Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Makan Siang di Kantor Aldy (1)


__ADS_3

Assalamu'alaikum


Selamat siang semuanya....


Selamat membaca....


Waktu bergulir semakin siang


Ginara bermalas-malasan di kamarnya, ia sedang


tiduran di sofa, berpikir dan mencoba menganalisa setiap kejadian yang


akhir-akhir ini di alaminya. Ia mengotak-atik hp sampai menemukan kontak Dina,


ia langsung bangkit duduk, lupa kalau belum memberi kabar pada sahabat


rempongnya itu. Ditekannya gambar telepon pada aplikasi hijau itu.


Hubungan tersambung.


“Assalamu’alaikum Din” Sapanya.


“Wa’alaikumussalam, hai Gi, ada apa kamu gak masuk,


kamu sakit?” Tanya Dina khawatir. Ginara menggeleng walaupun Dina gak tahu sih.


“Kemana kamu tadi malam? Aldy panik tahu cari kamu


sampai telepon ke aku. Davin dan bunda terus nanyain keberadaanmu. Aku


bingunglah jawabnya.” Cerocos Dina.


“Aku jawab yang mana?” Bukannya menjawab, Ginara


malah bertanya dengan kesal. Terdengar dengusan kesal di seberang.


“Ya…ya…, kamu kemana kemaren? Kamu beneran ke makam


Azril?” Tanya Dina antusias. Ginara mengernyit heran.


“Itu tahu” Jawabnya singkat.


“Aduh Gi, jangan bikin panik orang napa sih, semua


lagi nyariin tahu, kamu gak papakan?”


“Hemm”


“Wah…kumat nih” Decak Dina kesal.


“Tapi aku penasaran nih, Aldy kok bisa tahu makam


Azril tanpa bertanya dulu lokasinya lho” Ginara terdiam.


“Dia adiknya”


“Hah! Jangan bercanda Gi…”


“Aku tertawakah?” Kata Ginara mendengus.


“Oke deh, kamu hutang penjelasan banyak ke aku. Oya


bunda pagi telepon, berarti kamu gak pulang ke rumah? Kamu di mana sekarang?”


“Apart”


“Ish…mulai deh, dah ah, aku mau balik kerja, tadi

__ADS_1


Aldy dah ijin ke bos langsung, kereennn Gi…” Puji Dina. Bisa dibayangkan raut


muka Dina saat ini, pasti senyum-senyum sambil membayangkan andaikan Genta yang


bersikap seperti itu.


“Jangan halu!” Sentak Ginara sadis.


“Ish, gak tahu orang lagi seneng aja, ya udah rehat


aja dulu, aku tutup ya assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumussalam” Ginara mematikan panggilan.


Dengan malas gadis itu Kembali merebahkan tubuhnya,


kali ini di naikkannya satu kakinya ke atas bahu sofa. ‘Ah nyaman sekali, kapan


lagi bisa santai’ gumamnya perlahan.


Terdengar hp berdering kembali. Dibaliknya hp yang


tergeletak di atas perutnya. Tertera nama ‘kekasih tampanku’ Hah baru juga


beberapa jam udah telpon aja. Iya…iya aku hanya di rumah. Batinnya kesal.


“Assalamu’alaikum, hmmm?” Terdengar suara *******


di seberang. Pertanyaan itu membuatnya gusar rupanya.


“Kenapa nada suaramu seolah bertanya? Kamu marah


tidak aku ijinin ke apotik” Tanya Aldy dengan suara geram.


“Ah…tidak, maaf….” Hany aitu yang bisa ia ucapkan.


“Kamu tidak suka aku telepon?” Ginara berdecak


“Kok jadi sensi sih”


“Hmmm, kamu lagi bosan ya” Tebak Aldy di sambut


dengusan Ginara.


“Emang mau ngajak kemana?”


“Siapa juga yang mau ngajak keluar…” Goda Aldy.


“Ish…”


“Aku tahu kamu cemberut, mau aku ke sana untuk


menciummu?”


“Mesum!” Bentak Ginara pelan, terdengar tertawa


terbahak.


“Kemana aja, kenapa lama nyambung telponnya?”


Tanyanya seperti nada suara merajuk.


“Telpon Dina” Jawab Ginara pendek.


“Kenapa lama sekali, sepenting itukah?” Rajuknya


lagi. Ginara memutar bola matanya.

__ADS_1


“Urusan kerja”


“Kan udah aku bilang, dah aku ijinkan, ngapain


ngurusin kerjaan aja, sampai teleponku di abaikan terus.” Aldy benar-benar


marah ya ini. Ish…bocah, sabar Gi…


“Satu lagi, jangan jawaban singkat kalau sama aku…”


Ginara mendengus juga akhirnya.


“Bersiaplah, Yudha akan menjemputmu” Sambung Aldy.


“Hah? Bukannya kamu nggak mau ngajak keluar?”


Ginara merasa curiga, sepertinya akan ada sesuatu yang membuatnya harus


terjebak lagi dengan Tuan Pemaksa.


“Siapa yang bilang begitu?” Sementara di ruang


kantor Aldy bertanya dengan senyum-senyum senang. Yudha di depan meja kerjanya


hanya menggeleng pasrah. Bucin, bucin dah. Batinnya.


“Iya…iya, Tuan Pemaksa yang berkuasa” Kesal Ginara.


“Hmmm, sekarang yang menyuruhmu keluar siapa?”


Terdengar nada gemas di sana.


“Kamu juga” Jawab Ginara pendek.


“Kalau begitu lakukan saja, segera bersiap dan


turun ke bawah, Yudha sudah akan siap menjemputmu. Jangan pakai lama.”


“Ck, tuan pemaksa, itu nama yang cocok untukmu


bukan….” Kata Ginara sewot namun segera menghentikan kalimatnya.


“Bukan apa? Hei….jangan macam-macam ya…”


Klik. Telepon dimatikan.


“Ish, belum selesai juga aku ngomongnya, udah di


matiin aja, awas kau ya.” Ancam Aldy seraya tersenyum misterius. Yudha hanya


memandang jengah ke tuan mudanya.


“Yud, kamu jemput Nara ku, jangan sampai lecet!”


Perintahnya tak masuk akal. Yudha memutar bola matanya. ‘Siapa juga yang mau


mengikat Nona kemari Tuan’ Batinnya.


“Kamu mengumpatiku ya!” Tuduh Aldy memicingkan


matanya melihat ekspresi Yudha di depannya. Laki-laki itu gelagapan seraya


melambaikan tangannya di depan dadanya.


“Tidak Tuan Muda, baik saya akan menjemput Nona


Ginara kemari dengan selamat.” Kata Yudha seraya berpamitan keluar ruangan. Ia

__ADS_1


bergegas turun ke parkiran dan meluncur ke apartemen Ginara.


To Be Continued


__ADS_2