
Assalamu'alaikum reader....
Selamat pagi....
Aku sempatin nih buat up sebelum kesiubak menyapa aku...
Wokay dah....met baca reader....
Jangan lupa kasih like dong yaaaaa.....
Ijin adopsi satu bab ya thor Sary Bhieltha, karena
kasusnya hampir mirip…
Maafkan aku…
Sepanjang jalan Ginara terus tidak tenang memikirkan
akan kemana bundanya membawa dia pergi. Setelah seharian pergi belanja, bunda
masih ingin mengajaknya ke suatu tempat yang dia tidak boleh tahu. Dan yang
membuatnya bingung, Ketika keluar dari restoran di tempat parkir mereka bertemu
dengan papa, Kak Genta, Dina, Davin, dan Aldy, mereka juga tidak mengatakan
apapun saat ia bertanya. Seoalh memenag kehadiran mereka sudah di rencanakan.
Sepanjang perjalanan Aldy hanya terus menggenggam
tangannya, mengelusnya dengan jari jempolnya dan sesekali membawanya ke
bibirnya untuk diciumnya. Mereka mengendarai mobil sendiri, sementara bunda di
jemput papa dan Abang Genta yang mengemudi mobil.
“Al…”
“Hmm?”
“Kita mau kemana sih?”
“Nanti kau akan tahu sendiri”
Ginara berdecak kesal.
“Cemberut hemm?”
“Nggak” Sergah Ginara cepat seraya merapatkan
bibirnya.
Ginara melihat keluar jendela, ia menyadari jalanan
yang mereka lalui menuju tempat tinggal Akung. Ia menoleh ke arah Aldy, pemuda
itu tersenyum lembut dengan masih menggenggam tangan Ginara erat seolah memberi
kekuatan.
Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh untuk
sampai ke tempat yang mereka tuju, mobil yang di tumpangi keluarganya berada di
depan, dan mereka sudah melewati area tempat tinggal kakek dan neneknya. Jadi
__ADS_1
kemana mereka sebenarnya?
Kedua alis Ginara kini saling bertaut saat melihat
sesuatu yang cukup aneh di hadapannya. Di depan sebuah gapura megah berdiri
rapi Sena, Hana, Windi, Rendi, dan si kembar Daffa Raffa.
“Al…” Panggil Ginara dengan bergetar. “kenapa kita
ke sini?” Tanyanya cemas. Hatinya mulai gelisah.
Aldy mengajak Ginara turun dari mobil dan
menghampiri seluruh keluarga besar Ginara. Gadis itu hanya terdiam gelisah
menerima pelukan dari Sena, Hana, Windi, dan SI kembar. Mereka tahu bagaimana
perasaan gadis itu, karena selama 23 tahun tidak sekalipun ia bisa berziarah ke
makam mamanya.
Kini Ginara terdiam mematung dengan tubuh yang
sedikit bergetar. Ia sudah bisa menebak makam siapa yang akan mereka kunjungi
saat ini, dan hari ini pertama kalinya ia datang.
“Ayo sayang” Ajak Aldy seraya mengulurkan tangan
pada wanitanya. Namun, tiba-tiba bunda mendekat.
“Biarkan dia bersamaku nak, boleh kan?” Pinta Tiara
rombongan memasuki area pemakaman.
“Bunda, kenapa kita datang kemari?” Tanya Ginara
lemas. Tiara merasakan dingin tangan putrinya.
“Kau harus menemui mereka sebelum kau menikah”
“Menikah?” Tanya Ginara bingung. Tiara mengangguk.
“Aldy sudah menyampaikan lamarannya untuk
menikahimu kepada papa, jadi kau juga harus meminta restu pada mama kan?”
Ginara membisu mendengar penjelasan Tiara, ia
berjalan dengan lemas seolah tak punya tenaga.
“Semua akan baik-baik saja sayang” Ucap Tiara
lembut.
Sena memimpin doa di depan makam putrinya, dengan
semua orang menengadahkan kedua tangannya, kecuali Ginara yang kini masih
terdiam mematung menatap makam di hadapannya.
“Sayang…” Panggil Tiara pelan, “kemarilah” Pintanya
kemudian.
__ADS_1
Dengan berat hati kaki Ginara melangkah lalu duduk
di sisi makam di samping Tiara, sementara setelah mengucapkan doa semua orang
membuat lingkaran di sana, mengelilingi makam Maira Wijaya, mamanya Ginara.
“Maira ini putrimu. Kau lihat dia sudah besar
sekarang” Ucap Tiara menatap pada batu nisan yang bertuliskan nama Maira
Wijaya, “Dia akan menikah sebentar lagi Mai, tugasku sudah hampir selesai”
Sambungnya.
Tes.
Tes.
Air mata Ginara mengalir, dimana wajahnya kini
telah tertunduk.
“Kau pasti Bahagia melihat ini. Dia akan menikah
dengan orang yang tepat dan begitu mencintai putrimu Mai” Ucap Tiara yang kini
sudah ikut menangis.
“Waktu begitu cepat, kau ingat, sebelum peristiwa
itu kau pernah menitipkan dia padaku. Rasanya baru kemaren aku berjanji di
hadapanmu untuk membesarkan dan membahagiakannya, dan hari ini aku Kembali
untuk memberitahu bahwa putrimu akan menikah.” Ya, Tiara adalah sahabat Maira
sejak kecil, Ketika suaminya meninggal, Mairalah yang menghiburnya dan secara
tidak sengaja ia akhirnya menikah dengan suami almarhumah sahabatnya. Awalnya
ia hadir di tengah-tengah mereka karena ingin membantu kondisi Ginara yang
memprihatinkan, tapi kemudian Reza melamarnya untuk menjadi ibu dari Ginara
karena perhatian dan kasih sayangnya pada Ginara.
“Maaf karena tidak pernah membawa dia datang
kemari, tapi aku yakin kau pasti mengerti.” Sambung Tiara dengan air mata yang
tidak berhenti mengalir. Setiap ia menyeka air mata itu, maka dengan cepat pula
air mata itu Kembali jatuh.
“Sayang, sampaikan sesuatu untuk mamamu. Bicaralah
di dalam hati jika kau tak sanggup untuk berucap” Pinta Tiara pada Ginara dan
tiba-tiba saja tangis gadis itu pecah bersamaan dengan air langit yang
tiba-tiba menetes.
Sumpah, aku mengetik episode sambil terisak….
To Be Continued
__ADS_1