
Azlan dan yang lainnya sampai di sebuah rumah yang tidak jauh dari kediaman keluarga Pramudya.
Rumah itu terlihat seperti rumah biasa dan Berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah utama.
"kenapa kita kesini Lan..???"tanya Alex.Tidak Hanya Alex, yang lainnya pun bingung kenapa mereka malah kesini dan bukan ke kediaman Pramudya.
Azlan tidak menjawab.Dia malah masuk ke rumah itu diikuti yang lain.
Azlan menekan sebuah tombol dan tiba-tiba dinding di rumah itu terbuka.Danu dan Rendy hanya saling pandang.Mereka baru tau jika disini ada jalan rahasia.
Sebelum masuk ,Azlan melihat Jessi.Dia menyuruh nya untuk tidak ikut karena ini sangat berbahaya.
"Lebih baik kau disini saja.Disana sangat berbahaya."ujarnya pada Jessica
"Tapi Lan aku juga ingin membantu.Aku tahu Aku tidak bisa berbuat banyak tapi setidaknya Aku ingin membantu kalian.."
"Kau hanya akan menyusahkan kami Nona..."seru Danu
"Tapi....."
Azlan mendekati Jessica dan memegang kedua bahu nya.
"aku tau Kau ingin membantu tapi jika kau ikut kami tidak akan bisa melindungi mu lagi karena anak buah Dewa terlalu banyak."
"Tapi Lan ..."Jessica terdiam saat mendengar helaan nafas Azlan.Dia menundukkan kepalanya takut Azlan akan memarahi nya.
"Kau ingin terlihat berguna??"Jessica mendongak kan kepalanya dan mengangguk cepat.
"Pergilah ke Rumah Sakit temui Adit.Katakan pada nya situasi disini.Dan minta pada nya untuk menyiapkan anak buah nya untuk membantu kami.Tapi ingat kau harus berhati-hati.Aku takut anak buah Dewa Juga mengawasi Adit.Apa kau bisa???".
__ADS_1
"Baik lah . Aku akan menemui Adit dan mengatakan apa yang kau katakan kan.."ucap Jessica dengan semangat.
"Bagus . Berhati-hati lah..!!"
"Kalian Juga hati-hati.."Setelah mengatakan itu Jessica langsung kembali ke mobil Azlan dan pergi ke Rumah Sakit untuk menemui Adit.
"Hubungi Nino dan yang lain untuk segera menyusul kita.Katakan pada nya untuk menghentikan mobilnya di tempat yang jauh dari rumah utama agar tidak menimbulkan kecurigaan.Arahkan mereka untuk mengikuti kita."titah Azlan
"Baik Bos.."Rendy segera menghubungi Nino sesuai perintah Azlan.
Tidak butuh waktu yang lama Nino dan yang lainnya sampai di lokasi.
Mereka menyusun rencana dengan membagi tugas untuk menyerang dari luar.Tapi Azlan meminta mereka untuk tidak gegabah dan tunggu aba-aba dari nya.Untuk saat ini mereka hanya diminta mengawasi situasi dari luar tidak jauh dari rumah utama.
Sedang Azlan dan yang lain akan melakukan penyerangan dari dalam dengan melalui ruang bawah tanah kediaman Pramudya.
Kini mereka masuk kedalam dinding yang terbuka itu dan menuruni tangga.Hanya ada sebuah lorong dengan cahaya remang menyinari langkah mereka
"Hanya Orang-orang tertentu yang tahu Tapi sayang nya mereka sudah tenang disana.Saat ini hanya Aku yang bisa membuka nya karena itu menggunakan sidik jari ku.Dan lorong ini hanya digunakan disaat genting seperti sekarang.Rumah ini dulu ditempati oleh Asisten Kakek.Tapi semenjak beliau meninggal tidak ada yang berani menempati nya."
Danu dan yang lain hanya diam mendengar kan.Hingga mereka sampai di depan pintu dan saat Azlan membuka nya.Lagi-lagi mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Berbagai macam jenis senjata tersusun rapi disana.
"Pilihlah yang kalian suka.Kalau perlu bawa sebanyak-banyaknya.Musuh kali ini tidak mudah untuk dikalahkan"
Setelah mendapat izin dari si pemilik,Danu dan Rendy segera memilih senjata andalan mereka.Begitu juga dengan Alex dan Daniel.Nino dan Anak buah nya yang ikut pun tak ragu memilih senjata.
"Wah belati ini sungguh cantik.Aku akan membawa nya. "Danu mengambil dua belati dan menyimpan nya dibelakang punggung nya ..
__ADS_1
"Mungkin kita harus membawa ini ."Rendy mengangkat sebuah basoka sambil terkekeh.
"Bawa saja jika Loe berniat menghancurkan rumah gue.."sungut Azlan.
"Apa kita juga harus membawa ini Lan .??"Azlan mendelik saat Alex memegang beberapa geranat di tangan nya
"Apa kalian berniat buat Gue jatuh miskin???"geram Azlan
Mereka yang ada di sana hanya terkekeh mendengar Azlan. mereka tahu Walau rumah itu hancur pun Azlan tidak akan jatuh miskin.Tapi kenangan yang ada di rumah itulah yang berat untuk dihancurkan.
Azlan memasuki sebuah ruangan yang berada di sana.Terdapat beberapa komputer disana .
"Ren...!!!"panggil Azlan.
Rendy yang tahu maksud Atasan nya itu segera mengoperasikan komputer disana.Ternyata komputer itu terhubung dengan Cctv di rumah utama.
Dapat mereka lihat dengan jelas situasi yang terjadi di dalam rumah itu.
Azlan Hanya fokus pada Cctv yang terhubung di ruang tamu dimana Ariel dan para pelayan berada.Begitu juga dengan Danu.Dia mengepalkan tangannya saat melihat Adiknya terikat bersama dengan yang lainnya.
Sedang Nino mulai menghitung berapa anak buah Dewa yang berada di dalam dan di luar rumah itu.
Danu dan yang lain tampak mengerutkan keningnya saat melihat Baron yang mengarakan senjata nya pada Pak Tio baru setelah nya Baron beralih pada Dewa.
"Apa maksud Baron melakukan itu..??Dan kenapa Pak Tio terlihat biasa saja..Apa pak Tio selama ini mengkhianati kita???"Rendy melihat Azlan yang sedari tadi diam.Kemudian Dia beralih pada Danu.Seolah meminta jawaban.Tapi Danu hanya mengangkat kedua bahunya.
"Pak Tio adalah pengkhianat ."
Deg
__ADS_1
Semua mata melihat Azlan . Seolah tidak percaya dengan apa yang Pria itu ucap kan..