
"Halo, assalamualaikum Tuan Muda," ucapnya.
"Waalaikumsalam, ada apa Kemal?" Dengan pandangannya masih tertuju pada laptop yang ada di depannya.
"Reinhard ada di RS, tadi pagi dia keserempet mobil dan Pemilik Perusahaan The Sun ingin mengetahui identitas asli dari Lee," tuturnya yang ingin mengetahui reaksi dan tanggapan dari Rexy.
"Apa!!!! Itu tidak mungkin, tadi pagi Raisa sendiri yang mengantar Lee ke sekolahnya, kalau gitu aku akan segera ke Rumah Sakit tersebut," ujarnya lalu meraih jas dan kunci mobilnya.
"Tuan Muda, tapi tunggu dulu apa yang harus aku katakan kepada temanku tentang Rei?" Tanyanya yang kebingungan juga dan segera menghentikan langkahnya Rexi.
"Katakan saja sesuai yang dia inginkan yang penting jangan sebut Raisa adalah Ibu kandungnya dari Reinhard Aryasatya," jawabnya dengan wajahnya sudah nampak sangat serius itu.
Bryan kemudian mematikan sambungan teleponnya. Sedangkan Rexy bergegas ke RS. Dia mengabari kepada asisten pribadinya dan sekretarisnya, kalau dia akan pergi keluar.
Rexy mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia bahkan tidak mengindahkan lampu merah. Bahkan belum saatnya jalan, dia sudah melajukan mobilnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mobilnya sudah terparkir di depan Lobby RS DA. Dia terus berjalan ke arah tempat informasi untuk bertanya di mana ruangan perawatan Rei.
"Maaf pasien atas nama Rei, di sini tidak Pak, mungkin ada yang lebih spesifik yang bisa kami tandai?" Tanya Perawat tersebut yang meminta petunjuk lainnya.
__ADS_1
"Dia anak SD International School, umurnya sekitar 8 tahun lebih rambutnya agak pirang, tingginya kira-kira setinggi dadaku," jelasnya Rexy yang menerangkan tentang ciri-ciri fisik Rei keponakannya itu.
"Tunggu ya Pak saya cari anak yang sesuai dengan ciri-ciri yang Bapak maksudkan," tuturnya dengan kembali fokus ke komputernya.
Rexy berdiri dengan kecemasan yang melandanya. Dia sudah sangat khawatir dengan kondisi keponakannya.
"Ya allah… semoga Rei baik-baik saja, aku tidak ingin terjadi sesuatu sama keponakanku, aku tidak tahu harus bilang apa sama Maminya jika hal yang buruk menimpanya," cicitnya yang sudah sangat cemas.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, perawat itu sudah memberikan informasi yang sangat akurat.
"Makasih banyak Sus," ujarnya lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dimaksudkan oleh Perawat tersebut.
Langkahnya semakin cepat, dia dibuat khawatir dengan keadaan Rei. Dia berlari hingga tatapan dari orang-orang melihatnya dengan aneh. Tetapi, dia tidak perduli sama sekali. Yang paling penting adalah adalah dia bisa melihat kondisi anak dari adiknya saat itu juga.
Pandangannya langsung tertuju pada sosok seorang anak kecil laki-laki yang terbaring lemah di atas Bangkar ranjang RS.
"Reinhard!!!," teriaknya Rexy yang semakin mempercepat langkahnya.
Rexy mendekap tubuh kecil Reinhard dengan deraian air matanya. Dia menangis tersedu-sedu melihat kondisi Rei yang di kepalanya penuh dengan perban dan di bagian tangan serta kakinya pun terdapat beberapa luka yang sedikit sudah mulai mengering.
__ADS_1
"Maafkan Uncle boys yang sudah tidak menjagamu dengan baik, ini semua salah Uncle yang sudah lalai," ratap Rexy yang meminta maaf atas musibah yang menimpa keponakannya gara-gara kelalaiannya.
Dia menumpahkan segala keresahan hatinya. Ketakutan dan kecemasannya bercampur menjadi satu.
"Rei maafkan Uncle yah Nak, kalau Mami Kamu tahu seperti ini, pasti Mamimu akan memarahi Uncle," terangnya lalu memeluk dengan lembut tubuhnya Rei.
Rexy tidak mengetahui dan menyadari bahwa seseorang sedari tadi memperhatikannya.
Pria itu awalnya tertidur di atas kursi panjang, tetapi suara pintu dan isak tangisnya Rexy yang telah mengusik ketenangan tidurnya di siang hari itu.
Pria itu tidak lain adalah Richard. Dia orang yang telah ikut andil dalam kecelakaan yang dialami oleh Rei, walaupun sebenarnya Rei lah sendiri yang bersalah sebenarnya yang berlari di tengah jalan dan terjatuh.
Richard perlahan mendekati Rei. Dia memegang pundaknya Rexy yang membuat dia terkejut.
"Kamu!!!!" Ucap Rexy dan Richard bersamaan.
Mereka sama-sama saling terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta dan Benci..
__ADS_1
By Fania Mikaila Az Zahra
Takalar, Selasa, 09 Juli 2022