
Flashback off…
Nenek Masitha menghapus jejak air matanya. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihat kesedihan jika kembali harus teringat dengan mendiang almarhum suaminya Anwar.
Hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua pasangan itu telah tiba, Raisa dan Richard duo R itu. Calon manten sudah duduk cantik di dalam kamar pengantin mereka masing-masing. Calon pengantin mempelai pria mereka masih berada di jalan.
Segala persiapan sudah selesai, kediaman utama keluarga Lee sudah disulap sebagai tempat akad nikah mereka. Sistem keamanan sangat diperketat karena mereka tidak ingin acara sakral dan penting anaknya terganggu.
Semua keluarga besar mereka sudah hadir memenuhi aula tempat pelaksanaan ijab kabul.
Semua anggota keluarga, kerabat, sanak saudaranya yang dari luar kota bahkan luar negeri sudah hadir untuk memberikan doa restu untuk mereka. Keluarga Richard pun yang dari Turki dan Inggris sudah datang, walaupun bukan kedua orang tuanya karena beliau sudah wafat.
Richard berjalan ke arah Bryan Adams yang duduk memangku laptopnya sembari berucap," bagaimana dengan keamanannya? Aku tidak ingin ada kekurangan dalam hal apapun."
"Itu pasti dan semua sudah berjalan sesuai dengan keinginanmu," jawab Bryan.
Tatapan mata mereka beralih ke arah dua perempuan terpenting dalam hidup mereka masing-masing. Adinda dan berjalan ke arah mereka. Adinda yang sudah berbadan dua dibantu berjalan olehnya. Mirah dengan senang hati menolong Adinda adik sepupunya yang sedang hamil tua.
"Semoga acaranya berjalan lancar yah Mbak, aku lihat Raisa lebih tenang dari pada calon suamimu Richard," ucapnya sembari tersenyum mengingat wajah tegangnya Richard saat mereka masuk ke dalam kamar pengantin.
"Mungkin karena pernah sekali gagal menikah sehingga ada perasaan was-was yang muncul dalam benaknya," balas Mirah yang ikut tersenyum menanggapi perkataan dari Adinda.
Yuda dan Bryan segera berjalan ke arah mereka. Dan masing-masing mengambil tangan istrinya.
"Sayang bagaimana dengan putri kita apa dia sudah siap untuk menikah dengan Richard?" Tanyanya Yuda dengan menggandeng tangan Miah dengan posesifnya mereka bagaikan pengantin yang baru dua tahun menikah saja.
__ADS_1
"Alhamdulillah seratus persen dia sudah siap, Lee dan Ica selalu menemaninya bercanda jadi mungkin rasa gugupnya tidak nampak lagi," jawabnya Mirah yang tersenyum simpul.
"Cuma Richard sih Mas yang kami lihat gugup dan grogi seolah-olah dia adalah pengantin wanitanya," timpal Adinda yang ikut berbicara dalam perbincangan dua pasutri ini.
"Insya Allah dia akan santai kalau sudah sah tapi, aku takut nanti malam pertamanya Raisa, Si Richard dapat tendangan lagi," gurau Yudha yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak membayangkan hal tersebut.
"Arumi sudah berapa bulan usia kandungan kamu?" Tanya Mirah yang mengelus lembut perutnya Adinda yang membuncit itu.
"Alhamdulillah sudah sembilan bulan dan kami menunggu jadwal kelahirannya saja apa sesuai dengan prediksi dokter atau kah tidak," Jawab Bryan Adams yang lebih antusias.
"Emangnya jadwalnya kapan?" Tanya Mirah lagi yang sumringah karena mendapat tendangan dari bayinya Adinda seolah-olah dia sedang menyapa Mirah..
"Insya Allah besok sih Mbak, tapi entahlah Mbak kan katanya orang ada yang tepat ada yang lewat malah ada yang jauh bedanya dari prediksi dokter," jelasnya Adinda yang sesekali meringis menahan sakitnya saat anaknya menendang.
"Mbak doakan semoga kalian sehat dan selamat dua-duanya, amin ya rabbal alamin," tutur Mirah yang mendoakan kelancaran kehamilan dan persalinannya Adinda.
"Saya sama Bryan ke depan dulu Banyak tamu yang sudah mengantri di depan," pinta Yuda yang pamit kepada mereka berdua lalu berjalan ke arah pintu utama rumahnya.
Mereka kemudian menjemput beberapa tamu undangan yang sudah datang. Hingga iringan dan rombongan pengantin sudah datang. Baik dari keluarga besar dari Richard yang memakai mobil super mewah serta dari keluarganya sendiri yang super heboh ala-ala orang khas adat istiadat pribumi.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah akhirnya cucu satu-satunya perempuan di dalam keluargaku akan menikah juga," gumam Nenek Masitha.
Awalnya mereka akan mengadakan acara akad nikah di dalam aula saja tetapi Delisha tiba-tiba meminta untuk merubahnya menjadi outdoor saja.
Jadilah acaranya di samping rumah hingga ke belakang rumah yang dihiasi dengan perlengkapan dan dekorasi pelaminan yang sangat cantik. Dengan nuansa serba putih membuat kesan kesucian dan cinta yang tulus.
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Perawan
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..