
Nenek Ratnasari menatap ke arah cucu perempuannya yang akhirnya akan menikah juga. Air matanya tumpah ruah saat mengingat kejadian beberapa tahun silam. Saat dimana suaminya harus masuk penjara dan meninggal karena obsesi sesat dari kawannya sendiri.
Flashback on…
Harta, tahta dan wanita kadang membuat seseorang khilaf dan lupa daratan. Karena sudah terhasut dan termakan bujuk rayuan setan sehingga, Pak Ardi lupa dengan persahabatannya. Ia lupa kalau selama ini ke dua sahabatnya itu lah yang selalu ada dan setia menemaninya dalam keadaan apa pun.
Kekerasan dan perlakuan kasar yang sering kali Ardi dapatkan dari Bapaknya yang membuatnya menjadi seseorang yang lupa dengan kebaikan dari orang lain. Kemudian akhirnya lari ke tempat yang tidak seharusnya dia datangi yaitu Bar, tempat judi bahkan tempat prostitusi pun dia jabanin.
Setiap hari Ardi datang ke tempat itu bahkan dia sudah acuh tak acuh dengan mengurus pabrik mereka. Ia akan datang ke pabrik jika butuh uang dan akan mengambil secara diam-diam, tanpa sepengetahuan dari ke dua sahabatnya hingga hal tersebut berlangsung berbulan-bulan lamanya.
"Masa bodoh dengan mereka, yang paling penting Aku bisa bersenang-senang dan hura-hura dengan teman wanitaku," umpatnya Ardi.
Bahkan kelakuannya semakin menjadi saja walaupun ibu dan saudaranya sudah memperingatkan kepadanya untuk menghentikan kelakuan jeleknya.
Suatu hari terjadi perdebatan kecil di dalam rumahnya yang sangat sederhana itu.
"Ardi kasihanilah Ibu nak, hentikan semua ini Nak, huuuuhhh" ucap Ibunya Bu Tati yang sudah batuk-batuk dan lemah tidak berdaya.
"Kakak kami mohon dengarkan perkataan ibu Kak, apa Kakak tidak kasihan sama ibu?" ucap Adiknya Hasnah.
Hasnah adalah adik satu-satunya yang dia miliki saat itu tapi, mengetahui semua kejahatan yang dilakukan oleh Ardi tanpa terkecuali. Ardi memutar badannya saat sudah berada di ambang pintu, lalu tersenyum penuh kelicikan dan keangkuhannya.
"Aku tidak perduli dengan keadaan Ibu mau hidup, sakit dan mati pun Aku sama sekali tidak perduli, siapa suruh harus hidup miskin," umpatnya Ardi bahkan sudah menendang adiknya yang berusaha untuk menahan langkahnya.
"Kakak sadarlah sebelum terlamba!!t" teriak Hasnah yang melihat ada sebuah pistol yang Ardi masukkan ke dalam saku celananya secara diam-diam.
__ADS_1
"Ya Allah… jangan biarkan Kakakku Nurman berbuat yang tidak baik ya Allah, Aku harus mengikuti langkah kakak ke mana pun, Aku tidak ingin melihat Kakak melakukan kejahatan lagi, tapi gimana dengan Ibu siapa yang akan menjaganya dan ini sudah malam". Gumam Hasnah
Hasna pun pergi ke rumah Bibinya untuk meminta bantuan kepada adik sepupunya untuk membantunya menjaga Ibunya sebentar karena Ingin mengikuti langkah kaki Kakaknya. Ia pun meminta ijin dan meminta tolong.
"Aku minta tolong yah, bantu saya untuk jaga Bibi karena Nirmala ingin mencari obat herbal untuk ibuku" pintanya Hasnah yang berbohong kepada adik sepupunya agar tidak ada yang curiga.
"Siap kakak, tapi kalau harus hati-hati dan jangan lupa pulang segera Kalau sudah dapat obatnya" ucap Nisa adik sepupunya.
Hasnah awalnya kehilangan jejak kakaknya tetapi, dia tidak putus asa dan terus mencari keberadaan kakaknya hingga kakinya berhenti di depan sebuah Bar yang sangat ramai dikunjungi oleh tamu. Ia berdiri tidak jauh dari pintu masuk bar tersebut agar tidak kehilangan jejak dari Ardi.
Tidak lama kemudian Ardi pun keluar sambil menggandeng seorang perempuan bayaran yang tidak lain adalah kekasihnya Ardi yang selalu melayaninya. Dia jika datang ke tempat itu. Hasnah terus mengikuti kakaknya diam-diam hingga masuk ke dalam area Pabrik.
"Tumben pabriknya sepi ini kan baru jam 8 malam biasanya banyak yang lembur," lirihnya dengan wajahnya yang keheranan karena tidak mendapati karyawan yang sedang lembur.
"Astaugfirullah Kakak, sadarlah Kakak hentikan apa yang kakak lakukan sebelum Kakak menyesalinya," Cicitnya Hasnah.
Ia menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak lama kemudian melihat Anwar, Alex dan kakaknya sudah saling beradu mulut. Mereka saling mengumpat satu sama lainnya. Dia semakin mendekati mereka dan berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan.
Hasnah hanya menggelengkan kepalanya dan menangis saat kakaknya menembaki dada Alex sahabatnya. Dengan brutal tanpa ampun. Hasnah menjadi saksi bisu saat insiden itu berlangsung.
Bahkan kemampuan Hasnah saat itu, hanya terdiam mematung sambil menutup mulutnya dan hanya air matanya yang menetes membasahi pipi tirusnya saat Ardi terjatuh dari lantai dua karena ulahnya sendiri.
"Aaaahhh kakak," pekiknya dengan menutup rapat mulutnya agar tidak ketahuan.
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
__ADS_1