Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Jangan kangen…


__ADS_3

Gadis itu membuka matanya perlahan, tubuhnya


menggeliat melepaskan kepenatan yang dirasakan tubuhnya. Sejenak dia terdiam,


merenungi apa yang telah terjadi padanya, dan Ketika ia sudah mengingat


semuanya, ia menghela nafas pelan. Ia merasa beban berat yang selama ini di


tanggungnya seolah lenyap. Perasaannya lega, tidak ada lagi perasaan mengganjal


di hatinya.


Ringan.


Itu yang dia rasakan.


Ia mencium bau masakan yang wangi. Hmmm, siapa yang


memasak pagi-pagi begini. Ini di apartemen, apa mungkin Aldy membawanya ke


apartemen dan pemuda itu juga ikut menginap bersamanya? Ia melihat ke seluruh


tubuhnya. Ia bernafas lega. Pakaiannya masih sama seperti tadi malam. Ada rasa


syukur di hatinya ketika mengetahui Aldy tidak mengganti pakaiannya, walaupun


laki-laki itu sanggup melakukannya. Ia tersenyum lembut, kemudian beranjak ke


kamar mandi untuk membersihkan diri.


Gadis itu turun ke lantai satu dan menuju ke dapur,


di lihatnya Aldy sedang memasak dengan memakai celemek bergambar kartun. Haha,


lucu sekali…tapi seksi juga. Eh…apa sih.


Aldy menoleh mendengar langkah mendekat dan


tersenyum mendapati Ginara sudah rapi dengan pakaian barunya.


“Masak apa?” Tanya Ginara seraya duduk di kursi


makan. Aldy tersenyum.


“Nih, masak bubur ayam kesukaanmu.” Aldy menyajikan


dua mangkuk bubur ayam buatannya lengkap dengan toping ayam dan bawang goreng.


“Hmmm, kelihatannya sedap” Pujinya.


“Jelas dong, siapa dulu yang masak” Bangga Aldy


seraya menyorongkan mangkuk ke hadapan gadis itu. Ginara tersenyum menerimanya.


“Teruslah tersenyum seperti itu…” Kata Aldy. Ginara


menatap Aldy tersipu. Ia heran kenapa perubahan sikapnya drastis ketika


berhadapan dengan Aldy. Ia kembali merasa masa-masa bahagia seperti ketika ia bersama

__ADS_1


Azril.


“Sudah pintar merayu ya…” Ejek Ginara. Aldy


mengacak rambut Ginara gemas.


“Dah makan dulu, setelah ini aku akan pulang dulu,


ada pekerjaan yang harus aku kerjakan, Yudha tidak sanggup menanganinya.”


Ginara mengangguk kemudian menyuap bubur ayam ke mulutnya pelan-pelan sampai


habis.


“Aku akan ke apotek” Katanya setelah menghabiskan


buburnya. Aldy menggeleng.


“Kamu istirahat aja dulu, aku sudah meminta Mbak


Dina untuk menggantikanmu sementara.” Jawab Aldy.


“Jangan membantah” Sambungnya ketika Ginara ingin


menyampaikan protesnya.


“Ish…iya-iya” Katanya cemberut.


Cup.


“Hei…” Ginara mendelik marah.


Aldy santai.


“Kita bukan muhrim tahu, dosa.” Sergah Ginara.


“Ya…dihalalin aja yuk” Tawar Aldy yang langsung


membuat Ginara melotot terkejut.


“Ish…dah sana “ Usirnya pura-pura marah.


“Jangan marah, tambah cantik tahu” Kata Aldy seraya


menoel pipi kanan gadis itu. Ginara hanya menghela nafas pelan seraya mengurut


dadanya.


Sabar.


Menghadapi bocah harus ekstra sabar.


“Baiklah, telpon aku kalau butuh sesuatu ya.” Aldy


berdiri dari duduknya, Ginara membawa bekas mangkuk untuk di cuci di wastavel.


“Tidak akan” Gerutunya pelan.


“Nanti kangen…” Godanya.

__ADS_1


“Hah…iya-iya…sudah sana, katanya ada pekerjaan


penting. Aku akan diam di rumah. Puas!” Kata Ginara akhirnya. Ia menatap Aldy jengah,


ia tidak ingin ada serangan mendadak, jadi sebisa mungkin ia tidak


mengerucutkan bibirnya.


Aldy tertawa renyah kemudian membelai kepala gadis


itu sayang, secepat kilat di kecupnya pipi gadis itu kemudian berlari keluar meninggalkan


apartemen seraya tertawa senang.


“Dasar bocah!” Teriak Ginara marah, tak urung


pipinya bersemu merah. Ia meraba pipinya perlahan, namun ia kembali mendelik


kaget karena ada kepala yang tiba-tiba melongok ke dalam. Aldy tersenyum ketika


tangan Ginara masih menempel pada pipi yang baru diciumnya tadi.


“Jangan di hapus dan jangan kangen” Goda Aldy


seraya menghindar dari serangan bantal sofa ke mukanya. Masih terdengar tawa


membahana di luar apartemennya. Gadis itu hanya menggeleng tersenyum.


“Terimakasih Azi, kau hadirkan kembali kebahagiaan ini melalui Aldy” Lirihnya


tersenyum.


 Waktu bergulir semakin siang


Ginara bermalas-malasan di kamarnya, ia sedang


tiduran di sofa, berpikir dan mencoba menganalisa setiap kejadian yang


akhir-akhir ini di alaminya. Ia mengotak-atik hp sampai menemukan kontak Dina,


ia langsung bangkit duduk, lupa kalau belum memberi kabar pada sahabat


rempongnya itu. Ditekannya gambar telepon pada aplikasi hijau itu.


Hubungan tersambung.


“Assalamu’alaikum Din” Sapanya.


“Wa’alaikumussalam, hai Gi, ada apa kamu gak masuk,


kamu sakit?” Tanya Dina khawatir. Ginara menggeleng walaupun Dina gak tahu sih.


“Kemana kamu tadi malam? Aldy panik tahu cari kamu


sampai telepon ke aku. Davin dan bunda terus nanyain keberadaanmu. Aku


bingunglah jawabnya.” Cerocos Dina.


“Aku jawab yang mana?” Bukannya menjawab, Ginara

__ADS_1


malah bertanya dengan kesal. Terdengar dengusan kesal di seberang.


__ADS_2