
Keesokan harinya, di kediaman keluarga Pramudya terjadi kehebohan karena Nyonya muda Pramudya terus merengek meminta makanan yang menurut mereka sangat aneh. Dan para koki dan maid di buat sibuk dengan permintaan nyonya muda mereka. Dan jika makanan itu tidak sesuai dengan yang diharapkan, Azlan dan yang lain akan menjadi korban dengan menghabiskan eksperimen dari para koki.
Rendy, Mia, Danu dan Helena memilih melarikan diri agar tidak ikut menjadi korban percobaan makanan aneh itu.
"By, sebenarnya kau ini ingin makan apa? aku akan membelikan nya untuk mu. Tapi jangan makanan yang aneh." seru Azlan.
"Aku hanya ingin makan nasi coklat pedas kak. Aku tidak mau makan yang lain."
Azlan menelan ludahnya kasar. Nasi coklat pedas? bagaimana koki akan membuatnya sedangkan coklat rasanya manis, bukan pedas. Dan bagaimana nanti rasanya nasi coklat pedas itu? membayangkan nya saja dia sudah bergidik.
Azlan melihat ayah dan ayah mertuanya mengangkat kedua bahunya. Seperti nya mereka juga tidak tahu yang di maksud Ariel.
Azlan terlihat frustasi. Koki sudah membuat tiga porsi makanan yang di inginkan istrinya tapi ketiga nya tidak sesuai dengan keinginan sang istri. Dan berakhir dengan dirinya yang harus memakannya. Tapi Azlan tidak mau menderita sendirian. Dia mengajak Ayah dan ayah mertuanya untuk ikut berpartisipasi merasakan eksperimen gagal koki mereka.
Tidak sampai di situ. Belum juga mendapatkan makanan yang sesuai dengan keinginan nya, Ariel sudah merengek meminta Azlan memanjat pohon mangga di halaman rumah. Dia ingin Azlan memetik buah mangga yang masih muda. Kalau ada yang masih kecil.
Azlan menghela nafas panjang. Dia meminta Baron untuk mengambilkan tangga. Mau tidak mau dia harus melakukannya demi buah hati mereka. Mungkin ini ujian untuk Azlan sebagai calon ayah yang baik. Tidak hanya mau enaknya saja saat proses pembuatan, tapi dia juga harus merasakan hasil dari perbuatannya. Lagipula apa yang dia lakukan ini belum ada apa-apanya jika di bandingkan Ariel yang saat ini tengah hamil. Selama sembilan bulan nanti, istrinya mengandung dan saat melahirkan buah hati mereka, itu adalah perjuangan yang mempertaruhkan nyawa. Jadi Azlan tidak mau mengeluh.
Tangga sudah di sandarkan di pohon mangga. Azlan melepas sepatu dan menaikkan lengan bajunya. Dia melihat Ariel yang memberinya semangat. Begitu juga dengan Maid dan anak buahnya. Dia merasa seperti sedang melakukan pertandingan yang mendapat dukungan dari para penonton. Haruskah Azlan merasa terharu? Ya, dia sangat terharu. Untuk itu demi buah hatinya dia harus semangat.
"Ayo Kak!!!" teriak Ariel.
__ADS_1
"Ayo Tuan!! kau pasti bisa." Anak buah dan juga para maid tidak mau ketinggalan memberi semangat pada Azlan. Sedangkan Alfa dan Hendra hanya menonton dengan duduk sambil menikmati secangkir kopi.
Satu kaki sudah di naikan, di ikuti kaki satunya naik di anak tangga di atasnya. Azlan terus merangkak naik dan berpindah ke dahan mangga yang cukup besar.
Semua bersorak dan bertepuk tangan melihat Azlan yang berhasil memanjat pohon mangga. Sekarang yang harus dia lakukan adalah memetik buah mangga. Azlan berdiri perlahan sambil memeluk pohon mangga. Setelahnya dia mencoba meraih mangga yang menggantung tidak jauh dari nya berdiri.
Semua mulai tegang melihat Azlan yang mencoba meraih mangga tersebut. Perlahan tangan Azlan mencapai mangga tersebut dan berhasil. Semua kembali bersorak. Azlan pun ikut bersorak. Dia memasukkan mangga itu kedalam saku celananya. Dia kembali memetik buah mangga lainnya hingga mendapatkan beberapa mangga kecil. Tapi tiba-tiba dia merasakan geli di kakinya. Tidak, tapi dia merasa ada yang berjalan di dalam celana nya.
Tubuh Azlan yang menggeliat terlihat seperti sedang menari hingga membuat maid dan anak buahnya bertepuk tangan dan ikut bergoyang. Azlan tidak menghiraukan mereka, dia mengusap kakinya karena merasa geli, tapi tiba-tiba sesuatu menggigit di dalam sana.
Tubuh Azlan menegang, dia berteriak sambil merogoh kedalam celananya. Para maid menutup wajahnya sedangkan Ariel dan anak buah Azlan mulai panik. Begitu juga dengan Alfa dan Hendra.
"Bos, hati-hati!!" anak buahnya juga meneriaki nya memberi peringatan.
"Lan, apa yang kau lakukan? jika kau seperti itu maka kau.....
Belum selesai Alfa berbicara, tubuh Azlan kehilangan keseimbangan dan...
Gubrak
"Kakak!!!"
__ADS_1
"Bos!!!"
"Azlan!!!!"
Mereka berteriak bersamaan.
"Ow.. Punggung ku."
*****
"Maaf kak, semua ini salahku. Coba aku tidak meminta Kakak memetik buah mangga untuk ku, mungkin kakak gak akan seperti ini." sesal Ariel. Dia merasa bersalah karena demi menuruti keinginannya, Azlan jatuh dari pohon mangga dan harus di rawat di rumah sakit karena punggungnya retak.
"Tidak apa-apa By, Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir." seru Azlan. Sebenarnya hal itu tidak jadi masalah untuk Azlan. Bahkan dia pernah mendapatkan luka tembak di tubuhnya dan dia tidak apa-apa.
Ini semua adalah ide dari Alfa. Dia meminta agar Azlan di rawat di rumah sakit dengan alasan punggungnya yang retak. Tapi yang sebenarnya adalah Alfa melakukan itu untuk menghindar dari permintaan aneh dari Ariel. Dan benar saja, Kini Ariel menyesal.
Melihat hal itu, Azlan justru merasa bersalah. Dia tidak tega melihat Istrinya sedih. Tapi untungnya dia berhasil memetikan buah mangga untuk Ariel walaupun dia berakhir di rumah sakit.
Hah, semua ini salah semut sialan itu. Jika mereka tidak menggigit kaki Azlan, mungkin Azlan tidak akan terlihat memalukan dengan pendaratan yang terjadi secara dadakan itu.
Sepertinya setelah ini dia akan membasmi semut-semut sialan itu agar tidak menggigit sembarangan. Untung saja mereka tidak menggigit aset berharganya. Jika itu terjadi, bisa-bisa Singa betina nya akan marah dan merasa terkhianati.
__ADS_1