
Assalamu'alaikum....
Selamat siang
Selamat hari minggu...
Makasih yang sudah ikut baca novel aku...sekalian likenya yaaa...
Semata membaca readers...
Sementara Ginara segera menghubungi Dina di kamar
sebelah, dering langsung tersambung.
“Din, apa terjadi sesuatu?” Tanya Ginara tanpa basa
basi.
“Apa maksudmu Gi?”
“Entahlah, barusan Mommy ke sini, aneh kan? Sepertinya
telah terjadi sesuatu, telepon Aldy juga tidak bisa aku hubungi”
“Hei, tenanglah, semuanya akan baik-baik saja…ya”
Hibur Dina.
Ginara mematikan panggilannya, ia melirik jam
dinding. Pukul 10.30, “harusnya acara sudah dimulai kan, kenapa belum ada suara
apapun yang aku dengar?” Gumamnya pelan.
Wanita yang menata pakaian Ginara kembali masuk
untuk memastikan persiapannya matang.
“Mbak, kenapa acara belum di mulai ya?” Tanya
Ginara.
“Masih menunggu mempelai pria Mbak” Jawab wanita
itu sopan.
“Mempelai pria? Berarti Aldy belum datang?”
Gumamnya pelan. Kenapa Mommy bilang Aldy sudah di depan, apa sesuatu terjadi
yang aku tidak boleh tahu?’ Sambungnya pelan. Segera ia berdiri untuk keluar
kamar.
“Mbak Ginara, tolong tunggu di kamar saja” Cegah
wanita itu panik. Ginara tidak memperdulikan larangan itu, ia langsung keluar
dan berlari menuruni tangga untuk menemui semua orang. Di lihatnya mereka semua
duduk di ruang tamu yang sudah di sulap menjadi tempat ruang tunggu yang sangat
luas, tapi wajah mereka tidak ada yang tersenyum senang. Kenapa semua murung?
“Bunda? Papa?” Panggil Ginara mendekat. Semua mata
menoleh ke arah suara dan langsung terbelalak kaget. Bunda bergegas menghampiri
Ginara.
“Sayang, kenapa keluar?” Tanya Tiara cemas.
“Terjadi sesuatu kan?” Tanyanya pelan. Tiara
terdiam, semua yang hadir di sana terdiam.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku apa yang
terjadi? Papa? Kak Genta? Dav?” Seru Ginara seraya menatap keluarganya, “Kenapa
semua diam? Terjadi sesuatu kan? Akung juga diam?” Sambungnya. Laki-laki tua itu
hanya menghela nafas berat kemudian menunduk.
“Sayang….” Reza tak sanggup melanjutkan kalimatnya,
ia terdiam membisu, suaranya tercekat di tenggorokannya.
Tiba-tiba saja butir air mengalir dari kedua
matanya, ia meyakinkan dirinya sendiri, tidak ada yang perlu di tangisi, semua
baik-baik saja. Berulang kali kalimat itu digumamkan dalam hatinya. Namun
pertahannya runtuh ketika bibirnya berucap dengan bergetar, “Aku mohon Ya
Allah, aku tidak ingin terjadi lagi, aku mohon” Suaranya tersendat oleh
tangisan. Tiara memeluk putrinya dengan sangat erat.
“Bersabarlah, tidak akan terjadi apa-apa, semua
pasti baik-baik saja” Bisiknya pelan sambil menahan tangisnya. Hati semua orang
trenyuh menyaksikan apa yang ada di hadapan mereka. Yara mendekat kemudian
merengkuh gadis itu ke pelukannya.
“Mom, terjadi sesuatu kan?” Tanyanya resah.
“Jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja, Reno
masih berusaha menghubungi hp Aldy, bersabarlah” Walaupun perasaan Yara hancur,
ia tidak akan sanggup jika harus mengatakan yang sebenarnya.
“Jangan menutupi apapun Mom, apa yang sebenarnya
terjadi? Apa pesawat mereka bermasalah? Atau pesawat mereka…”
__ADS_1
“Sayang hentikan” Potong Tiara di sela cercahan
Ginara, “buang jauh-jauh pikiran buruk itu. Kita semua hanya sedang menunggu,
mereka pasti baik-baik saja”
Tubuh Ginara merosot ke lantai, kakinya tak kuat
menyangga tubuhnya, semua serasa lunglai tak bertenaga.
“Gi..”
“Nara..”
“Sayang”
“Kak!”
Panggil keluarganya secara bersamaan, mereka
menyamakan posisi mereka dengan Ginara kemudian Reza merengkuh putrinya ke
dadanya. Di dekapnya putrinya dengan haru.
“Mengapa ini harus kembali terjadi Pa…” Ucapnya
lemah di pelukan Reza. Laki-laki itu mengusap rambut Ginara sayang.
“Tidak ada yang kembali terjadi sayang, Papa mohon,
percayalah” Kata Reza sabar menenangkan putrinya.
Dina yang mendengar keributan di luar kamarnya ikut
keluar, ia juga heran, sudah melebihi pukul 10.00 bahkan sudah hampir pukul
11.00, kenapa mereka belum berangkat juga. Ketika sampai di ruang tamu, ia
melihat Ginara meringkuk di pelukan Reza sambil menangis dan di sekelilingnya
ada Tiara dan Yara. Di lihatnya semua keluarga yang hadir juga berwajah muram.
Tahu ada yang tidak beres, ia segera mendekati Ginara.
“Bun…” Panggilnya pada Tiara. Wanita itu menoleh
dengan air mata sudah membanjiri wajahnya. Dina langsung menoleh pada Ginara yang
masih dalam pelukan Reza, tubuhnya bergetar. Di elusnya pundak gadis itu pelan.
“Gi….yakinlah, semua akan baik-baik saja” Hiburnya.
Ginara menoleh pada Dina, hatinya teriris melihat penampilan Ginara, yang
biasanya tegar, dingin, cuek, kini lemah, terpuruk, tak berdaya.
“Hei…jangan menjadi lemah, ayolah” Dina menarik
lengan Ginara, gadis itu hanya diam, tidak lagi berkata apapun, hanya air mata
yang tidak berhenti menetes. Otaknya tidak lagi bisa berpikir dengan baik untuk
kembali.
“Apakah benar aku pembawa sial?” Tanyanya lirih.
Semua yang hadir terkejut, tak terkecuali Hana dan Windi yang terus menangis
pilu. Semua menggeleng tidak tahan menyaksikan hal itu.
“Hei, lihat aku” Dina memegang kedua pipi Ginara,
“tidak ada yang namanya pembawa sial, kau tahu itu, ini hanya sedikit masalah,
tenanglah, semua akan baik-baik saja” Lanjutnya. Di tengah kepiluan handpone
Reynand berdering, semua orang kembali dikejutkan oleh suara deringan yang
cukup nyaring itu. Reynand meminta izin untuk mengangkatnya di angguki oleh
Reza.
“Ya Ren, apa ada kabar?”
“Om, pihak bandara mengatakan pesawat terakhir kali
mendarat di daratan Timur tapi setelah itu sinyalnya menghilang” Kata Reno.
Reynand menarik nafas, “Terima kasih Ren, kabarmu sedikit membantu, kabari kembali
Om jika kau mendapatkan informasinya”
“Tentu Om” Panggilan di akhiri, Reynand memasukkan
hp ke saku celananya seraya menghela nafas kembali kemudian memandang mereka
yang menanti jawabannya.
“Maaf, masih belum ada kabar lagi” Reynand menunduk
sedih, ia tidak sanggup mendapati wajah penuh harap dari wajah calon
menantunya. Gadis itu kembali terdiam dalam tangis. Dina semakin mengeratkan
pelukannya untuk memberi ketenangan kepada gadis itu.
Reza membawa Ginara untuk duduk di sofa ruang
tengah, kemudian meminta salah satu pelayan untuk mengambilkan air minum.
Hari sudah menjelang siang, sementara kabar dari
keberadaan Reno di bandara masih belum ada. Pihak hotel dan semua yang sudah
menunggu di sana tetap di suruh untuk menunggu kedatangan mereka karena ada
masih kendala. Pihak hotel dan keluarga Raharja serta keluarga Ramazan setelah
mendengar permasalahannya, mereka menunggu dengan sabar dan mendoakan semua
__ADS_1
baik-baik saja, dan perjalanan Aldy selamat sampai tiba di tanah air.
Wanita yang merias Ginara tampak keluar tergesa
dari kamar Ginara menuju ruang tengah, ia bergegas memberika hp Ginara yang
terus berdering di dalam kamar.
“Maaf, Mbak Ginara, dari tadi hp nya berdering
terus, saya tidak berani menerimanya” Wanita itu menyerahkan hpnya, Ginara
menatap deretan nomor telepon di layar hpnya.
“Angkat saja Gi, siapa tahu berita penting” Saran
Dina. Ginara terdiam, ia seolah pasrah dengan takdir yang mengiringinya. Dengan
tidak sabar Dina merebut hp Ginara dan menggeser tombol telepon hijau di
layarnya.
“Ya hallo” Dina menyapa dengan tidak sabar.
“Hallo…” Gadis itu melotot terkejut mendengar suara
yang sangat akrab di telinganya. Ia menoleh ke arah Ginara dengan mata
mengharap penuh.
“Gi….” Dina tidak bisa bersuara, ia hanya
mengarahkan hp ke telinga gadis itu karena ia hanya diam tanpa respon.
“Sweety” Panggil suara berat dari seberang telepon.
Ginara berjingkat dari duduknya.
“Aldy” Seru Ginara, mendengar suara yang familiar
itu, ia langsung merebut benda pipih itu dari tangan Dina.
“Ya ini aku sweety” Tanpa menjawab Ginara kembali
menangis sejadi-jadinya, “kau membuatku takut Al” Serunya dengan perasaan yang
begitu senang walaupun air matanya terus mengalir. Semua yang hadir mengucap
syukur sedalam-dalamnya mendengar Aldy selamat.
Terdengar tawa dari hp Ginara, “Maafkan aku, tapi
aku baik-baik saja sweety, aku akan menceritakan semuanya nanti, setelah kita
menikah”
Ginara terdiam sejenak dengan berusaha menghentikan
tangisannya, “Jadi…kita tidak jadi batal menikah?”
“Siapa memang yang mengatakan itu, hah” Balas Aldy
yang terdengar sedikit kesal.
“Kau yakin? Kau baik-baik saja kan?”
“Tentu sayang, aku berusaha cepat sampai kemari
untuk apalagi kalau bukan untuk menikahimu” Pekik Aldy.
Bibir Ginara melengkung mendengar luapan kemarahan
laki-laki itu. Di tariknya nafas sedikti panjang, “Baiklah, kalau begitu sampai
bertemu nanti”
“Tentu sweety, aku dalam perjalanan menuju hotel
ini, jangan sampai terlambat lho yaaa”
“Ish…siapa juga yang terlambat datang” Cemberutnya.
“Oke, oke, aku tunggu di hotel, gak pake lama”
“Ish…kebiasaan Tuan Pemaksa” Ginara menutup telepon
dengan cemberut, tapi sedetik kemudian ia menghambur ke pelukan Dina yang ada
di sebelahnya.
“Aku sudah bilang bukan, semuanya pasti baik-baik
saja” Ucap Dina tersenyum
“Iya, akhirnya semua terlewati Din…”
“Jadi…?” Potong Reza menegaskan pertanyaan ke arah
putrinya yang bahagia.
“Ya, Pa. Aldy sudah meluncur ke hotel tempat akad
di laksanakan.” Jawabnya.
“Ya sudah, kalau begitu kita juga harus
bersiap-siap” Balas Reza kemudian memerintahkan semua orang untuk bersiap
berangkat.
“Yah…jadi belepotan nih make up”, Cemberut Dina,
“Kamu sih Gi, pake acara nangis segala” Ejek Dina menggoda Ginara. Gadis itu
menepuk lengan Dina kesal yang hanya di balas tertawa. Persiapan kembali
dilakukan, pun dengan make up Ginara dan Dina.
To Be Continued
__ADS_1