Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Apa Terjadi Sesuatu?


__ADS_3

Assalamu'alaikum....


Selamat siang


Selamat hari minggu...


Makasih yang sudah ikut baca novel aku...sekalian likenya yaaa...


Semata membaca readers...


Sementara Ginara segera menghubungi Dina di kamar


sebelah, dering langsung tersambung.


“Din, apa terjadi sesuatu?” Tanya Ginara tanpa basa


basi.


“Apa maksudmu Gi?”


“Entahlah, barusan Mommy ke sini, aneh kan? Sepertinya


telah terjadi sesuatu, telepon Aldy juga tidak bisa aku hubungi”


“Hei, tenanglah, semuanya akan baik-baik saja…ya”


Hibur Dina.


Ginara mematikan panggilannya, ia melirik jam


dinding. Pukul 10.30, “harusnya acara sudah dimulai kan, kenapa belum ada suara


apapun yang aku dengar?” Gumamnya pelan.


Wanita yang menata pakaian Ginara kembali masuk


untuk memastikan persiapannya matang.


“Mbak, kenapa acara belum di mulai ya?” Tanya


Ginara.


“Masih menunggu mempelai pria Mbak” Jawab wanita


itu sopan.


“Mempelai pria? Berarti Aldy belum datang?”


Gumamnya pelan. Kenapa Mommy bilang Aldy sudah di depan, apa sesuatu terjadi


yang aku tidak boleh tahu?’ Sambungnya pelan. Segera ia berdiri untuk keluar


kamar.


“Mbak Ginara, tolong tunggu di kamar saja” Cegah


wanita itu panik. Ginara tidak memperdulikan larangan itu, ia langsung keluar


dan berlari menuruni tangga untuk menemui semua orang. Di lihatnya mereka semua


duduk di ruang tamu yang sudah di sulap menjadi tempat ruang tunggu yang sangat


luas, tapi wajah mereka tidak ada yang tersenyum senang. Kenapa semua murung?


“Bunda? Papa?” Panggil Ginara mendekat. Semua mata


menoleh ke arah suara dan langsung terbelalak kaget. Bunda bergegas menghampiri


Ginara.


“Sayang, kenapa keluar?” Tanya Tiara cemas.


“Terjadi sesuatu kan?” Tanyanya pelan. Tiara


terdiam, semua yang hadir di sana terdiam.


“Kenapa tidak ada yang memberitahuku apa yang


terjadi? Papa? Kak Genta? Dav?” Seru Ginara seraya menatap keluarganya, “Kenapa


semua diam? Terjadi sesuatu kan? Akung juga diam?” Sambungnya. Laki-laki tua itu


hanya menghela nafas berat kemudian menunduk.


“Sayang….” Reza tak sanggup melanjutkan kalimatnya,


ia terdiam membisu, suaranya tercekat di tenggorokannya.


Tiba-tiba saja butir air mengalir dari kedua


matanya, ia meyakinkan dirinya sendiri, tidak ada yang perlu di tangisi, semua


baik-baik saja. Berulang kali kalimat itu digumamkan dalam hatinya. Namun


pertahannya runtuh ketika bibirnya berucap dengan bergetar, “Aku mohon Ya


Allah, aku tidak ingin terjadi lagi, aku mohon” Suaranya tersendat oleh


tangisan. Tiara memeluk putrinya dengan sangat erat.


“Bersabarlah, tidak akan terjadi apa-apa, semua


pasti baik-baik saja” Bisiknya pelan sambil menahan tangisnya. Hati semua orang


trenyuh menyaksikan apa yang ada di hadapan mereka. Yara mendekat kemudian


merengkuh gadis itu ke pelukannya.


“Mom, terjadi sesuatu kan?” Tanyanya resah.


“Jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja, Reno


masih berusaha menghubungi hp Aldy, bersabarlah” Walaupun perasaan Yara hancur,


ia tidak akan sanggup jika harus mengatakan yang sebenarnya.


“Jangan menutupi apapun Mom, apa yang sebenarnya


terjadi? Apa pesawat mereka bermasalah? Atau pesawat mereka…”

__ADS_1


“Sayang hentikan” Potong Tiara di sela cercahan


Ginara, “buang jauh-jauh pikiran buruk itu. Kita semua hanya sedang menunggu,


mereka pasti baik-baik saja”


Tubuh Ginara merosot ke lantai, kakinya tak kuat


menyangga tubuhnya, semua serasa lunglai tak bertenaga.


“Gi..”


“Nara..”


“Sayang”


“Kak!”


Panggil keluarganya secara bersamaan, mereka


menyamakan posisi mereka dengan Ginara kemudian Reza merengkuh putrinya ke


dadanya. Di dekapnya putrinya dengan haru.


“Mengapa ini harus kembali terjadi Pa…” Ucapnya


lemah di pelukan Reza. Laki-laki itu mengusap rambut Ginara sayang.


“Tidak ada yang kembali terjadi sayang, Papa mohon,


percayalah” Kata Reza sabar menenangkan putrinya.


Dina yang mendengar keributan di luar kamarnya ikut


keluar, ia juga heran, sudah melebihi pukul 10.00 bahkan sudah hampir pukul


11.00, kenapa mereka belum berangkat juga. Ketika sampai di ruang tamu, ia


melihat Ginara meringkuk di pelukan Reza sambil menangis dan di sekelilingnya


ada Tiara dan Yara. Di lihatnya semua keluarga yang hadir juga berwajah muram.


Tahu ada yang tidak beres, ia segera mendekati Ginara.


“Bun…” Panggilnya pada Tiara. Wanita itu menoleh


dengan air mata sudah membanjiri wajahnya. Dina langsung menoleh pada Ginara yang


masih dalam pelukan Reza, tubuhnya bergetar. Di elusnya pundak gadis itu pelan.


“Gi….yakinlah, semua akan baik-baik saja” Hiburnya.


Ginara menoleh pada Dina, hatinya teriris melihat penampilan Ginara, yang


biasanya tegar, dingin, cuek, kini lemah, terpuruk, tak berdaya.


“Hei…jangan menjadi lemah, ayolah” Dina menarik


lengan Ginara, gadis itu hanya diam, tidak lagi berkata apapun, hanya air mata


yang tidak berhenti menetes. Otaknya tidak lagi bisa berpikir dengan baik untuk


kembali.


“Apakah benar aku pembawa sial?” Tanyanya lirih.


Semua yang hadir terkejut, tak terkecuali Hana dan Windi yang terus menangis


pilu. Semua menggeleng tidak tahan menyaksikan hal itu.


“Hei, lihat aku” Dina memegang kedua pipi Ginara,


“tidak ada yang namanya pembawa sial, kau tahu itu, ini hanya sedikit masalah,


tenanglah, semua akan baik-baik saja” Lanjutnya. Di tengah kepiluan handpone


Reynand berdering, semua orang kembali dikejutkan oleh suara deringan yang


cukup nyaring itu. Reynand meminta izin untuk mengangkatnya di angguki oleh


Reza.


“Ya Ren, apa ada kabar?”


“Om, pihak bandara mengatakan pesawat terakhir kali


mendarat di daratan Timur tapi setelah itu sinyalnya menghilang” Kata Reno.


Reynand menarik nafas, “Terima kasih Ren, kabarmu sedikit membantu, kabari kembali


Om jika kau mendapatkan informasinya”


“Tentu Om” Panggilan di akhiri, Reynand memasukkan


hp ke saku celananya seraya menghela nafas kembali kemudian memandang mereka


yang menanti jawabannya.


“Maaf, masih belum ada kabar lagi” Reynand menunduk


sedih, ia tidak sanggup mendapati wajah penuh harap dari wajah calon


menantunya. Gadis itu kembali terdiam dalam tangis. Dina semakin mengeratkan


pelukannya untuk memberi ketenangan kepada gadis itu.


Reza membawa Ginara untuk duduk di sofa ruang


tengah, kemudian meminta salah satu pelayan untuk mengambilkan air minum.


Hari sudah menjelang siang, sementara kabar dari


keberadaan Reno di bandara masih belum ada. Pihak hotel dan semua yang sudah


menunggu di sana tetap di suruh untuk menunggu kedatangan mereka karena ada


masih kendala. Pihak hotel dan keluarga Raharja serta keluarga Ramazan setelah


mendengar permasalahannya, mereka menunggu dengan sabar dan mendoakan semua

__ADS_1


baik-baik saja, dan perjalanan Aldy selamat sampai tiba di tanah air.


Wanita yang merias Ginara tampak keluar tergesa


dari kamar Ginara menuju ruang tengah, ia bergegas memberika hp Ginara yang


terus berdering di dalam kamar.


“Maaf, Mbak Ginara, dari tadi hp nya berdering


terus, saya tidak berani menerimanya” Wanita itu menyerahkan hpnya, Ginara


menatap deretan nomor telepon di layar hpnya.


“Angkat saja Gi, siapa tahu berita penting” Saran


Dina. Ginara terdiam, ia seolah pasrah dengan takdir yang mengiringinya. Dengan


tidak sabar Dina merebut hp Ginara dan menggeser tombol telepon hijau di


layarnya.


“Ya hallo” Dina menyapa dengan tidak sabar.


“Hallo…” Gadis itu melotot terkejut mendengar suara


yang sangat akrab di telinganya. Ia menoleh ke arah Ginara dengan mata


mengharap penuh.


“Gi….” Dina tidak bisa bersuara, ia hanya


mengarahkan hp ke telinga gadis itu karena ia hanya diam tanpa respon.


“Sweety” Panggil suara berat dari seberang telepon.


Ginara berjingkat dari duduknya.


“Aldy” Seru Ginara, mendengar suara yang familiar


itu, ia langsung merebut benda pipih itu dari tangan Dina.


“Ya ini aku sweety” Tanpa menjawab Ginara kembali


menangis sejadi-jadinya, “kau membuatku takut Al” Serunya dengan perasaan yang


begitu senang walaupun air matanya terus mengalir. Semua yang hadir mengucap


syukur sedalam-dalamnya mendengar Aldy selamat.


Terdengar tawa dari hp Ginara, “Maafkan aku, tapi


aku baik-baik saja sweety, aku akan menceritakan semuanya nanti, setelah kita


menikah”


Ginara terdiam sejenak dengan berusaha menghentikan


tangisannya, “Jadi…kita tidak jadi batal menikah?”


“Siapa memang yang mengatakan itu, hah” Balas Aldy


yang terdengar sedikit kesal.


“Kau yakin? Kau baik-baik saja kan?”


“Tentu sayang, aku berusaha cepat sampai kemari


untuk apalagi kalau bukan untuk menikahimu” Pekik Aldy.


Bibir Ginara melengkung mendengar luapan kemarahan


laki-laki itu. Di tariknya nafas sedikti panjang, “Baiklah, kalau begitu sampai


bertemu nanti”


“Tentu sweety, aku dalam perjalanan menuju hotel


ini, jangan sampai terlambat lho yaaa”


“Ish…siapa juga yang terlambat datang” Cemberutnya.


“Oke, oke, aku tunggu di hotel, gak pake lama”


“Ish…kebiasaan Tuan Pemaksa” Ginara menutup telepon


dengan cemberut, tapi sedetik kemudian ia menghambur ke pelukan Dina yang ada


di sebelahnya.


“Aku sudah bilang bukan, semuanya pasti baik-baik


saja” Ucap Dina tersenyum


“Iya, akhirnya semua terlewati Din…”


“Jadi…?” Potong Reza menegaskan pertanyaan ke arah


putrinya yang bahagia.


“Ya, Pa. Aldy sudah meluncur ke hotel tempat akad


di laksanakan.” Jawabnya.


“Ya sudah, kalau begitu kita juga harus


bersiap-siap” Balas Reza kemudian memerintahkan semua orang untuk bersiap


berangkat.


“Yah…jadi belepotan nih make up”, Cemberut Dina,


“Kamu sih Gi, pake acara nangis segala” Ejek Dina menggoda Ginara. Gadis itu


menepuk lengan Dina kesal yang hanya di balas tertawa. Persiapan kembali


dilakukan, pun dengan make up Ginara dan Dina.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2