Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Episode 33


__ADS_3

Setelah menemui Dewi, Dimas kemudian menemani sekertaris Rudi belanja di supermarket. Ia bertanya apa Rudi yang membeli bahan makanan sendiri.


Rudi menjelaskan kalau ini bagian dari tugas jadwal pagi dari seorang single parent.


"Aku kemarin pergi ke hotel tempat Kalau menginap, tapi tidak bertemu" jelas Dimas sambil jalan du samping Rudi, "Dia pasti tahu aku ada di sana".


"Sandi benar-benar berwatak keras" sahut Rudi.


Dimas minta maaf, pasti sulit bagi Rudi berdiri ditengah-tengah antara dirinya dan Sandi. Rudi malah berkata itu hal yang mengharukan, "Aku bukan orang yang hanya mengikuti perintah saja".


Dimas tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan cepat Rudi menyahut wajar jika Dimas tidak tahu apa yang harus Dimas lakukan, karena itu bukan kesalahannya.


"Ini juga bukan kesalahan kakakku" sahut Dimas yang sangat menyayangi kakaknya.


Rudi membenarkan, "Ini adalah kesalahan Ayahmu".


Dimas diam lalu tertawa lepas, "Ayah seharusnya mendengar apa yang baru kamu katakan!".


"Jangan.. Steven masih SMA" ucap Rudi panik.


"Aku cemburu pada Steven, punya ayah seperti mu", ucap Dimas.


"Bagi Steven, kamu lah yang beruntung. Memiliki ayah seperti presdir Ahmad".


"Benarkah" tanya Dimas tidak yakin.


Pulang dari supermarket, Dimas langsung menemui ayahnya di ruang kerja. Hanya sekedar memberi salam. Di dalam ruangan itu ada Asisten kepercayaan presdir Ahmad.


Dimas yang tak ingin mengganggu buru-buru pergi. Kasihan Dimas, ia juga ingin merasakan kehangatan dari kasih sayang seorang ayah.


Setelah Dimas pergi, presdir Ahmad menyuruh Asistennya mengeluarkan apa yang dia miliki.


Asisten itu mengeluarkan amplop coklat dari saku jasnya, berisi foto-foto Sandi dan Dimas yang ia ambil secara diam-diam. Presdir Ahmad berdecak melihat foto keduanya anaknya bersama para wanita. "Saya hanya memiliki dua orang anak, tapi mengapa mereka seperti ini?".


Presdir Ahmad menunjuk foto Sandi bersama Wanita guru les yang ia temui sebelumnya, ia ingin tahu apa pekerjaan Wanita itu sekarang. Asisten menjawab Wanita itu mengajar les private di wilayah Gangnam.


Presdir Ahmad lalu minta penjelasan, foto Dewi dan Dimas yang terlihat bersama-sama saat di Taiwan.


Asisten menjelaskan pertemuan Dimas dan Dewi sepertinya tidak disengaja, dan hanya kebetulan saja, "Dewi tinggal di rumah anak Anda selama beberapa hari".


"Tinggal? Hanya mereka berdua?", tanya Presdir Ahmad dan di iyakan oleh Asisten.

__ADS_1


Asisten itu lalu menunjuk foto yang diambil hari ini, foto saat Dimas mengunjungi sekolah Dewi. Presdir Ahmad kembali berdecak, "Aku malu untuk bertemu kamu, Asisten Jung. Lihatlah bagaimana aku membesarkan anak- anakku".


***


Malam harinya, Ibu Dewi masuk kekamar, melihat putrinya itu sedang tidur dengan buku-buku pelajaran di sampingnya. Tangannya bahkan masih menggenggam pulpen. Pelan-pelan Astuti menarik pulpen dari tangan Dewi dan merapihkan buku pelajaran.


Dimeja, Astuti menemukan Aplikasi sekolah lanjutan ke universitas. Dewi tidak memiliki keinganan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Di kolom rencana masa depan, Dewi menuliskan agar Mendapatkan pekerjaan.


Astuti sedih, memandangi putrinya yang tertidur. Hatinya pasti sedih tidak bisa mengirim Dewi ke perguruan tinggi. Astuti menangis dalam diam.


Esok harinya, Dimas jalan-jalan di sekeliling kompleks rumah. Mobil Aldi teman masa kecilnya lewat di depan rumah Dimas.


"Kau Dimas?" seru Aldi dari dalam mobil melihat teman lamanya itu. Tanpa disuruh, supir memundurkan mobil mendekati Dimas.


"Benar kau, Hei...Dimas!" Aldi keluar mobil dengan senyum ramahnya menyapa Dimas.


"Apakah kau mengenalku? Apakah aku pernah mem-bully-mu?" tanya Dimas bercanda.


"Kau tidak mengingatku?" tanya Alden bengong, senyum renyahnya itu memudar dari wajahnya.


"Tentu saja aku ingat..Inilah caraku menyapamu...Bagaimana kabarmu, Aldi ?".


"Ya, Seperti yang kau lihat. Aku mencoba untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zona waktu. Apakah kau mau pergi ke sekolah?".


"Sekolah?", tanya Aldi bingung, lalu melihat jam di tangannya. Aldi buru-buru masuk ke dalam mobil, "Aish ! Seperti yang kamu lihat, aku selau terlambat pada hari pertamaku! Kau tidak pindahkan?".


"Pindah?".


"Ada perempuan yang...Sudahlah, Lupakan! Lagian kau juga tidak pindah. Kita akan bicara lagi nanti", Aldi masuk ke dalam mobil lalu pergi.


"Aku akan sibuk nanti" gumam Dimas.


Dimas berbalik ingin masuk, tepat pada saat itu Dewi membuka pintu pagar.


Tentu Dimas sangat kaget, buru-buru sembunyi di balik tembok. Tapi terlambat... Dewi sudah melihat wajah Dimas terlebih dahulu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dewi kaget melihat Dimas berkeliaran di sekitar kompleks perumahan.


"Oh, Dewi" ucap Dimas lalu tertawa menghilangkan rasa kagetnya, "Bagaimana bisa kita bertemu seperti ini? Kau pasti mengalami mimpi indah semalam".


"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau tahu aku tinggal di sini?" tanya Dewi syok.(Ceritanya Dewi belum tahu kalau Dimas anak kedua keluarga Ahmad).

__ADS_1


"Kau tinggal di sini?" tanya Dimas pura - pura tidak tahu.


"Kau pikir kau ada di mana? Ayo ikut aku...Ada CCTV di mana-mana" Dewi menarik Dimas menjauhi rumah keluarga Ahmad.


"Kita mau ke mana?" tanya Dimas tersenyum.


"Ini bukan waktu yang tepat, Kita tidak boleh terlihat oleh putra ke- 2 keluarga ini. Dia selalu datang di saat seperti ini".


"Oh putra ke- 2, yang sangat tampan itu?" tanya Dimas memuji diri sendiri.


Dewi berhenti menarik dan menatap Dimas yang sedang tersenyum manis padanya. Dewi kaget saat menyadari tangannya memegang tangan Dimas dari tadi, lalu melepasnya.


Dimas menyodorkan tangannya, "Kau bisa terus menarikku".


Dewi sedikit curiga, "Apa kau tinggal dilingkungan ini?"


Dimas mengiyakan, Dewi ingin tahu rumah yang keberapa.


"Kenapa kau ingin tahu dimana aku tinggal, Ini akan mengejutkanmu".


"Lupakan saja, Aku hanya ingin tahu apakah rumor nya sudah menyebar di sekitar lingkungan".


Dimas tanya rumor apa itu. Dewi lalu mengatakan ini agar Dimas tidak salah paham, "Kau pasti penasaran kenapa aku keluar dari rumah itu padahal kau sudah mengetahui siapa aku saat di Taiwan".


Dimas tidak merasa penasaran tentang hal itu, tapi ia penasaran pada hal lain. Dewi bingung, sesuatu yang lain tentang apa itu.


Dimas mendekatkan wajahnya, "Kapan kau akan mentraktirku makan malam?".


"Ketika saatnya tiba".


Dimas terus mendesak, "Dan..Kapan itu? Jangan berani mengatakan padaku Pada saat yang tepat".


"Kau bilang kau akan menelepon, tapi kamu tidak telepon" jawab Dewi.


Dimas menggoda, "Oh..Apakah kau menunggu teleponku?".


"Aku akan pergi, Aku sudah terlambat" ucap Dewi lalu pergi menghindari pertanyaan Dimas.


Dimas tersenyum memandangi punggung Dewi yang menjauh. Perlahan senyumnya hilang berganti ke khawatiran.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2