
Assalamu'alaikum
Selamat malam
Hadir lagi nih....
Hehe...pingin deh dapat like novelku, seneng kali rasanya kalau banyak yang suka sama novel yang aku buat....
Dah lah...cukup sekian curhatnya...
Met baca reader....
Di ruang kerja Reza, tampak duduk berhadapan dengan
di batasi meja kerja, Reza dan Aldy. Awalnya Reza bingung, dia kira pemuda itu
datang untuk menemui Davin, tapi ternyata ingin berbicara empat mata dengan Reza,
dengan penasaran pria paruh baya itu mengajak Aldy ke ruang kerjanya.
Tanpa basa basi Aldy langsung mengutarakan
keinginannya untuk menjalin bahkan bisa dikatakan ini adalah lamaran informal
yang disampaikannya pada calon papa mertua. Pemuda itu memang selalu apa
adanya, tidak mau bertele-tele, namun permintaan yang di luar perkiraan Reza
membuat pria itu terdiam sangat lama. Matanya menerawang jauh, seakan ia
mengenang kembali masa kecil putrinya.
Akhrinya Reza mulai bercerita tentang masa kecil
Ginara hingga remaja, ada tangis bahagia dan juga sesak Reza perlihatkan
sepanjang bercerita sebanyak yang ia dengar.
“Jadi setelah kecelakaan maut itu merenggut nyawa
mamanya, kami berusaha dengan sabar untuk mengembalikan Ginara menjadi gadis
yang ceria lagi. Butuh hampir lima tahun untuk menghilangkan trauma pada Ginara”
Cerita Reza.
“Trauma?” Ulang Aldy. Reza mengangguk.
“Hemm.., dia menjadi sangat pendiam dan ketakutan,
bahkan dia kehilangan suaranya, kami mengira dia mendadak mengalami kebisuan
saat itu. Dia tidak bisa mendengar suara yang keras, bahkan selama itu dia
tidak bisa masuk ke dalam mobil, setiap kami mencoba membawanya masuk ke dalam
mobil, dia akan memberontak dan menangis tapi tanpa mengeluarkan suara
sedikitpun. Dia sangat ketakutan Ketika melihat mobil” Reza Kembali menitikkan
air matanya mengenang masa kelam itu.
Aldy terkejut, terharu, teriris hatinya kala
mendengar traumatis yang di alami Ginara setelah kematian mamaya, ia tidak
mengira seberat itu penderitaan batin Ginara yang sudah di alaminya sejak
kecil.
“Ketika calon adiknya juga mengalami hal yang sama,
kepercayaan dirinya langsung hilang. Perselisihan dengan nenek dan tantenya
dari mamanya semakin menambah ia terpuruk ke dalam dunia gelap dan
kesendiriannya dan ia membentengi diri dengan tulisan di kaca cermin kamarnya
‘aku pembawa sial, tak pantas bahagia’. Aku baru tahu fakta terbaru saat Ayah
mertuaku menceritakan semua percakapan dan hujatan nenek dan tantenya, saat itu
aku hanya bisa meredam amarah, karena ucapan mereka yang membuat putriku
menjadi gadis yang benar-benar tidak mau mengenal siapapun di sekitarnya karena
ia takut orang yang dekat dengannya akan celaka.” Sambung Reza, kini
sesenggukan yang ia dengar. Seorang ayah tidak akan membiarkan putrinya
mengalami traumatis yang parah.
Aldy baru menyadari kenapa Ginara enggan untuk
menemui keluarga Akung saat bertemu di Warung Pedes dulu, perasaanya Kembali
teriris mendengar cerita Reza. Ia hanya menganggap sikap cuek, dingin, angkuh
yang diperlihatkan Ginara hanya sebagai bagian dari kepribadian gadis itu.
Ternyata di balik itu ada trauma yang mendalam. Ia sudah bertekad dan berjanji
__ADS_1
dalam hati, akan selalu menghadirkan dan membuat Ginara Bahagia selamanya.
“Putriku sangat cantik, sedari kecil dia adalah
kebanggaan kami” Kata Reza setelah mampu menguasai perasaannya Kembali. Sudah
tidak ada air mata di wajah yang masih terlihat awet muda itu.
“Aku ingin putriku Bahagia, tapi selalu ada saja
yang membuatnya merasa ia tak berhak Bahagia. Dia pernah menjalin hubungan
dengan seorang pemuda….”
“Kak Azril…” Potong Aldy, Reza menatap seksama
kepada Aldy kemudian tersenyum mengangguk.
“Kamu sudah tahu rupanya, apa putriku sudah
menceritakan semuanya?”
“Dia kakak kandungku, Om” Reza berjingkat kaget, ia
menegakkan tubuhnya menatap tak percaya pemuda di hadapannya. Kepalanya
menggeleng-geleng tak percaya.
“Kau putra Pak Reynand? Ma syaa Allah, dunia ini
sempit sekali”
“Setelah meninggalnya Kak Azril, Mommy shock sampai
hampir hilang kewarasan, kami membawanya berobat ke Inggris, sekalian mengurus
bisnis Daddy di sana. Mommy sangat mencintai kami berdua, tapi Aldy memilih
melanjutkan kuliah ke Inggris, jadi Kak Azril yang selalu berada di dekat
Mommy, hingga Mommy benar-benar sangat kehilangan…”
“Apa…Nara tahu?” Aldy mengangguk.
“Nara ketemu sama Mommy dan tanpa penjelasan dia
langsung pergi meninggalkan kami, dan Aldy mencarinya kemana-mana sampai menemukannya
di makam Kak Azril” Katanya sendu.
“Bu Yara tidak apa-apa?” Tanya Reza khawatir.
menghela nafas berat.
“Nara selalu menyalahkan dirinya atas kecelakaan
yang menimpa Azril, entah kenapa putriku itu selalu mengalami kejadian yang
sama, orang lain mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawanya. Itulah yang
menyebabkan putriku tidak mau berhubungan dengan siapapun, karena dia tidak ingin
hal itu akan terulang terus. Dia selalu men-cap dirinya pembawa sial, Om sudah
tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah persepsi itu, pendiriannya sangat
teguh.” Kata Reza Panjang lebar.
“Mommy tidak pernah menyalahkan siapapun Om, semua
itu adalah takdir Allah, bahkan sampai detik ini keinginan Mommy Cuma satu
ingin melihat Nara Bahagia. Ketika pertama kali Mommy pulang Kembali ke
Indonesia, sebenarnya beliau ingin bertemu Nara tapi belum ada kesempatan
sampai mereka bertemu secara tidak sengaja” Reza tersenyum lega. Dia bangkit
dari duduknya dan menghampiri Aldy yang ikut berdiri. Di peluknya pemuda itu
sambil menepuk-nepuk punggungnya.
“Aku menggantungkan harapan besar padamu nak,
sekali lagi orang tua ini berucap, buatlah Nara ku selalu tersenyum, sudah lama
aku menantikan senyum di wajah putriku.” Reza melepas pelukannya kemudian
menepuk Pundak Aldy.
“Jangan sekali-kali kamu membentaknya, jangan
pernah perlakukan ia dengan buruk apalagi sampai mengasarinya, bawa dia Kembali
menjadi gadis yang ceria seperti masa kecilnya dulu.”
“Aldy berjanji Om akan selalu melimpahkan
kebahagiaan kepada Nara, aku sangat mencintainya, dari awal bertemu, sekarang,
dan selamanya, in shaa allah aku akan selalu menjaganya Om” Reza terharu
__ADS_1
melihat kesungguhan pemuda di depannya, ia bisa mempercayai ketulusan dan
kesungguhan pemuda itu.
“Terimakasih, selalu aku pegang janjimu. Baiklah,
sebaiknya kamu pulang kan?” Kata Reza seraya menaikkan kedua alisnya. Aldy
tersenyum kikuk.
“Iya Om, terima kasih atas kepercayaan Om, Aldy
pamit dulu, tolong salamkan pada Tante Tiara” Reza mengangguk kemudian
mengantar pemuda itu keluar ruang kerja dan langsung membawanya ke pintu
keluar.
Benar-benar, sedikit saja ingin melihat Nara susah
banget, sudahlah yang penting restu papa Ginara sudah di dapat. Batinnya.
Ceklek.
Tiara yang duduk bersandar di pembaringan sambil
melihat wechat di hpnya menoleh ke arah pintu yang terbuka, tampak suaminya
masuk dengan tersenyum. Laki-laki itu mendekatinya dan mencium keningnya.
“Kok belum tidur honey?” Tanya Reza dengan
panggilan yang hanya Ketika ada mereka berdua di kamar.
“Hmm, iya masih menunggu kamu mas, ada yang ingin
aku bicarakan.” Reza mengangguk.
“Sebentar ya” Tiara mengangguk kemudian meletakkan
hpnya di nakas, ia menunggu Reza yang masih ke kamar mandi.
Reza keluar dari kamar mandi dengan wajah yang
segar, air di wajah dan Sebagian rambutnya masih sedikit menetes. Walaupun
sudah berumur tapi laki-laki itu di mata Tiara masih terlihat gagah dan tampan.
“Awas, air liurnya menetes tuh” Goda Reza tersenyum
sambil naik ke tempat tidur, di usapnya bibir Wanita yang sudah menemani
hidupnya selama hampir 24 tahun itu dengan senyum menggoda.
“Ih apa sih mas, sudah tua kali ya” Reza tertawa.
“Eh, tua-tua gini masih tampan kan? Buktinya
sayangku masih saja terpesona…”
“Hih, iya iya, sampai ingin aku kurung aja di dalam
rumah, biar tidak melirik yang lain”
“Lah, kok malah bahas yang aneh-aneh sih honey”
Reza memeluk istrinya gemas, di gesernya tubuh itu mendekatinya dan di peluknya
dengan erat.
“Makin sayang deh” Di kecupnya bibir istrinya yang
cemberut, “Mau bicara apa nih?” Dipandangnya istrinya dengan sayang.
“Emm, itu aku ingin mengenalkan Gi sama putra
temenku, menurut mas gimana?” Tanya Tiara pelan. Reza terdiam, ia tersenyum
lembut ke arah istrinya.
“Gak perlu” Jawabnya membuat Tiara merasa bersalah
karena ingin mencampuri kehidupan Ginara.
“Aku salah ya, maaf ya mas, aku nggak bermaksud…”
“Gak perlu repot-repot mengenalkan putri kita, ada
yang siap menjaga putri kita.” Potong Reza membuat Tiara terbangun seketika.
“Eh, siapa mas? Kok aku nggak tahu?” Reza Kembali
tersenyum, ia menarik istrinya untuk tidur di sebelahnya lagi.
“Sudah besok aja, kejutan untuk istriku tersayang”
Reza menyudahi pembicaraan dengan menaikkan selimut kemudian mulai menciumi
istrinya sampai akhirnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
To Be Continued
__ADS_1