingin melihat Nona Raisa mencemaskan hal itu dengan berlebihan.
"May be yes, may be no," ujar Raisa lalu masuk ke dalam mobilnya dengan wajah dongkolnya.
Aisyah pun duduk di sampingnya Pak supir lalu berkata,
"Jalan Pak," perintah Aisyah setelah sabuk pengaman terpasang di tubuhnya.
Mobil mereka perlahan meninggalkan Bandara. Mobil mereka menuju Istana Tuan Besar Edward Chen.
Aisyah sedikit terlonjak kaget setelah menyadari hpnya yang berdering. Lamunan dan pikirannya buyar sesaat setelah mengetahui ada pesan chat yang masuk ke dalam nomornya.
Pikirannya masih gamang, dia tidak habis pikir dengan sikap Rizaldi yang tiba-tiba kemarin meminta bertemu dengannya.
Perkataan dari Rizaldi masih terngiang-ngiang di dalam ingatannya.
"Aisyah maukah kau menjadi istri sekaligus Ibu dari anak-anakku kelak?"
Aisyah tidak menjawab atau pun menolak keinginan dan permintaan dari Rizaldi. Dia langsung meninggalkan tempat pertemuan mereka. Dia tidak mampu menjawab permintaan dari pria sudah mampu mengisi relung hatinya yang paling terdalam.
"Aisyah ada apa?" Suara intrupsi dari Raisa membuatnya kembali tersadar dari lamunannya.
Aisah sedikit tersentak kaget, Dia pun menolehkan wajahnya ke arah Nonanya.
"Tidak apa-apa kok Nona," jawabnya yang menutupi kenyataan yang terjadi.
Raut wajahnya kembali sulit terbaca, Aisyah kembali ke mode cool dan irit bicara. Dia sedang berperang dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
Hpnya kembali bergetar pertanda ada pesan yang masuk. Ia segera meraih hpnya lalu memeriksanya.
Matanya terbelalak dan membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar saat membaca pesan singkat dari Adams.
Adams sudah mengetahui siapa Ayah biologisnya Rei, tetapi dia tidak berani mengutarakan penemuannya pada Rexy ataupun orang lain. Menurut Adams Aisyah adalah orang yang paling tepat.
"Ini tidak mungkin!! Dia kan Pria yang ingin…." gumam Aisyah yang tanpa sengaja di dengar sekilas oleh Raisa walaupun samar-samar.
Delisha memajukan tubuhnya ke arah kursi bagian depan.
"Aisyah, barusan Kamu bilang apa?" Tanyanya.
"Tidak apa-apa kok Nona, hanya kaget melihat berita artis di sosmed," kilahnya yang jarinya diam-diam menekan tombol aplikasi yang berwarna biru itu.
"Ooh gitu, Kamu yah sedari tadi bikin aku kepo mulu," balasnya yang tersenyum menanggapi tingkahnya Aisyah.
"Maafkan saya Nona, Saya harus kembali berbohong, belum saatnya Nona ketahui semuanya, Kami ingin cari tahu dan memastikan kenapa dulu sampai terjadi hal itu, jika Nona tahu aku yakin Nona akan menjalankan janji nona untuk balas dendam." Batin Aisyah.
Mobil mereka melaju dengan mulus tanpa kendala macet di atas aspal.
Aisyah hanya tersenyum dan memiliki cara tersendiri untuk mengatasi kenyataan itu.
Rumah Sakit Pelita Harapan, di dalam kamar perawatan Rei. Rexy terpaksa meninggalkan keponakannya bersama orang asing yang baru dikenal dekat dengannya.
Dia ragu untuk mengutarakan permohonannya, dan apa yang ingin dia sampaikan sedikit mungkin sulit untuk dipenuhi oleh Tuan Richard.
"Heemmm!" Rexy berdehem untuk menetralkan perasaannya.
Mereka berdua membalas menatapnya dengan tatapan keheranan. Sedangkan yang ditatap malah salah tingkah dan tertawa tidak jelas, Rexy menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari cengengesan.
Dennis berjalan perlahan mendekat ke arah ranjangnya Rei yang ingin mengutarakan niatnya jika dia akan pergi ke kantornya untuk kembali bekerja.
"Tuan Richard, Saya sangat meminta maaf ya sebesarnya dan sedalam-dalamnya karena ingin meminta tolong kepada Bapak," tuturnya yang kebingungan mau memulai dari mana arah pembicaraannya.
"Maksudnya?" Tanyanya dengan Tatapannya tertuju pada Rexy.
__ADS_1
"Begini Pak…" ucapannya terpotong sebelum dia menyelesaikan perkataannya.
"Aku minta sama kamu, mulai detik ini tolong jangan panggil bapak, Tuan atau pak panggil saja Richard, lagian kita hanya beda delapan tahun sepertinya, aku masih muda tidak setua itu juga untuk terus dipanggil bapak," jelasnya disertai dengan senyuman mahalnya.
Redy yang melihat langsung senyuman dari Richard terkejut. Dia melihat senyuman itu mirip dengan seseorang.
"Senyumannya itu mengingatkan aku dengan seseorng, tapi yang jadi masalah siapa, tapi sepertinya senyuman itu aku sering melihatnya." Batinnya Rexy.
Richard yang melihat Rexy terdiam membisu dan mematung segera berjalan ke arah Rexy. Dia kemudian menepuk lengan kanannya Rexy dengan pelan.
"Maaf Kamu tadi mau minta tolong apa Rex?" Tanya Richard yang sudah berdiri tegak di hadapan Rexy.
Rexy merasa tidak enak hati dan sungkan dengan keinginannya itu, dan hal ini terpaksa dia lakukan mengingat tidak jalan terakhir dan keluar lainnya. Dia segan untuk mengutarakan keinginannya.
"Begini Abang, barusan ada telpon dari sekertarisku yang mengatakan jika ada meeting yang sangat mendadak dan penting, jadi…" ucapannya kembali terpotong.
Rexy merasa baru kali ini dia kesulitan untuk berbicara. Ada rasa segan dan malu di saat berhadapan dengan Richard.
"Lanjutkan saja Rexy, apa yang terjadi," tuturnya.
"Saya ingin menitipkan sebentar Lee sama Abang kebetulan ada rapat penting yang tiba-tiba di Kantor, dan rapatnya tidak bisa Saya tunda atau pun tidak saya hadiri." Jelasnya Rexy yang sedikit enggan untuk melakukan hal itu.
Richard tersenyum sebelum menjawab pertanyaan sekaligus permohonan dari Rexy.
"Tidak apa-apa kok, silahkan pergi dan kebetulan juga saya tidak ada kerjaan yang penting," jelasnya yang sedikit berbohong menutupi kenyataan yang ada.
Richard terpaksa berbohong padahal dia juga ada janji dengan kliennya yang sangat penting, tetapi entah kenapa dia sangat tidak ingin dan tidak bisa meninggalkan Rei dalam keadaan seperti ini.
Hati kecilnya tergerak dan terpanggil untuk selalu bersama di sampingnya Rei. Ia juga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Seakan-akan ada benang merah yang mengikat mereka. Hingga Richard seperti terhipnotis dengan Rei.
"Makasih banyak sebelumnya kalau gitu Abang, Aku pamit dulu," balasnya yang sudah bisa bernafas lega, lalu ia pun berjalan mendekati Rei.
"Rei, uncle pergi dulu yah sayang, nanti kalau kerjaan Uncle sudah selesai pasti akan ke sini lagi untuk menemuimu" ujarnya sambil menyugar rambutnya Rei.
Rei menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Rexy tidak ingin ada keluarganya yang tahu, jika Rei kecelakaan. Mereka pasti bisa heboh terutama Neneknya. Keadaan Rei juga sudah membaik dan tidak parah sehingga Dia mengurungkan niatnya untuk memberitahukan ke Mommy dan Daddy-nya.
__ADS_1
Rexy meninggalkan ruangan tersebut. Rei sekarang cuma berdua dengan Richard di dalam kamar itu. Mereka cepat akrab dan nyambung satu sama lainnya.
Richard yang awalnya trauma, sudah bisa perlahan melupakan rasa takutnya yang tiba-tiba tadi teringat dengan saat dia ditabrak berkat kehadiran dan kasih sayang yang dicurahkan oleh Richard untuknya.