Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Episode 34


__ADS_3

Aldi sedang disekolah, dia berlari menuruni tangga, dengan membawa kamera. Ia mengejar Tias yang sedang jalan bersama Steven. Sembari mengatur napasnya, Aldi minta Tias jangan terkejut. "Dimas kembali ke Indonesia".


Tias lalu terkejut, sangat terkejut menutupi mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya. Aldi memotret Tias dalam ekspresi seperti itu, "Moment yang tepat" ucap Aldi.


Aldi tersenyum pada Steven, "Kau harus berhati-hati" menepuk pundaknya pelan lalu pergi.


Tias diam sibuk dengan pikirannya ditambah rasa terkejut. Steven lalu menegur, "Ada apa?".


Tias bilang kalau ia sedang bernyanyi dalam hati, bertingkah seperti mendengar perkataan Aldi barusan.


Tias tanya apa yang Aldi katakan barusan. Steven bilang kalau Aldi berkata Dimas kembali ke Indonesia.


"Siapa? Oh..anak yang kamu lihat di Taiwan?", tanya Tias masih berpura-pura tidak mengenal Dimas. Sebelum Steven bertanya lebih banyak, Tias buru-buru pergi dengan alasan ingin menemui temannya, bertanya judul apa yang barusan ia nyanyikan dalam hati.


Steven mengekor di belakang,Tapi gadis itu semakin ngibrit menghindari Steven.


Steven tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya itu. Hm..Steven ini gak pernah bisa marah sama Tias sepertinya.


Tias bukan menemui temannya, tapi menemui Kimi yang sedang latihan golf. Hm..sekolah elit, tak heran jika golf menjadi salah satu fasilitas yang disediakan sekolah itu.


"Hei! Kimi" seru Tias marah.


"Apa?" tanya Kimi.


"Apakah Dimas kembali ke Indonesia? Aldi bilang dia kembali" sebuah pertanyaan yang membuat Kimi terkejut. Bahkan sebagai tunangannya pun ia baru mendengar berita ini.


Di depan Tias, Kimi berlagak sudah mengetahuinya, "Bagaimana jika benar? Bisa kau tidak memikirkan tentang tunanganku dan khawatirkan saja pacarmu itu? Dia berpacaran dengan gadis di Taiwan?".


Tias bilang kalau gadis itu bukan orang lain, tapi sahabat Steven. "Pacarku selalu menelpon dan menceritakan semuanya, Jadi tidak ada yang aku tidak tahu tentang dia. Tidak seperti tunanganmu".


"Kamu tampaknya tahu banyak tentang Dimas. Apa itu yang dia lakukan, ketika dia berkencan dengan kamu?".


"Jangan mengungkit masa lalu! Jadi apakah Dimas kembali atau tidak?" tuntut Tias minta penjelasan.


Kimi marah apa peduli Tias jika Dimas kembali ke Indonesia atau tidak. "Apa hubungannya denganmu".

__ADS_1


Tias menyahut, "Apakah sulit hanya untuk memberitahuku? Aku takut Dimas akan menyakiti kekasihku! Jika aku diputuskan Steven, aku akan menggunakan semua uangku untuk membalas dendam padamu!" Tias marah lalu pergi.


Sepertinya Tias cinta mati sama Steven sampai takut di putusin.


Kimi yang juga marah segera mengambil ponselnya, menghubungi ponsel Dimas. Tapi tersambung nada tidak aktif, membuat Kimi semakin marah dan merasa tidak berarti.


Kehilangan mood berlatih, Kimi pergi ke ruang loker para siswa. Di depan lokernya, ada Rendi berdiri menutupi loker milik Kimi, "Minggir" usir Kimi ketus.


"Apakah benar, Dimas kembali?" tanya Rendi.


"Kenapa semua orang bertanya padaku tentang dia? Sangat menjengkelkan! Aku bilang minggir" Kimi mendorong Rendi menjauhi lokernya.


Rendi mengolok, "Jadi adik ku juga tidak tahu, Itulah kenapa dia kesal".


"Aku bisa melihatmu menjadi sangat peduli...peduli saat kau seperti ini. Kenapa? Apakah kau takut kehilangan tempatmu?" balas Kimi.


Aku takut aku tidak akan melihat dia, aku sangat merindukannya. Aku takut temanku akan menghindariku.


Ponsel Kimi berdering, kebetulan sekali yang menelpon adalah Dimas. Sebelum menjawab, Kimi bicara pada Rendi, "Temanmu, kembali ke Indonesia".


"Aku kembali ke Indonesia, Jika kau meneleponku untuk menanyakan itu, aku sudah bilang, Dah", terdengar suara sambungan telepon yang diputus.


Raut wajah Kimi langsung berubah, tapi karena ada Rendi di depannya. pura-pura masih bicara pada Dimas, "Jam berapa? Oke, aku akan menemuimu nanti" ucapnya lalu menutup telepon.


Pada Rendi Kimi berkata ia akan bertemu dengan Dimas hari ini sepulang sekolah "Kau ingin mengatakan sesuatu padanya?".


"Aku berpikir kamu tidak akan menemuinya", ucap Young Do mengetahui Rachel berbohong. "Tapi jika kau bertemu dengannya, tolong sampaikan pesanku Bagaimana kabar Ibunya?".


Rendi lalu pergi..Kimi diam menahan Malu.


***


Astuti menyajikan teh untuk presdir Ahmad. Presdir Ahmad tanya sudah berapa lama Astuti berkerja pada keluarganya. Astuti lalu meletakkan nampan di meja mengeluarkan notes ingin menulis.


Tapi Presdir Astuti menyuruhnya duduk. Astuti memasukkan kembali notesnya ke dalam kantong celemek.

__ADS_1


Tiba-tiba Nyonya Sari masuk dan kaget melihat Astuti ada di dalam. Terlebih lagi melihat tangan Astuti yang merogoh kantung.


Nyonya Sari mengira Astuti akan melaporkan sesuatu pada presdir Ahmad, tentang detektif yang ia sewa untuk mengikuti Nyonya Lesti.


Nyonya Sari buru-buru duduk dan bilang kalau ini hanya salah paham." Aku akan menjelaskan semuanya..Dengarkan aku!".


"Benarkah? Oke Jelaskan!" ucap presdir Ahmad memberi kesempatan Nyonya Sari bicara. Astuti menuliskan sesuatu di notesnya.


Nyonya Sari memasang wajah memelas, seperti orang yang bersalah. Dan bingung bagaimana menjelaskan. Beruntung Astuti menunjukkan notesnya ke Nyonya Sari, "Tuan bertanya berapa lama aku sudah bekerja di sini!".


"3 tahun..3 tahun, Dia telah bekerja dengan baik!", jawab Nyonya Sari lega. "Tapi dia terus mengatakan baru 2 tahun . Itulah kesalahpahamannya Tapi, mengapa?".


Presdir Ahmad berkata kebanyakan orang tidak bisa bertahan bekerja di sini selama setahun karena orang yang ada di rumah tidak baik, tapi Astuti telah tinggal cukup lama, dan untuk itu presdir Ahmad ingin berterima kasih padanya. Nyonya Sari membenarkan.


Presdir Ahmad tanya berapa usia putri Astuti. kemudian Astuti ingin menulis, tapi Nyonya Sari langsung menyambar, "Kelas 2 SMA...kelas 2 SMA".


Presdir Ahmad bilang putri Astuti pasti kesepian tumbuh besar tanpa seorang ayah. Ia ingin tahu bagaimana nilai akedemis Dewi di sekolah.


Karena Nyonya Sari tak mengatahui itu, maka ia menyuruh Astuti menulis jawabannya.


Nyonya Sari membaca tulisan Dewi, "Dia selalu mendapat peringkat ke- 5 di kelasnya", .


"Benarkah?", tanya Nyonya Sari terkejut. Astuti mengiyakan dengan anggukan.


Presdir Ahmad memuji putri Astuti sangat cerdas, "Dia melakukan semua yang dia bisa di lingkungan yang keras. Dia juga membantu Ibunya". Nyonya Sari tidak suka mendengar presdir Ahmad memuji Dewi.


"Seperti yang kamu tahu, kami punya beberapa sekolah di yayasan kami. Kenapa kau tidak mentransfer anakmu ke SMA saya?", tawar Presdir Ahmad.


Astuti kaget bukan kepalang menerima tawaran yang tidak disangka-sangka.


Nyonya Sari protes. Presdir Ahmad mengatakan anggap saja ini sebagai bentuk hadiah dari rasa terima kasihnya atas pengabdian Astuti, "Anak-anak perlu mempunyai impian bahkan dalam lingkungan yang keras".


"Benarkah!" Nyonya Sari kembali protes.


Sedangkan Astuti masih terkejut, memandang presdir Ahmad dan Nyonya Sari bergantian. Tapi akhirnya ia berdiri menunduk hormat berkali-kali pada presdir Ahmad sebagai ucapan rasa terima kasihnya. Yang berarti ia menerima tawaran yang di ajukan presdir Ahmad.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2