
Richard perlahan mendekati Rexy yang memeluk tubuh Reinhard. Dia memegang pundaknya Rexy dari belakang yang membuat Rexy tersentak terkejut.
"Kamu!!!!" Pekik mereka bersamaan.
Mereka sama-sama saling terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang masing-masing mereka lihat.
"Kamu kan Rexy putranya Pak Yudha Barata Subroto kan?" Tanyanya sembari mengacungkan tangannya untuk menjabat tangannya Rexy.
"Benar sekali apa yang Bapak katakan, Saya adalah Rexy putra keduanya Pak Yuda," jawabnya dengan tatapan tajamnya.
"Maaf, kalau boleh tahu Anda siapa dan kenapa tahu saya?" Tanyanya balik Rexy yang kebingungan dan melupakan bahkan tidak mengenal pria yang ada di depannya.
"Saya Richard," ujarnya sambil membalas menjabat tangan Rexy.
"Kalau gitu ada hubungan apa Anda dengan anak itu?" Tanyanya yang ingin mengetahui hubungan mereka.
"Dia anaknya adik kembarku, kebetulan Maminya ke luar negeri," jawabnya sambil mengelus kepala Reinhard.
"Serius, dia adalah keponakanmu?" Tanyanya yang tidak percaya dengan penjelasan dari Rexy.
Richard balas menatap ke arah Reinhard," aku kira Kamu tidak punya adik ternyata, ada yah," sanggahnya yang masih tidak percaya dengan penjelasan dari mulutnya Rexy.
"Kapan-kapan jalan-jalan ke Rumah Pak supaya tahu dengan anggota keluargaku," balasnya Rexy karena melihat ada raut tidak percaya dari Richard pria yang ada di depannya itu.
"Makasih banyak, insya Allah kalau ada waktu Saya pasti mampir ke rumahnya tapi saya maunya titip masakan buatan Mommy Kamu, katanya masakan Momymu sangat lezat," ujarnya dengan memberikan senyumannya tulus.
"Kalau masalah itu bisa diatur dan masalah gampang saja," terangnya.
__ADS_1
Rexy belum mengetahui kalau Richard adalah Pria yang nantinya dijodohkan dengan Raisa adiknya, oleh Kakeknya Tuan Besar John dan Amelia Horne.
Richard pun demikian tidak tahu jika, Rexy adalah saudara Raisa.
Mereka berbincang-bincang sambil menunggui Rei sampai sadar. Percakapan antara dua pria dewasa tidak lain dan tidak lepas dari dunia perusahaan dan bisnis semata.
Beberapa saat kemudian,Rei sudah siuman dari pingsannya. Dia mengerjapkan matanya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang serba bercat putih bersih itu.
"Mami," ucapnya dengan nada suara yang sangat lemah.
Rexy segera berdiri dari duduknya, dan berjalan tergesa-gesa ke arah tempat Rei berada.
"Uncle ada di sini sayang," teriaknya karena belum sampai di tempat ranjangnya Rei.
Rei menolehkan kepalanya ke arah Rexy berada. Dia tersenyum melihat Kakak dari Maminya.
Rexy memegang tangan Lee seakan menyalurkan perasaan tenang untuk keponakannya.
"Kan tadi pagi, Mami sudah ijin sama Tei, apa kamu lupa sayang?" Tanyanya Rexy dengan penuh kelembutan.
"Hehehe lupa Uncle,"ucap Rei dengan polosnya dengan cengengesan.
Richard terenyuh melihat senyuman dari Rei, dia merasakan dejavu dengan senyum yang tersungging dari wajah Rei. Serasa dia melihat senyuman yang sering dia lihat selama ini, tapi dia lupa mirip dengan siapa senyuman itu.
"Kenapa senyuman dan wajahnya mengingatkan aku dengan seseorang, tapi tidak tahu siapa orangnya?" Ricard membatin lalu menatap intens senyuman tulus dari Rey.
Richard pun kebingungan untuk mengingat dengan baik. Dia sangat hafal dan kenal dengan senyuman itu tapi,lupa dengan pemilik senyuman itu.
__ADS_1
"Uncle, haus," ujarnya lalu menyentuh bagian lehernya.
"Rey haus butuh minum, tunggu dulu Uncle ambilkan," ujarnya di depan Rei lalu segera bergerak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rei keponakan satu-satunya yang dia miliki.
Baru saja Rexy berdiri ingin mengambil gelas di dalam lemari, tapi langkahnya sedikit lambat sehingga didahului oleh Abimanyu.
"Ini Boys, minumnya pelan-pelan yah," tuturnya dengan penuh perhatian dan kasih sayang lalu tangannya membantu untuk memegang punggungnya Rei agar lebih leluasa untuk minum.
Redy segera mengatur ranjang itu, ia melihat posisi Rei yang kurang nyaman. Keduanya bagaikan Ayah dan Ibunya saja untuk Rei saat itu.
Rei yang awalnya mencari keberadaan Maminya, berkat dua pria gagah dan handshome Rei bisa tersenyum dan perlahan beradaptasi dan sesaat melupakan sosok kehadiran Maminya.
Sedangkan di tempat yang sangat jauh dari rumah sakit Pelita. Raisa yang baru saja sampai di Amerika Serikat tepatnya di Washington DC yang awalnya akan ke New York, segera menghubungi Abangnya yaitu Maxy. Tapi, Abangnya sama sekali tidak mengangkat teleponnya.
"Ya Allah… Abang dimana kok telponnya nggak diangkat juga sih padahal sedari tadi aku hubungi nomor hpnya, sesibuk itu sampai-sampai tidak bisa angkat telpon walaupun hanya semenit doang," kesalnya Raisa yang keheranan melihat teleponnya yang tidak terjawab.
"Ada apa Nona Muda?" Tanya Aisyah yang melihat Raisa yang seperti orang yang kebingungan dan gelisah.
Ini Abang Maxi, gak tahu kenapa juga sekalipun gak angkat telpon ku padahal hpnya aktif, kan ga biasanya gitu?" tuturnya dengan memutar-mutar gawainya.
"Mungkin Tuan Muda Maxy lagi sibuk Non, jadi enggak sempat angkat," jawabnya Aisyah yang tidak ingin melihat Nona Raisa mencemaskan hal itu dengan berlebihan.
"May be yes, may be no," ujar Raisa lalu masuk ke dalam mobilnya dengan wajah dongkolnya.
"Kamu!!!!" Ucap Rexy dan Richard bersamaan.
Mereka sama-sama saling terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1