Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Jangan lagi ada air mata (1)


__ADS_3

Assalamu'alaikum reader....


Selamat pagi....


Aku sempatin nih buat up sebelum kesiubak menyapa aku...


Wokay dah....met baca reader....


Jangan lupa kasih like dong yaaaaa.....


Ijin adopsi satu bab ya thor Sary Bhieltha, karena


kasusnya hampir mirip…


Maafkan aku…


Sepanjang jalan Ginara terus tidak tenang memikirkan


akan kemana bundanya membawa dia pergi. Setelah seharian pergi belanja, bunda


masih ingin mengajaknya ke suatu tempat yang dia tidak boleh tahu. Dan yang


membuatnya bingung, Ketika keluar dari restoran di tempat parkir mereka bertemu


dengan papa, Kak Genta, Dina, Davin, dan Aldy, mereka juga tidak mengatakan


apapun saat ia bertanya. Seoalh memenag kehadiran mereka sudah di rencanakan.


Sepanjang perjalanan Aldy hanya terus menggenggam


tangannya, mengelusnya dengan jari jempolnya dan sesekali membawanya ke


bibirnya untuk diciumnya. Mereka mengendarai mobil sendiri, sementara bunda di


jemput papa dan Abang Genta yang mengemudi mobil.


“Al…”


“Hmm?”


“Kita mau kemana sih?”


“Nanti kau akan tahu sendiri”


Ginara berdecak kesal.


“Cemberut hemm?”


“Nggak” Sergah Ginara cepat seraya merapatkan


bibirnya.


Ginara melihat keluar jendela, ia menyadari jalanan


yang mereka lalui menuju tempat tinggal Akung. Ia menoleh ke arah Aldy, pemuda


itu tersenyum lembut dengan masih menggenggam tangan Ginara erat seolah memberi


kekuatan.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh untuk


sampai ke tempat yang mereka tuju, mobil yang di tumpangi keluarganya berada di


depan, dan mereka sudah melewati area tempat tinggal kakek dan neneknya. Jadi

__ADS_1


kemana mereka sebenarnya?


Kedua alis Ginara kini saling bertaut saat melihat


sesuatu yang cukup aneh di hadapannya. Di depan sebuah gapura megah berdiri


rapi Sena, Hana, Windi, Rendi, dan si kembar Daffa Raffa.


“Al…” Panggil Ginara dengan bergetar. “kenapa kita


ke sini?” Tanyanya cemas. Hatinya mulai gelisah.


Aldy mengajak Ginara turun dari mobil dan


menghampiri seluruh keluarga besar Ginara. Gadis itu hanya terdiam gelisah


menerima pelukan dari Sena, Hana, Windi, dan SI kembar. Mereka tahu bagaimana


perasaan gadis itu, karena selama 23 tahun tidak sekalipun ia bisa berziarah ke


makam mamanya.


Kini Ginara terdiam mematung dengan tubuh yang


sedikit bergetar. Ia sudah bisa menebak makam siapa yang akan mereka kunjungi


saat ini, dan hari ini pertama kalinya ia datang.


“Ayo sayang” Ajak Aldy seraya mengulurkan tangan


pada wanitanya. Namun, tiba-tiba bunda mendekat.


“Biarkan dia bersamaku nak, boleh kan?” Pinta Tiara


rombongan memasuki area pemakaman.


“Bunda, kenapa kita datang kemari?” Tanya Ginara


lemas. Tiara merasakan dingin tangan putrinya.


“Kau harus menemui mereka sebelum kau menikah”


“Menikah?” Tanya Ginara bingung. Tiara mengangguk.


“Aldy sudah menyampaikan lamarannya untuk


menikahimu kepada papa, jadi kau juga harus meminta restu pada mama kan?”


Ginara membisu mendengar penjelasan Tiara, ia


berjalan dengan lemas seolah tak punya tenaga.


“Semua akan baik-baik saja sayang” Ucap Tiara


lembut.


Sena memimpin doa di depan makam putrinya, dengan


semua orang menengadahkan kedua tangannya, kecuali Ginara yang kini masih


terdiam mematung menatap makam di hadapannya.


“Sayang…” Panggil Tiara pelan, “kemarilah” Pintanya


kemudian.

__ADS_1


Dengan berat hati kaki Ginara melangkah lalu duduk


di sisi makam di samping Tiara, sementara setelah mengucapkan doa semua orang


membuat lingkaran di sana, mengelilingi makam Maira Wijaya, mamanya Ginara.


“Maira ini putrimu. Kau lihat dia sudah besar


sekarang” Ucap Tiara menatap pada batu nisan yang bertuliskan nama Maira


Wijaya, “Dia akan menikah sebentar lagi Mai, tugasku sudah hampir selesai”


Sambungnya.


Tes.


Tes.


Air mata Ginara mengalir, dimana wajahnya kini


telah tertunduk.


“Kau pasti Bahagia melihat ini. Dia akan menikah


dengan orang yang tepat dan begitu mencintai putrimu Mai” Ucap Tiara yang kini


sudah ikut menangis.


“Waktu begitu cepat, kau ingat, sebelum peristiwa


itu kau pernah menitipkan dia padaku. Rasanya baru kemaren aku berjanji di


hadapanmu untuk membesarkan dan membahagiakannya, dan hari ini aku Kembali


untuk memberitahu bahwa putrimu akan menikah.” Ya, Tiara adalah sahabat Maira


sejak kecil, Ketika suaminya meninggal, Mairalah yang menghiburnya dan secara


tidak sengaja ia akhirnya menikah dengan suami almarhumah sahabatnya. Awalnya


ia hadir di tengah-tengah mereka karena ingin membantu kondisi Ginara yang


memprihatinkan, tapi kemudian Reza melamarnya untuk menjadi ibu dari Ginara


karena perhatian dan kasih sayangnya pada Ginara.


“Maaf karena tidak pernah membawa dia datang


kemari, tapi aku yakin kau pasti mengerti.” Sambung Tiara dengan air mata yang


tidak berhenti mengalir. Setiap ia menyeka air mata itu, maka dengan cepat pula


air mata itu Kembali jatuh.


“Sayang, sampaikan sesuatu untuk mamamu. Bicaralah


di dalam hati jika kau tak sanggup untuk berucap” Pinta Tiara pada Ginara dan


tiba-tiba saja tangis gadis itu pecah bersamaan dengan air langit yang


tiba-tiba menetes.


Sumpah, aku mengetik episode sambil terisak….


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2