
.
"Aku harus bagaimana ini, kenapa aku merasa gugup begini? Nanti jika aku berbuat kesalahan pada nona Nadia, bagaimana?" gumam bagas seorang diri.
Dengan berat hati dirinya menyeret langkahnya untuk masuk ke restoran megah yang kini di pijakinya. Bagas mengedar pandangan, dan ia berhasil menemukan tempat di mana bos besarnya duduk.
Nadia melambaikan tangannya arah Bagas, dan pria itu pun berjalan menghampiri ke tempat duduk Nadia. Bagas merasa tidak enak hati mungkin bos besarnya sudah lama menunggu dirinya, ia menyapa gadis tersebut. Juga meminta maaf padanya, karena dirinya terlambat datang.
"Maaf nona Nadia, anda kelamaan menunggu saya." ucap Bagas lirih, ia merasa bersalah karena wanita itu sudah menunggu dirinya.
"Oke.. Tenang saja. Kamu tidak usah gygup dan kikuk begitu kenapa? Lagian aku hanya mau ngajak kamu dinner." jawab Nadia santai. Ia bahkan menyunggingkan senyum manisnya pada pria di hadapannya.
Setelah itu Bagas duduk di depan Nadia, dan mereka berdua mulai memakan makanan yang sudah di pesan. Setelah selesai makan, kini Nadia mulai bercanda dengan Bagas.
Meski awalnya Bagas bersikap dingin, namun kini ia bisa sedikit lebih hangat pada bos besarnya. Nadia mulai melancarkan aksinya sedikit demi sedikit.
"Bagas.. Ada yang mau aku tanyakan padamu?" ucap Nadia. Ia memberanikan diri bertanya tentang hal yang lebih serius lagi.
Bagas bingung, apakah yang akan di tanyakan oleh wanita di depannya. Namun sebelum ia berpikiran lebih jauh, ia memilih untuk berpikir positif. "Maaf nona, tapi tentang apa ya?"
"Mulai sekarang jangan panggil aku nona lagi, panggil saja Nadia!" jawab Nadia tegas.
"Tapi, kenapa begitu no..na.." tanya Bagas bingung. Bagas menatap bingung wanita di hadapannya, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh wanita di depannya.
"Kamu masih belum tahu juga? Atau kamu memang buta akan perasaanku ini padamu?" ucap Nadia pelan.
"Ma..maksud anda bagaimana, saya tidak mengerti."
"Aku mencintaimu, bodoh..!" ucap Nadia serius.
Saat Bagas sedang meminum minumannya, sontak ia tersedak. Nadia memperhatikan Bagas, ia mencoba menenangkannya, meski hatinya kesal karena Bagas tidak peka pada perasaannya, namun ia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada pria di depannya.
"Pelan-pelan minumnya, kenapa kamu mesti terburu-buru?" ledeknya sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Bagas menatap Nadia dengan malu-malu, ia juga tersenyum malu dan gugup. Dirinya sama sekali tidak menyangka jika gadis di depannya akan nekad mengutarakan isi hatinya kepadanya.
"Aku harus menjawab apa pada Nadia ya, aku takut ia akan marah jika aku mengatakan tidak. Tapi aku tahu masalalunya yang pernah mengkhianati orang lain! Aku tidak mau nasibku juga sama seperti itu! Aku harus bagaimana nih.." batin Bagas dalam hati.
Ia berkutat dengan pikirannya sendiri, ada rasa takut, rasa trauma, juga merasa bersalah. Bagas takut jawabannya akan melukai perasaan Nadia, tapi ia juga tidak mungkin menggantung pernyataan dari bos besarnya.
"Bagaimana, Gas? Apa jawaban kamu?" tanya Nadia lantang, sungguh ia tidak sabaran, karena dari tadi bukannya yang ditanya memberikan jawaban, ia malah asyik bengong. Sehingga membuat Nadia tidak dapat menahan easa oenasarannya, ia mengulang pertanyaan kembali.
Bagas sontak tersadar dari lamunannya, dirinya melihat raut kecewa di wajah cantik Nadia. Ia merasa bersalah padanya juga meminta maaf dengan tulus pada wanita di hadapannya.
"Sebelumnya saya minta maaf pada anda nona, tapi kita kan baru mengenal, apa tidak sebaiknya kita jalani saja dulu tanpa adanya ikatan yang pasti! Lagian saya takut anda akan kecewa padaku, jika anda tahu siapa diri saya yang sebenarnya!" ucap Bagas, meski ia takut namun akhirnya ia bisa memberi jawaban pada Nadia. Walau pun ia tahu pasti jika Nadia akan marah padanya, dan bisa juga Nadia memecatnya secara langsung.
Nadia menarik nafas panjang lalu di hembuskannya perlahan, ia tidak putus asa. Bahkan ia tahu pasti alasan penolakan yang di lakukan oleh pria dingin di hadapannya yaitu karena dirinya yang dulu pernah menyakiti seseorang. Nadia menerima dengan legowo, apa yang di ucapkan oleh Bagas, namun ia tidak akan menyerah begitu saja.
"Bagas.. Apa kamu takut, aku akan menyakitimu sama seperti yang aku lakukan pada Reynand?" tanyanya.
Nadia memberanikan diri berkata seperti itu, ia mengingat dengan pasti pengkhianatannya yang membuat dirinya sampai gagal move on dari pria yang telah di sakitinya.
"Lalu apalagi? Apa kamu sudah memiliki istri?"
"Bukan juga..!"
"Lalu.."
"Anda tidak tahu siapa aku sebenarnya. Aku bukan seseorang yang berpunya seperti yang anda pikirkan, aku juga banyak tanggungan yang harus aku pikul." jawab Bagas panjang kali lebar.
Mendengar penjelasan dari pria yang menjadi incarannya, Nadia tersenyum menyeringai. "Kalo itu tanpa kamu jelaskan padaku, aku juga sudah tahu! Tanpa kamu ketahui selama ini aku sudah mengikutimu. Hihihi..!" Nadia membatin.
"Oh, hanya itu sama sekali tidak menjadi masalah bagiku!" balas Nadia santai.
"Lho kenapa tidak jadi masalah? Anda kan orang yang berada sedangkan saya siapa? Bahkan anda juga bisa mencari yang lebih segalanya dari saya." ucap Bagas serius.
Nadia mendekat ke arah pria tersebut, lalu ia membisikan kata tepat di telinganya. "Aku tidak mau laki-laki lain! Meski apa yang kamu ucapkan tadi itu benar, tapi aku tertantang untuk mendekati dirimu! Aku terima tawaranmu untuk jalani saja dulu, tanpa adanya ikatan pasti. Setelah itu, aku yakin kamu akan membalas cintaku!" bisiknya sambil menyunggingkan seringainya.
__ADS_1
Nadia duduk kembali di kursinya, ia juga berbicara seperti tadi lagi.
"Dan mulai sekarang jangan panggil nona lagi panggil saja namaku. Aku tidak suka di bantah!" ucapnya serius.
Bagas di buat melongo tak percaya dengan apa yang baru saja terucap dari bibir manis wanita di hadapannya, ia sama sekali tidak menyangka Nadia rela melakukan semua itu.
"Tapi no—" ucapan Bagas terhenti oleh tingkah usil Nadia.
"Tapi apalagi? Aku kan sudah bilang jangan panggil nona!" jawabnya kesal.
Bagas tidak mau wanita itu semakin marah, akhirnya mau tak mau dirinya memanggil nama pada wanita itu. Percuma juga dirinya menjelaskannya, karena ternyata sifat Nadia keras. Bahkan lebih keras darinya.
"Iya, Nadia.. Apa kamu puas?" ucapnya malas.
"Nah gitu dong, itu baru namanya anak baik! Eh.. salah maksudku laki-laki baik. Hihihi." balas Nadia kali ini ia tersenyum bahagia.
"Iya lah, terserah kamu saja. Berarti kamu terima nih tantangan dariku, jika kita jalani ini semua terlebih dahulu?"
"Oke.. Nggak masalah! Siapa takut?" balas Nadia sambil mengulas senyumnya.
"Oke deh kalo kamu setuju!"
"Dan satu lagi, di kantor pun kamu juga harus memanggil namaku! Tidak boleh ada bantahan!" ucap Nadia penuh penekanan.
Bagas menganggukan kepalanya, ia setuju dengan apa yang di ucapkan oleh wanita di hadapannya. Meski dalam hati kecilnya, ia merasa tidak enak hati pada yang lainnya.
.
Bersambung...
.
.
__ADS_1