
"Rasain loh emangnya enak, punya istri yang cantik kok gak di publish apa sih kurangnya Mirah lagian sudah punya anak juga masih gitu kelakuannya," batinnya Nyonya Masitha.
Yudha masih belum move on memikirkan bagaimana nanti jika Mirah menganggap bahwa bukan dia Ayah kandung Maxy dan menganggap bahwa itu anaknya Agam mantan suaminya dan masih belum menemukan caranya untuk menyampaikan kepada Mirah.
Yudha berniat untuk meminta maaf atas perbuatannya yang gara-gara dia yang telah merenggut mahkotanya sekarang dihadapkan lagi dengan permintaan neneknya untuk membawa Mairah ke hadapan keluarga besarnya.
Yudha semakin dibuat pusing saja dan Martin lebih memilih untuk menghadapi tender proyek kerjasama yang sulit dari pada harus menghadapi masalah seperti sekarang ini.
Ada dua jalan yang bisa dipilih jika dihadapkan pada suatu kenyataan yaitu mengakui kenyataan itu atau kah harus menghindari atau pun menolak mentah-mentah. Yudha bukannya tidak ingin menerima kenyataan itu ataupun ingin lari dari kenyataan dan terlalu takut untuk berkata jujur dengan konsekuensi dari kejujurannya tersebut.
Tetapi Yudha malah memilih untuk hidup dalam kebingungan dan kebimbangan dan tidak tahu harus bagaimana untuk mengatasi kemelut dalam rumah tangganya. Ia kesulitan menyampaikan kepada Miirah bahwa dia adalah Pria yang telah merenggut kehormatannya malam itu dalam keadaan tidak sadarkan diri..
"Aku harus gimana ya Allah, aku takut jika Mirah membenciku jika dia tahu kalau aku lah pria bajingan yang telah tega melakukan perbuatan bejak itu," batinnya Yudha.
Yudha pun mengambil hpnya untuk menghubungi nomor hp Dion agar segera mencari kalung yang pernah dia pakai dan terjatuh di hotel tempat dia digrebek oleh warga masyarakat yang sudah terencana dengan baik.
"Assalamu alaikum Dion," ucapkan salam Yudha saat telponnya berhasil tersambung.
"Waalaikum salam," jawab Dion di seberang telepon.
"Tolong secepatnya cari keberadaan kalungku yang terjatuh di sekitar hotel tapi ingat jangan katakan kepada Mama Masitha, kalau Aku mencari kalung itu," jelasnya Yudha.
"Ok kalau masalah itu yang penting ada pulusnya," ucap Dion di balik telponnya yang sudah membayangkan akan dapat bonus lagi.
"Aku akan kasih kamu bonus, asalkan kalung itu sudah ada di tanganku," ungkap Yudha sembari menatap pemandangan laut dan sunset sore itu melalui jendela kamar hotelnya.
"Baik bos, hitung-hitung sebagai tambahan modal untuk nikah," gurau Dion.
__ADS_1
Yudha pun mematikan telponnya dan kembali berbaring di atas ranjangnya dan kembali mengkhayalkan sosok istrinya. Ia kemudian membuka galeri foto dan mencari foto seorang cewek tersebut.
Hingga Yudha melihat foto Mirah yang menurutnya jadul banget, tapi tetap cantik dan mengeluarkan aura alaminya. Gaya berpakaiannya seperti seorang ibu-ibu bin emak-emak saja.
"Cantik, apa pun pakaian yang kamu pakai kamu tetap cantik dan sama sekali tidak mengurangi aura kecantikanmu sayang," gumam Yudha yang memuji kecantikan alami dan natural istrinya itu.
Yudha masih memandang wajah Mirah yang semakin ia pandang semakin cantik saja. Dia mengelus wajah cantik Mirah di dalam foto itu dan terkejut saat hpnya tiba-tiba berdering dan menampilkan wajah wakil kepala direktur bagian keuangan.
"Sore Pak, Maaf ganggu aktifitasnya," ucap Pak Rudi selaku kepala divisi di perusahaannya.
"Sore juga pak Rudiansyah, ada yang penting pak??" tanya balik Yudha dengan sedikit mengerang kesal yang merasa jengkel karena kesenangannya terganggu.
"Pak Yudha! apa Bapak bisa datang ke sini pak kebetulan kami sangat membutuhkan kedatangan bapak karena pak Agung Wijaya ingin bertemu langsung dengan bapak dan menolak bertemu dengan perwakilan dari perusahaan kita," jelas Pak Rudiansyah.
"Ok besok pagi saya akan langsung datang ke sana dan tolong persiapkan dengan baik semua proposal kerja sama kita lagi dan saya tidak ingin ada kesalahan yang terjadi sedikit pun dan persiapkan dua orang dari divisi Humas untuk menemani saya nantinya untuk bertemu dengan Pak Agung," timpalnya Yudha.
Yudha bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk mencari makanan yang cocok dengan perutnya. Ia masih kebingungan dan ragu dengan langkah yang akan dia tempuh.
Malam pun datang menyapa insan yang masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Sang Dewi Malam telah menampakkan kecantikannya untuk menyinari malam hari ini. Bintang pun ikut membantu tugas sang purnama.
Mairah yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk buah hatinya Maxy dengan deringan hpnya membuatnya harus sementara berhenti sejenak.
"Mbak Marni tolong selesain masakan Mirah yah, Aku mau angkat telpon soalnya," ujarnya Mirah kepada Mbak Marni.
"Tinggal tunggu masakannya mateng kan Bu, semua rasaku padanya sudah ada di dalam masakannya," ucap Mbak Marni yang langsung kena timpukan di lengannya oleh Mbak Wati.
"Iya Mbak, maaf yah ada telpon penting dari kantor," jelas Amairah lagi yang masih tersenyum menanggapi guyonan Mbak Marni sambil berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
Mirah kemudian memeriksa siapa yang menelponnya di malam hari itu yang sudah menggangu istirahatnya. Mirah pun langsung mengangkat telponnya setelah mengetahui kalau yang menelponnya adalah Pak Rudi selaku wakil direktur di perusahaan tempat ia bekerja.
..........
Jangan lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang judulnya tidak kalah seru loh, judul novelnya ada di bawah ini, ceritanya lebih Bagus dan seru pastinya dari ini.
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...