Cinta dan Dendam

Cinta dan Dendam
Bab. 140


__ADS_3

Sekarang Mirah pun sudah berbaring di atas ranjangnya. Kemudian Yudha pun menyusul naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping istrinya dan tidak lupa menyelimuti tubuh mereka.


"Lima tahun kita tidak bertemu, wajahmu semakin cantik dan kembali membuatku jatuh cinta hingga berulang kali." gumamnya Yudha dengan seulas senyumannya.


Yudha berinisiatif untuk membalik posisinya sehingga sudah berhadapan dengan Miirah yang sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan olehnya sedari tadi.


Yudha mulai keningnya Mirah, perlahan ke bawah hingga ke hidung mancung nan bangir milik mirah dan berhenti sejenak di depan bibirnya istrinya itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Yudha mulai hanya memainkan kedua bibir Mirah yang memerah seperti buah delima itu. Ia yang sudah lama tidak melakukan dan berpuasa beberapa tahun lamanya, hal itu pun akhirnya memutuskan untuk mencium bibir Istrinya dengan perlahan dan sangat lembut.


Saking lembutnya membuat Mirah tanpa dia sadari membuka mulutnya, dia tersenyum melihat hal itu seakan-akan Mirah memberinya akses dan jalan untuk berbuat lebih dari sekedar ciuman biasa saja.


Yudha tersenyum penuh arti, "Semoga saja Istriku tidak terbangun dari tidurnya, kalau pun bangun itu sangat memalukan jika melihatku mengambil ciumannya tanpa seijinnya dalam keadaan tidur pula."


Apa yang dilakukannya membuat Yudha tersenyum malu-malu sendiri dengan apa yang akan dia lakukan di atas bibir Mirah yang ranum seperti merahnya buah delima di atas pohonnya.


Yudha perlahan memajukan wajahnya yang hanya terpangkas beberapa centimeter saja jaraknya. Ia perlahan menciumi bibir merah merona itu dan perlahan ********** karena Mirah membuka jalan yang mempermudahnya.


Perlahan ciumannya sehingga Yudha semakin bebas melakukan apapun pun dan tidak segan lagi untuk ********** dan memainkan lidahnya di dalam area rongga mulut istrinya sendiri.


Yudha semakin bahagia jingga tanpa mereka sadari keluarlah des ah an dan lenguhan kecil dari keduanya. Ia tersenyum gembira melihat sikap Mirah yang memberikan keleluasaan dan kebebasan untuk bermain di area itu.


Yudha kemudian berinisiatif untuk memegang tengkuk lehernya Mirah dengan lembutnya dan hati-hati sehingga mampu untuk semakin memperdalam lumatannya dan mereka sudah saling bertukar saliva masing-masing.


Hal tersebut berlangsung hingga beberapa menit sampai nafas mereka saling memburu dan seakan-akan akan kehabisan nafasnya, sehingga Yudha semakin bebas dan leluasa pun berinisiatif untuk mengakhiri kegiatannya di tengah malam buta itu. Nafas dari mereka terengah-engah dan sebenarnya Yudha menginginkan hal lebih di atas tubuh istrinya itu.

__ADS_1


Tetapi Yudha sama sekali tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia ingin melakukan hal yang lebih jika Mirah dengan senang hati dan suka rela mengijinkan dia untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami yang sudah lama tidak terpenuhi.


"Makasih banyak sayang, maaf Mas harus melakukannya tanpa seijin kau terlebih dahulu, Mas tidak sanggup menahan hasrat yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya Mas hanya melihat bibirmu sayang," cicitnya Yudha dengan tersenyum kegirangan.


Yudha melihat ada kotak box tissue, lalu meraih tissue yang ada di atas meja nakas, tissue itu dipakai untuk membersihkan sisa-sisa saliva mereka yang sudah bercampur dan tersisa sedikit di ujung bibir istrinya.


Jam di dinding baru menunjukkan pukul 02:15 Yudha bangkit dari tidurnya dan menyelimuti tubuh Mirah. Yudha akan melaksanakan sholat tahajud terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan istirahat dengan tertidur di samping istrinya itu. Yudha berjalan ke arah toilet yang ada di dalam ruangan itu, dan bergegas mengambil air wudhu.


Yudha mengganti pakaiannya yang dipakainya dengan setelan pakaian yang ada di dalam lemari yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Doni untuknya.


"Sahabatku Doni sedari dulu memang pantas untuk diandalkan dalam segala hal selalu mendampingiku kemanapun Aku pergi." Lirihnya Yudha dengan senyuman lebarnya.


Tak henti-hentinya Yudha sangat bersyukur karena memiliki asisten pribadi sekaligus sahabat baiknya yang seperti Doni yang selalu mengerti dengan keadaan dari bosnya. Di dalam lemari itu sudah lengkap dengan pakaiannya serta perlengkapan shalatnya untuk dia dan Amairah pun lengkap di dalam lemari itu.


Pertemuannya kembali dengan istrinya dan dalam doanya meminta agar Mirah tidak lagi pergi dari sisinya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Setelah melaksanakan shalat sunnah dan menyelesaikan ritual doanya yang begitu panjang.


Yudha berjalan pun kembali berdiri dan melipat perlengkapan shalatnya terlebih dahulu dan memasukkan kembali ke dalam lemari. Ia pun kembali ke atas ranjang dan ikut memejamkan matanya menuju pulau kapuk dan siap untuk tertidur lelap di samping Mirah.


"Makasih banyak sayang, untaian kata-kata mungkin takkan cukup bisa menjelaskan arti penting dirimu bagiku, tapi yang ku tahu pasti dirimu adalah pusat duniaku dan seluruh bagian dari hatiku," batinnya Yudha.


Yudha mengecup dan mencium kening istrinya sebelum memejamkan matanya tangannya yang melingkar di atas tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa untuk mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang judulnya tidak kalah seru loh, judul novelnya ada di bawah ini, ceritanya lebih Bagus dan seru pastinya dari ini.

__ADS_1



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pesona Perawan


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..

__ADS_1


__ADS_2