
Di sekolah Dewi, dia dipanggil ke ruangan guru. Ia kaget menerima kabar bahwa dirinya akan di transfer ke sekolah lain. Guru bilang ibu Dewi baru saja datang ke sekolah dan menyelesaikan persyaratan untuk transfer.
"Ibuku?" tanya Dewi semakin kaget.
"Bukankah transfer ke SMA Ahmad itu sulit tanpa sebuah koneksi? Bagaimana kau bisa masuk?", tanya Ibu guru heran.
Dewi juga bingung, "SMA Ahmad? Aku?".
Sepulang sekolah Dewi tanya pada ibunya, "Aku ditransfer? Ke SMA Ahmad? Apa yang terjadi?".
"Presdir Ahmad, melakukannya untuk kita. Ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup", jawab Astuti menggunakan bahasa isyarat.
Tapi Dewi marah, "Apakah Ibu sudah gila?Bagaimana Ibu bisa memutuskan itu tanpa bertanya dulu? Apa Ibu tidak tahu seberapa mahal sekolah itu? Bukan hanya uang makan siang dan donasi. Kita tidak akan mampu membayar seragamnya.. Bagaimana bisa aku ditransfer?
Astuti tahu itu, tapi ia akan berusaha bagaimana pun caranya mendapatkan uang untuk membeli seragam Dewi.
Dewi bertanya bagaimana cara ibunya mendapatkan uang, "Kita bahkan tidak bisa mendapatkan uang deposit kembali...Aku lelah, Aku tidak ingin berurusan dengan omong kosong ini. Aku tidak ingin ditransfer, Berikan aku kembali dokumen itu".
Astuti lalu memukul punggung Dewi. Dewi teriak kesakitan Kemudian Astuti menarik Dewi duduk.
"Kenapa kau tidak mau, anak-anak lain berjuang mati-matian untuk mendapatkan kesempatan ini..Ibu tidak mampu untuk mengirim mu ke perguruan tinggi, Jadi meskipun kamu seorang lulusan SMA, jadilah lulusan SMA ternaik. Dan bilang saja kau dulunya kaya, tetapi bisnis Ayahmu bangkrut. Jadi orang- orang tidak akan begitu menganggap mu rendah".
"Ibu!" seru Dewi tidak setuju.
Pembicaraan mereka terpotong karena seseorang mengetuk pintu. Pelayan teman Astuti membuka pintu, "Presdir Ahmad memanggilmu".
"Kita akan bicara nanti" pesan Astuti pada Dewi siap berdiri. Tapi pelayan itu bilang "Bukan kamu yang dicari presdir Ahmad, tapi Dewi".
Di ruang kerja Presdir Ahmad bertanya apakah Dewi sudah mendengar dari ibunya. Dewi membenarkan dan berterima kasih atas tawaran itu, "Tapi itu tidak pantas untukku".
"Jangan terlalu cepat menilai sesuatu", ucap Presdir Ahmad.
"Sementara anak-anak lain yang melonjak tinggi. Apa kau hanya akan menghabiskan masa mudamu di ruangan kecil pelayan yang gelap? SMA Itu juga memiliki program beasiswa yang memilih siswa untuk belajar di luar negeri"
__ADS_1
"Belajar di luar negeri?" tanya Dewi mulai tertarik.
Presdir Ahmad menjelaskan kriteria pemilihan tidak hanya berdasarkan nilai pelajaran. Kriteria penting lainya adalah hal-hal yang tidak terlihat. Melindungi mimpi anak muda adalah pekerjaan para orang tua dengan menggunakan saku mereka. Jadi serahkan saja padanya.
Dewi terdiam, tampak ragu seperti menimbang sesuatu. Presdir Ahmad memperhatikan perubahan wajah Dewi. Sepertinya dia tahu, gadis sederhana dan cerdas seperti Dewi biasanya memiliki impian setinggi langit. Keadaan yang membuat Dewi memendam cita-citanya.
***
Dilain sisi Rendi pulang sekolah dan langsung bermain dengan anjing-nya. Ia ngobrol anjingnya apakah sudah makan, "Katakan padaku jika kau lapar, Kapan kau bisa berbicara?".
Pelayan rumah mengatakan kalau dia tidak menyiapkan makan malam karena ia mendengar kalau Rendi mempunyai janji makan malam. Rendi bingung sepertinya dia tak mengerti, "Janji?".
Pelayan mengangguk.
Tak lama supir datang siap mengantar Rendi ke tempat tujuan. Rendi kesal, "Sepertinya aku satu-satunya yang tidak tahu tentang rencana ku", lalu mengambil ponselnya menghubungi Kimi.
Rendi tanya apa hari ini ia akan makan malam bersama Kimi dan ibunya. Kimi memperingatkan jangan sampai Rendi mencoba lari dan datang terlambat. Karena bagi Kimi, menunggu Rendi adalah suatu hal yang menjengkelkan. Kimi langsung memutus telepon usai bicara.
Lalu Rendi menyuruh supir pulang, ia akan pergi sendiri ke tempat itu sendiri. Tapi supir berkata Tuan Ferdian menyuruhnya untuk tidak membiarkan Rendi naik sepeda motor.
"Baik", ucap supir takut lalu pergi dari sana.
Rendi jongkok mengelus kepala anjing-nya dan berkata, "Aku akan kembali. Ayah memperlakukanku lebih buruk dari kau...Jadi aku harus bertindak sepertimu".
Veni, Kimi dan Rendi duduk di satu meja, tapi Ferdian belum datang.
"Ayahmu akan datang terlambat, dia biasanya datang tepat waktu" Veni sindir Kimi.
"Aku tidak tahu Ayah yang mana yang sedang Ibu bicarakan" sahut Kimi.
"Oh..Jadi Ayah kandungmu itu tepat waktu" balas Rendi menyindir.
Kimi mulai kesal, begitu pula dengan Veni. Tapi Veni masih bersikap manis, dan mencoba bersabar. Ia menyodorkan kotak hitam ke hadapan Rendi, "Aku membeli ini di department store untuk anjingmu. Aku tahu kau mempunyai anjing. Aku dengar kau sangat menyukainya".
__ADS_1
Rendi kemudian mengambil kotak itu, menarik pita diatasnya dengan satu tangan. Dari sini saja sudah terlihat kalau Rendi sama sekali tidak menghargai pemberian Veni. Hadiah yang diberikan Veni adalah kalung anjing. Kalung hitam di lengkapi dengan bling-bling, entah berlian atau sekedar permata.
Veni bertanya apa Rendi sukai. Rendi yang sedang memegang kalung itu, tanya kapan Veni pernah datang kerumahnya.
Sedikit terbata Veni menjawab kalau ia pernah kerumahnya menemui ayahnya. Veni tanya apa Rendi benar-benar menyukai anjing.
"Ya" jawab Rendi kaku.
Veni juga ingin tahu kapan Rendi mulai merawat anjing. Rendi mengingat-ingat, "Setelah ibu pergi, dan Ayahku mulai tertarik pada wanita- wanita itu? ... apa saat disekolah menengah?".
"Wanita?" tanya Veni.
"Aku membeli anjing itu dengan uang yang diberikan wanita-wanita itu padaku. Ketika aku menyuruhnya untuk menggigit setiap kali para wanita itu datang, dia benar-benar menggigit mereka. Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya".
Veni menahan kesal dan Kimi menyuruh Rendi berhenti bicara. Tapi Rendi belum selesai. Dengan pandangan sinisnya, "Dia tidak menggigit orang yang memiliki saham kami. Jika kau marah, kau bisa membayarnya sekarang".
"Aku bilang berhenti!", sergah Kimi tidak terima ibunya di pandang rendah Rendi.
Tepat saat itu Ferdian datang, "Aku terlambat. Apapun yang aku katakan akan terdengar seperti alasan...Jadi ayo makan dulu" Ferdian lalu duduk.
"Oh tidak! Rendi bilang memiliki rencana lain hari ini, dan dia tidak bisa makan dengan kita" ucap Veni tersenyum tipis.
Veni mengatakan hal itu sebagai balasan atas sikap tidak sopan Rendi. Ia mengetahui dengan pasti Ferdian akan langsung memarahi anaknya tanpa segan meski di depan orang lain.
Dugaan Veni memang tepat. Ferdian langsung memarahi Rendi, "Rencana apa? Apakah kau tidak tahu prioritas mu?".
"Ini sesuatu yang tidak bisa aku lewatkan. Aku juga harus pergi ke sana" sahut Kimi tiba-tiba lalu berdiri.
Veni terkejut, tak mengira Kimi akan membantu Rendi, sia sia rencananya.
"Apa yang kau lakukan? Kita akan terlambat", ajak Kimi melihat Rendi yang masih duduk Lalu keluar duluan.
Rendi pamit pada ayahnya. Sebelum pergi, ia menatap Kimi sebentar, "Ah..Aku benar-benar menyukai ini", ucap Rendi sembari mengangkat kotak kalung anjing pemberian Veni. Membuat Veni tersenyum tipis menahan kesal.
__ADS_1
Setelah kedua anak mereka pergi, Ferdian berkata makan malam mereka berubah menjadi kencan. Veni lalu melepas mantelnya, hingga tampaklah gaun yang ia kenakan, "Dan aku akan terlihat seperti seorang gadis dan bukannya Ibu".
BERSAMBUNG...