
Assalamu'alaikum
Selamat siang semuanya....
Selamat membaca....
Waktu bergulir semakin siang
Ginara bermalas-malasan di kamarnya, ia sedang
tiduran di sofa, berpikir dan mencoba menganalisa setiap kejadian yang
akhir-akhir ini di alaminya. Ia mengotak-atik hp sampai menemukan kontak Dina,
ia langsung bangkit duduk, lupa kalau belum memberi kabar pada sahabat
rempongnya itu. Ditekannya gambar telepon pada aplikasi hijau itu.
Hubungan tersambung.
“Assalamu’alaikum Din” Sapanya.
“Wa’alaikumussalam, hai Gi, ada apa kamu gak masuk,
kamu sakit?” Tanya Dina khawatir. Ginara menggeleng walaupun Dina gak tahu sih.
“Kemana kamu tadi malam? Aldy panik tahu cari kamu
sampai telepon ke aku. Davin dan bunda terus nanyain keberadaanmu. Aku
bingunglah jawabnya.” Cerocos Dina.
“Aku jawab yang mana?” Bukannya menjawab, Ginara
malah bertanya dengan kesal. Terdengar dengusan kesal di seberang.
“Ya…ya…, kamu kemana kemaren? Kamu beneran ke makam
Azril?” Tanya Dina antusias. Ginara mengernyit heran.
“Itu tahu” Jawabnya singkat.
“Aduh Gi, jangan bikin panik orang napa sih, semua
lagi nyariin tahu, kamu gak papakan?”
“Hemm”
“Wah…kumat nih” Decak Dina kesal.
“Tapi aku penasaran nih, Aldy kok bisa tahu makam
Azril tanpa bertanya dulu lokasinya lho” Ginara terdiam.
“Dia adiknya”
“Hah! Jangan bercanda Gi…”
“Aku tertawakah?” Kata Ginara mendengus.
“Oke deh, kamu hutang penjelasan banyak ke aku. Oya
bunda pagi telepon, berarti kamu gak pulang ke rumah? Kamu di mana sekarang?”
“Apart”
“Ish…mulai deh, dah ah, aku mau balik kerja, tadi
__ADS_1
Aldy dah ijin ke bos langsung, kereennn Gi…” Puji Dina. Bisa dibayangkan raut
muka Dina saat ini, pasti senyum-senyum sambil membayangkan andaikan Genta yang
bersikap seperti itu.
“Jangan halu!” Sentak Ginara sadis.
“Ish, gak tahu orang lagi seneng aja, ya udah rehat
aja dulu, aku tutup ya assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam” Ginara mematikan panggilan.
Dengan malas gadis itu Kembali merebahkan tubuhnya,
kali ini di naikkannya satu kakinya ke atas bahu sofa. ‘Ah nyaman sekali, kapan
lagi bisa santai’ gumamnya perlahan.
Terdengar hp berdering kembali. Dibaliknya hp yang
tergeletak di atas perutnya. Tertera nama ‘kekasih tampanku’ Hah baru juga
beberapa jam udah telpon aja. Iya…iya aku hanya di rumah. Batinnya kesal.
“Assalamu’alaikum, hmmm?” Terdengar suara *******
di seberang. Pertanyaan itu membuatnya gusar rupanya.
“Kenapa nada suaramu seolah bertanya? Kamu marah
tidak aku ijinin ke apotik” Tanya Aldy dengan suara geram.
“Ah…tidak, maaf….” Hany aitu yang bisa ia ucapkan.
“Kamu tidak suka aku telepon?” Ginara berdecak
“Kok jadi sensi sih”
“Hmmm, kamu lagi bosan ya” Tebak Aldy di sambut
dengusan Ginara.
“Emang mau ngajak kemana?”
“Siapa juga yang mau ngajak keluar…” Goda Aldy.
“Ish…”
“Aku tahu kamu cemberut, mau aku ke sana untuk
menciummu?”
“Mesum!” Bentak Ginara pelan, terdengar tertawa
terbahak.
“Kemana aja, kenapa lama nyambung telponnya?”
Tanyanya seperti nada suara merajuk.
“Telpon Dina” Jawab Ginara pendek.
“Kenapa lama sekali, sepenting itukah?” Rajuknya
lagi. Ginara memutar bola matanya.
__ADS_1
“Urusan kerja”
“Kan udah aku bilang, dah aku ijinkan, ngapain
ngurusin kerjaan aja, sampai teleponku di abaikan terus.” Aldy benar-benar
marah ya ini. Ish…bocah, sabar Gi…
“Satu lagi, jangan jawaban singkat kalau sama aku…”
Ginara mendengus juga akhirnya.
“Bersiaplah, Yudha akan menjemputmu” Sambung Aldy.
“Hah? Bukannya kamu nggak mau ngajak keluar?”
Ginara merasa curiga, sepertinya akan ada sesuatu yang membuatnya harus
terjebak lagi dengan Tuan Pemaksa.
“Siapa yang bilang begitu?” Sementara di ruang
kantor Aldy bertanya dengan senyum-senyum senang. Yudha di depan meja kerjanya
hanya menggeleng pasrah. Bucin, bucin dah. Batinnya.
“Iya…iya, Tuan Pemaksa yang berkuasa” Kesal Ginara.
“Hmmm, sekarang yang menyuruhmu keluar siapa?”
Terdengar nada gemas di sana.
“Kamu juga” Jawab Ginara pendek.
“Kalau begitu lakukan saja, segera bersiap dan
turun ke bawah, Yudha sudah akan siap menjemputmu. Jangan pakai lama.”
“Ck, tuan pemaksa, itu nama yang cocok untukmu
bukan….” Kata Ginara sewot namun segera menghentikan kalimatnya.
“Bukan apa? Hei….jangan macam-macam ya…”
Klik. Telepon dimatikan.
“Ish, belum selesai juga aku ngomongnya, udah di
matiin aja, awas kau ya.” Ancam Aldy seraya tersenyum misterius. Yudha hanya
memandang jengah ke tuan mudanya.
“Yud, kamu jemput Nara ku, jangan sampai lecet!”
Perintahnya tak masuk akal. Yudha memutar bola matanya. ‘Siapa juga yang mau
mengikat Nona kemari Tuan’ Batinnya.
“Kamu mengumpatiku ya!” Tuduh Aldy memicingkan
matanya melihat ekspresi Yudha di depannya. Laki-laki itu gelagapan seraya
melambaikan tangannya di depan dadanya.
“Tidak Tuan Muda, baik saya akan menjemput Nona
Ginara kemari dengan selamat.” Kata Yudha seraya berpamitan keluar ruangan. Ia
__ADS_1
bergegas turun ke parkiran dan meluncur ke apartemen Ginara.
To Be Continued