
Gadis itu membuka matanya perlahan, tubuhnya
menggeliat melepaskan kepenatan yang dirasakan tubuhnya. Sejenak dia terdiam,
merenungi apa yang telah terjadi padanya, dan Ketika ia sudah mengingat
semuanya, ia menghela nafas pelan. Ia merasa beban berat yang selama ini di
tanggungnya seolah lenyap. Perasaannya lega, tidak ada lagi perasaan mengganjal
di hatinya.
Ringan.
Itu yang dia rasakan.
Ia mencium bau masakan yang wangi. Hmmm, siapa yang
memasak pagi-pagi begini. Ini di apartemen, apa mungkin Aldy membawanya ke
apartemen dan pemuda itu juga ikut menginap bersamanya? Ia melihat ke seluruh
tubuhnya. Ia bernafas lega. Pakaiannya masih sama seperti tadi malam. Ada rasa
syukur di hatinya ketika mengetahui Aldy tidak mengganti pakaiannya, walaupun
laki-laki itu sanggup melakukannya. Ia tersenyum lembut, kemudian beranjak ke
kamar mandi untuk membersihkan diri.
Gadis itu turun ke lantai satu dan menuju ke dapur,
di lihatnya Aldy sedang memasak dengan memakai celemek bergambar kartun. Haha,
lucu sekali…tapi seksi juga. Eh…apa sih.
Aldy menoleh mendengar langkah mendekat dan
tersenyum mendapati Ginara sudah rapi dengan pakaian barunya.
“Masak apa?” Tanya Ginara seraya duduk di kursi
makan. Aldy tersenyum.
“Nih, masak bubur ayam kesukaanmu.” Aldy menyajikan
dua mangkuk bubur ayam buatannya lengkap dengan toping ayam dan bawang goreng.
“Hmmm, kelihatannya sedap” Pujinya.
“Jelas dong, siapa dulu yang masak” Bangga Aldy
seraya menyorongkan mangkuk ke hadapan gadis itu. Ginara tersenyum menerimanya.
“Teruslah tersenyum seperti itu…” Kata Aldy. Ginara
menatap Aldy tersipu. Ia heran kenapa perubahan sikapnya drastis ketika
berhadapan dengan Aldy. Ia kembali merasa masa-masa bahagia seperti ketika ia bersama
__ADS_1
Azril.
“Sudah pintar merayu ya…” Ejek Ginara. Aldy
mengacak rambut Ginara gemas.
“Dah makan dulu, setelah ini aku akan pulang dulu,
ada pekerjaan yang harus aku kerjakan, Yudha tidak sanggup menanganinya.”
Ginara mengangguk kemudian menyuap bubur ayam ke mulutnya pelan-pelan sampai
habis.
“Aku akan ke apotek” Katanya setelah menghabiskan
buburnya. Aldy menggeleng.
“Kamu istirahat aja dulu, aku sudah meminta Mbak
Dina untuk menggantikanmu sementara.” Jawab Aldy.
“Jangan membantah” Sambungnya ketika Ginara ingin
menyampaikan protesnya.
“Ish…iya-iya” Katanya cemberut.
Cup.
“Hei…” Ginara mendelik marah.
Aldy santai.
“Kita bukan muhrim tahu, dosa.” Sergah Ginara.
“Ya…dihalalin aja yuk” Tawar Aldy yang langsung
membuat Ginara melotot terkejut.
“Ish…dah sana “ Usirnya pura-pura marah.
“Jangan marah, tambah cantik tahu” Kata Aldy seraya
menoel pipi kanan gadis itu. Ginara hanya menghela nafas pelan seraya mengurut
dadanya.
Sabar.
Menghadapi bocah harus ekstra sabar.
“Baiklah, telpon aku kalau butuh sesuatu ya.” Aldy
berdiri dari duduknya, Ginara membawa bekas mangkuk untuk di cuci di wastavel.
“Tidak akan” Gerutunya pelan.
“Nanti kangen…” Godanya.
__ADS_1
“Hah…iya-iya…sudah sana, katanya ada pekerjaan
penting. Aku akan diam di rumah. Puas!” Kata Ginara akhirnya. Ia menatap Aldy jengah,
ia tidak ingin ada serangan mendadak, jadi sebisa mungkin ia tidak
mengerucutkan bibirnya.
Aldy tertawa renyah kemudian membelai kepala gadis
itu sayang, secepat kilat di kecupnya pipi gadis itu kemudian berlari keluar meninggalkan
apartemen seraya tertawa senang.
“Dasar bocah!” Teriak Ginara marah, tak urung
pipinya bersemu merah. Ia meraba pipinya perlahan, namun ia kembali mendelik
kaget karena ada kepala yang tiba-tiba melongok ke dalam. Aldy tersenyum ketika
tangan Ginara masih menempel pada pipi yang baru diciumnya tadi.
“Jangan di hapus dan jangan kangen” Goda Aldy
seraya menghindar dari serangan bantal sofa ke mukanya. Masih terdengar tawa
membahana di luar apartemennya. Gadis itu hanya menggeleng tersenyum.
“Terimakasih Azi, kau hadirkan kembali kebahagiaan ini melalui Aldy” Lirihnya
tersenyum.
Waktu bergulir semakin siang
Ginara bermalas-malasan di kamarnya, ia sedang
tiduran di sofa, berpikir dan mencoba menganalisa setiap kejadian yang
akhir-akhir ini di alaminya. Ia mengotak-atik hp sampai menemukan kontak Dina,
ia langsung bangkit duduk, lupa kalau belum memberi kabar pada sahabat
rempongnya itu. Ditekannya gambar telepon pada aplikasi hijau itu.
Hubungan tersambung.
“Assalamu’alaikum Din” Sapanya.
“Wa’alaikumussalam, hai Gi, ada apa kamu gak masuk,
kamu sakit?” Tanya Dina khawatir. Ginara menggeleng walaupun Dina gak tahu sih.
“Kemana kamu tadi malam? Aldy panik tahu cari kamu
sampai telepon ke aku. Davin dan bunda terus nanyain keberadaanmu. Aku
bingunglah jawabnya.” Cerocos Dina.
“Aku jawab yang mana?” Bukannya menjawab, Ginara
__ADS_1
malah bertanya dengan kesal. Terdengar dengusan kesal di seberang.