Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Perasaan Gelisah: Jangan lagi Ya Allah…


__ADS_3

Hari ini hampir semua penghuni rumah keluarga


Mahendra nampak begitu sibuk. Sena, Hana, Windy, Rendi, Si kembar sudah datang


sejak semalam. Demikian juga dengan Prayoga, Alex dan Nisa. Mereka sangat


bahagia mendapat kabar Ginara akan menikah. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi


keluarga Wijaya, cucu perempuan mereka akhirnya telah benar-benar lepas dari


keterpurukan selama ini.


Para pelayanpun tak kalah sibuknya mempersiapkan


semuanya, bahkan Tiara sengaja mendatangkan pegawai tambahan untuk membantu


persiapan sejak di rumah sampai ketika pernikahan di hotel nanti.


Genta dan Davin juga sedang bersiap di kamar


masing-masing, setelan jas pengantin mereka telah siap pula sejak semalam,


sementara Ginara, Dina dan Mahira sedang di rias di kamar masing-masing oleh tim


tata rias profesional yang langsung di datangkan dari Jakarta oleh keluarga


Dhanurendra. Itu sesuai permintaan Aldy yang memiliki teman tata rias pengantin


artis di Jakarta.


Sementara di keluarga Dhanurendra, Reynand


memerintahkan asistennya untuk menjemput Aldy ditemani sepupu Aldy, Reno dan


Milla. Mereka sudah berangkat sejak setengah jam yang lalu, sedangkan pesawat


dikabarkan akan landing satu jam lagi.


Persiapan sudah sangat matang, waktupun sudah


merambat menunjuk angka 09.00, berarti kurang satu jam lagi acara akad nikah


akan di mulai, tapi sampai sekarang sosok Aldy masih belum juga datang.


Seharusnya mereka sudah ada di sini untuk persiapan.


Yara mencari keberadaan suaminya untuk menanyakan


apa ada kabar kedatangan Aldy. Laki-laki itu sedang ngobrol bersama beberapa


saudaranya.


“Dad, apa ada kabar dari Reno? Kenapa mereka belum


juga datang?” Tanya Yara cemas.


“Belum sayang, mungkin macet…tunggulah sebentar


lagi” Kata Reynand menenangkan istrinya, bersamaan hp Reynand berdering.


“Reno” Ucapnya setelah melihat nama kemenakannya


tertera di layar handponenya, tapi kenapa perasaannya tiba-tiba tidak tenang.


“Ya Ren” Jawab Reynand saat panggilan telah


tersambung.


“Om kenapa Aldy belum juga datang, kami sudah tiga


jam di sini” Kata Reno, suaranya sedikit cemas, “nomornya juga tidak bisa


dihubungi, begitu juga dengan Yudha” Sambungnya.


 Deg


Reynand menelan ludahnya perlahan walaupun


jantungnya berdebar, ia diam cukup lama.


“Coba Om periksa dimana keberadaan pesawat yang


ditumpangi Aldy…”


“Baik, aku coba deteksi ya” Reynand mematikan


panggilan dan menatap istrinya, ia mencoba setenang mungkin menyampaikan kabar


ini.


“Ada apa Dad?” Tanya Yara yang mulai menyadari


bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi.


“Pesawat yang membawa Aldy dan Yudha belum tiba”


Ucap Reynand pelan.


Deg


Jantung Yara langsung berdebar gelisah, ia tidak


mampu mengucapkan sepatah katapun.


“Mom…” Tepuk Reynand di bahu istrinya. Wanita itu


tersentak.

__ADS_1


“Ya Allah lindungi putraku, jangan kau ambil lagi


putraku, aku mohon…”


“Mom, tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa pada


Aldy” Hiburnya seraya memeluk wanita yang dicintai itu.


“Bagaimana ini Dad?” Lirihnya khawatir.


“Tenanglah, aku akan mengeceknya di ruang kerjaku”


Kata Reynand seraya berlalu menuju ruang kerjanya diikuti oleh adiknya, Willy


sekaligus asisten pribadinya.


Setelah melihat dan mengecek apa yang terjadi pada


pesawat yang membawa mereka, dahi laki-laki itu berkerut heran.


“Bagaimana bisa?” Heran Willy.


“Kenapa Will, apa yang terjadi dengan pesawatnya?”


Tanya Reynand.


“Pesawat yang membawa Aldy menghilang” Ucap Willy


serak yang langsung di sambut tangisan seorang wanita di pintu ruang kerja.


Rupanya Yara megikuti suaminya diam-diam.


“Dad, tidak, jangan lagi Ya Allah…” Racau Yara.


Reynand berlari menghampiri Yara yang hendak jatuh.


“Mom, hei, itu masih belum tentu terjadi kan? Kita


masih punya harapan, tenanglah…” Ucap Reynand yang sudah memerah matanya


menahan tangis. Willy menghubungi anaknya, Reno untuk terus menghubungi ponsel


Aldy dan menunggu, siapa tahu ada perubahan jadwal terbang yang mereka tidak


diberitahu.


“Apa yang akan kita sampaikan pada Nara Dad, Mommy


gak sanggup membayangkan reaksinya nanti…”


“Hush, tenanglah, lebih baik kita ke sana sekarang,


untuk memberi ketenangan di sana.” Ajak Reynand mencoba membantu istrinya


bangun.


sekarang ke rumah Pak Reza”


“Baik Mas” Willy bergerak cepat untuk menyiapkan


semuanya. Kemudian mereka meluncur ke rumah Reza dengan kecemasan dan harapan.


Mereka sampai setengah jam kemudian, terlihat Genta


dan Davin sudah bersiap di ruang tamu untuk menunggu informasi keluarga


Dhanurendra telah siap di hotel, maka mereka akan berangkat terlebih dahulu,


baru kemudian rombongan pengantin wanita., sementara para gadis di biarkan


berada di dalam kamar pengantin masing-masing. Ya ketiga keluarga telah sepakat


bahwa pengantin wanita di rias dan dipersiapkan serta berangkat ke hotel


bersamaan dari rumah keluarga Mahendra.


Reza dan Tiara menyambut kedatangan keluarga


Dhanurendra, namun mereka heran kenapa mereka harus datang ke rumah ini,


bukankan kesepakatannya mereka langsung bertemu di hotel? Pun tidak ada


kehadiran Aldy di tengah-tengah mereka. Dan raut wajah mereka juga tidak biasa.


“Apa terjadi sesuatu Pak Rey?” Tanya Reza


hati-hati.


Suasana menghening, bungkam, tidak ada yang ingin


menjawab. Yara kembali menangis tersedu menyaksikan kesiapan acara. Tiara


mendekati Yara dan memegang kedua tangannya.


“Semua baik-baik saja kan?” Tanyanya ikut cemas.


Wanita itu menggeleng lemah.


“Pesawat yang ditumpangi Aldy dan Yudha menghilang,


sampai sekarang mereka belum bisa di hubungi” Jelas Reynand pelan dengan suara bergetar.


Tiara membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


Semua yang hadir di sana langsung tersentak kaget dan tidak percaya dengan


kabar yang baru mereka dengar.

__ADS_1


“Ma syaa Allah, Gi…” Lirih Tiara. Ia tidak bisa


membayangkan bagaimana perasaan Ginara nantinya, dua kali ia dihadapkan pada


keadaan yang sama. Di saat semua sudah siap kenapa masih ada saja ujian yang


menimpa.


“Dimana Nara?” Tanya Yara pilu.


“Dia di kamarnya” Kata Tiara pelan.


“Boleh aku menemuinya?” Pintanya. Tiara mengangguk


kemudian mengantarkan Yara menuju kamar Ginara.


Tok


Tok


“Sayang, ini Mommy, boleh Mommy masuk?” Ucap Yara


berusaha bersuara tegar.


“Iya Mom, pintunya tidak di kunci.” Jawab suara


Ginara dari dalam, ia heran juga dengan kehadiran Yara di sini.


Yara membuka pintu dan melihat tim tata rias masih


menyelesaikan finishing pada baju Ginara, hati wanita baya itu mencelos


melihatnya.


“Mom, maaf gak bisa buka pintu…” Kata Ginara seraya


menatap Yara. Wanita itu segera tersenyum dan menghampiri Ginara.


“Bisa tinggalkan kami sebentar?” Pintanya pada


wanita yang menata baju pengantin Ginara.


“Iya Nyonya, ini sudah selesai kok, kami permisi


dulu” Pamit wanita itu setelah merapikan sebentar pakaian Ginara.


Ginara tersenyum menatap Yara, namun hatinya


menangkap sesuatu yang salah dari wajah wanita di depannya. Apa ini berhubungan


dengan panggilan telepon yang tidak pernah tersambung ke hp Aldy? Sebanyak


Ginara menelpon namun sebanyak itu pula ia mendengar suara dari operator


telepon.


“Apa terjadi sesuatu Mom?” Tebak Ginara seraya


memegang tangan Yara. Wanita baya itu tersentak, ia segera menetralkan wajahnya


dan tersenyum, ia menggeleng.


“Tidak ada, semua baik-baik saja, Mommy hanya ingin


melihat calon mantu Mommy sebelum akad” Kata Yara disertai senyuman palsu.


Jantungnya berdetak tak beraturan.


“Berkali-kali telepon Aldy tidak bisa dihubungi,


dia sudah ada di depan kan Mom?’ Tanya Ginara memastikan perasaannya yang


mendadak resah. Aldy tidak mungkin tidak menghubungi ketika dia sudah sampai,


pemuda itu jarang memberi kejutan yang mendadak seperti ini. Ginara


memperhatikan respon Yara setiap detiknya, ia merasakan ada sesuatu yang


janggal.


“Iya, tentu saja, bukankah pengantinnya sudah


siap?” Kata Yara kembali tersenyum dengan hati yang pilu.


“Kenapa dia tidak menghubungiku Mom? Dia janji akan


memberi kabar kedatangannya” Tanya Ginara lagi.


“Tenanglah, tidak terjadi apa-apa, semua baik-baik


saja, Mommy ke depan dulu ya” Tanpa persetujuan dari Gnara Yara langsung


bergegas keluar. Ternyata ia tidak sanggup untuk tegar di hadapan gadis itu. Bulir


kristal yang telah berada di ujung matanya akhirnya terjatuh kala ia menutup


pintu kamar Ginara. Ia langsung di sambut oleh Tiara, Yara hanya menggeleng


pilu.


“Tenanglah, kita tunggu sebentar lagi, in shaa


Allah akan ada kabar baik” Kata Tiara menenangkan calon besannya. Mereka berdua


berlalu menuju ruang tamu.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2