
Hari ini hampir semua penghuni rumah keluarga
Mahendra nampak begitu sibuk. Sena, Hana, Windy, Rendi, Si kembar sudah datang
sejak semalam. Demikian juga dengan Prayoga, Alex dan Nisa. Mereka sangat
bahagia mendapat kabar Ginara akan menikah. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi
keluarga Wijaya, cucu perempuan mereka akhirnya telah benar-benar lepas dari
keterpurukan selama ini.
Para pelayanpun tak kalah sibuknya mempersiapkan
semuanya, bahkan Tiara sengaja mendatangkan pegawai tambahan untuk membantu
persiapan sejak di rumah sampai ketika pernikahan di hotel nanti.
Genta dan Davin juga sedang bersiap di kamar
masing-masing, setelan jas pengantin mereka telah siap pula sejak semalam,
sementara Ginara, Dina dan Mahira sedang di rias di kamar masing-masing oleh tim
tata rias profesional yang langsung di datangkan dari Jakarta oleh keluarga
Dhanurendra. Itu sesuai permintaan Aldy yang memiliki teman tata rias pengantin
artis di Jakarta.
Sementara di keluarga Dhanurendra, Reynand
memerintahkan asistennya untuk menjemput Aldy ditemani sepupu Aldy, Reno dan
Milla. Mereka sudah berangkat sejak setengah jam yang lalu, sedangkan pesawat
dikabarkan akan landing satu jam lagi.
Persiapan sudah sangat matang, waktupun sudah
merambat menunjuk angka 09.00, berarti kurang satu jam lagi acara akad nikah
akan di mulai, tapi sampai sekarang sosok Aldy masih belum juga datang.
Seharusnya mereka sudah ada di sini untuk persiapan.
Yara mencari keberadaan suaminya untuk menanyakan
apa ada kabar kedatangan Aldy. Laki-laki itu sedang ngobrol bersama beberapa
saudaranya.
“Dad, apa ada kabar dari Reno? Kenapa mereka belum
juga datang?” Tanya Yara cemas.
“Belum sayang, mungkin macet…tunggulah sebentar
lagi” Kata Reynand menenangkan istrinya, bersamaan hp Reynand berdering.
“Reno” Ucapnya setelah melihat nama kemenakannya
tertera di layar handponenya, tapi kenapa perasaannya tiba-tiba tidak tenang.
“Ya Ren” Jawab Reynand saat panggilan telah
tersambung.
“Om kenapa Aldy belum juga datang, kami sudah tiga
jam di sini” Kata Reno, suaranya sedikit cemas, “nomornya juga tidak bisa
dihubungi, begitu juga dengan Yudha” Sambungnya.
Deg
Reynand menelan ludahnya perlahan walaupun
jantungnya berdebar, ia diam cukup lama.
“Coba Om periksa dimana keberadaan pesawat yang
ditumpangi Aldy…”
“Baik, aku coba deteksi ya” Reynand mematikan
panggilan dan menatap istrinya, ia mencoba setenang mungkin menyampaikan kabar
ini.
“Ada apa Dad?” Tanya Yara yang mulai menyadari
bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi.
“Pesawat yang membawa Aldy dan Yudha belum tiba”
Ucap Reynand pelan.
Deg
Jantung Yara langsung berdebar gelisah, ia tidak
mampu mengucapkan sepatah katapun.
“Mom…” Tepuk Reynand di bahu istrinya. Wanita itu
tersentak.
__ADS_1
“Ya Allah lindungi putraku, jangan kau ambil lagi
putraku, aku mohon…”
“Mom, tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa pada
Aldy” Hiburnya seraya memeluk wanita yang dicintai itu.
“Bagaimana ini Dad?” Lirihnya khawatir.
“Tenanglah, aku akan mengeceknya di ruang kerjaku”
Kata Reynand seraya berlalu menuju ruang kerjanya diikuti oleh adiknya, Willy
sekaligus asisten pribadinya.
Setelah melihat dan mengecek apa yang terjadi pada
pesawat yang membawa mereka, dahi laki-laki itu berkerut heran.
“Bagaimana bisa?” Heran Willy.
“Kenapa Will, apa yang terjadi dengan pesawatnya?”
Tanya Reynand.
“Pesawat yang membawa Aldy menghilang” Ucap Willy
serak yang langsung di sambut tangisan seorang wanita di pintu ruang kerja.
Rupanya Yara megikuti suaminya diam-diam.
“Dad, tidak, jangan lagi Ya Allah…” Racau Yara.
Reynand berlari menghampiri Yara yang hendak jatuh.
“Mom, hei, itu masih belum tentu terjadi kan? Kita
masih punya harapan, tenanglah…” Ucap Reynand yang sudah memerah matanya
menahan tangis. Willy menghubungi anaknya, Reno untuk terus menghubungi ponsel
Aldy dan menunggu, siapa tahu ada perubahan jadwal terbang yang mereka tidak
diberitahu.
“Apa yang akan kita sampaikan pada Nara Dad, Mommy
gak sanggup membayangkan reaksinya nanti…”
“Hush, tenanglah, lebih baik kita ke sana sekarang,
untuk memberi ketenangan di sana.” Ajak Reynand mencoba membantu istrinya
bangun.
sekarang ke rumah Pak Reza”
“Baik Mas” Willy bergerak cepat untuk menyiapkan
semuanya. Kemudian mereka meluncur ke rumah Reza dengan kecemasan dan harapan.
Mereka sampai setengah jam kemudian, terlihat Genta
dan Davin sudah bersiap di ruang tamu untuk menunggu informasi keluarga
Dhanurendra telah siap di hotel, maka mereka akan berangkat terlebih dahulu,
baru kemudian rombongan pengantin wanita., sementara para gadis di biarkan
berada di dalam kamar pengantin masing-masing. Ya ketiga keluarga telah sepakat
bahwa pengantin wanita di rias dan dipersiapkan serta berangkat ke hotel
bersamaan dari rumah keluarga Mahendra.
Reza dan Tiara menyambut kedatangan keluarga
Dhanurendra, namun mereka heran kenapa mereka harus datang ke rumah ini,
bukankan kesepakatannya mereka langsung bertemu di hotel? Pun tidak ada
kehadiran Aldy di tengah-tengah mereka. Dan raut wajah mereka juga tidak biasa.
“Apa terjadi sesuatu Pak Rey?” Tanya Reza
hati-hati.
Suasana menghening, bungkam, tidak ada yang ingin
menjawab. Yara kembali menangis tersedu menyaksikan kesiapan acara. Tiara
mendekati Yara dan memegang kedua tangannya.
“Semua baik-baik saja kan?” Tanyanya ikut cemas.
Wanita itu menggeleng lemah.
“Pesawat yang ditumpangi Aldy dan Yudha menghilang,
sampai sekarang mereka belum bisa di hubungi” Jelas Reynand pelan dengan suara bergetar.
Tiara membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
Semua yang hadir di sana langsung tersentak kaget dan tidak percaya dengan
kabar yang baru mereka dengar.
__ADS_1
“Ma syaa Allah, Gi…” Lirih Tiara. Ia tidak bisa
membayangkan bagaimana perasaan Ginara nantinya, dua kali ia dihadapkan pada
keadaan yang sama. Di saat semua sudah siap kenapa masih ada saja ujian yang
menimpa.
“Dimana Nara?” Tanya Yara pilu.
“Dia di kamarnya” Kata Tiara pelan.
“Boleh aku menemuinya?” Pintanya. Tiara mengangguk
kemudian mengantarkan Yara menuju kamar Ginara.
Tok
Tok
“Sayang, ini Mommy, boleh Mommy masuk?” Ucap Yara
berusaha bersuara tegar.
“Iya Mom, pintunya tidak di kunci.” Jawab suara
Ginara dari dalam, ia heran juga dengan kehadiran Yara di sini.
Yara membuka pintu dan melihat tim tata rias masih
menyelesaikan finishing pada baju Ginara, hati wanita baya itu mencelos
melihatnya.
“Mom, maaf gak bisa buka pintu…” Kata Ginara seraya
menatap Yara. Wanita itu segera tersenyum dan menghampiri Ginara.
“Bisa tinggalkan kami sebentar?” Pintanya pada
wanita yang menata baju pengantin Ginara.
“Iya Nyonya, ini sudah selesai kok, kami permisi
dulu” Pamit wanita itu setelah merapikan sebentar pakaian Ginara.
Ginara tersenyum menatap Yara, namun hatinya
menangkap sesuatu yang salah dari wajah wanita di depannya. Apa ini berhubungan
dengan panggilan telepon yang tidak pernah tersambung ke hp Aldy? Sebanyak
Ginara menelpon namun sebanyak itu pula ia mendengar suara dari operator
telepon.
“Apa terjadi sesuatu Mom?” Tebak Ginara seraya
memegang tangan Yara. Wanita baya itu tersentak, ia segera menetralkan wajahnya
dan tersenyum, ia menggeleng.
“Tidak ada, semua baik-baik saja, Mommy hanya ingin
melihat calon mantu Mommy sebelum akad” Kata Yara disertai senyuman palsu.
Jantungnya berdetak tak beraturan.
“Berkali-kali telepon Aldy tidak bisa dihubungi,
dia sudah ada di depan kan Mom?’ Tanya Ginara memastikan perasaannya yang
mendadak resah. Aldy tidak mungkin tidak menghubungi ketika dia sudah sampai,
pemuda itu jarang memberi kejutan yang mendadak seperti ini. Ginara
memperhatikan respon Yara setiap detiknya, ia merasakan ada sesuatu yang
janggal.
“Iya, tentu saja, bukankah pengantinnya sudah
siap?” Kata Yara kembali tersenyum dengan hati yang pilu.
“Kenapa dia tidak menghubungiku Mom? Dia janji akan
memberi kabar kedatangannya” Tanya Ginara lagi.
“Tenanglah, tidak terjadi apa-apa, semua baik-baik
saja, Mommy ke depan dulu ya” Tanpa persetujuan dari Gnara Yara langsung
bergegas keluar. Ternyata ia tidak sanggup untuk tegar di hadapan gadis itu. Bulir
kristal yang telah berada di ujung matanya akhirnya terjatuh kala ia menutup
pintu kamar Ginara. Ia langsung di sambut oleh Tiara, Yara hanya menggeleng
pilu.
“Tenanglah, kita tunggu sebentar lagi, in shaa
Allah akan ada kabar baik” Kata Tiara menenangkan calon besannya. Mereka berdua
berlalu menuju ruang tamu.
To Be Continued
__ADS_1