
Assalamu'alaikum
Selamat siang readers
Semakin mendekati akhir episode ya readers
Jadi terus dukung aku yaaa dengan like, komen, vote, favorit..hehe..
Selamat membaca readers...
Davin membawa Mahira masuk kamar setelah bercanda
sebentar dengan abang dan kakaknya. Dia membimbing istrinya menuju ke
pembaringan, mereka duduk berhadapan di pinggir ranjang. Mahira masih dengan
setia mengenakan niqobnya, karena baginya di malam ini, suaminya lah yang
berhak membuka niqobnya untuk pertama kalinya. Senyum manis dan tulus terbit di
bibir gadis itu, walaupun Davin tidak melihatnya, namun pemuda itu tahu kalau
istrinya sedang tersenyum, terlihat dari matanya yang menyipit manis.
“Bolehkah?” Tanya Davin, pertanyaan ambigu bagi
yang mendengarnya, tapi bagi seorang istri permintaan suami adalah yang utama,
karena istri akan patuh kepada suaminya. Gadis itu mengangguk.
Tangan Davin bergerak ke arah wajah istrinya, ia
bermaksud membuka niqob istrinya itu untuk pertama kalinya di depan wajahnya.
Ia tidak menyesal sedikitpun menikahi Mahira, bagaimanapun rupa gadis itu
nantinya. Baginya, penampilan pertama dan sikapnya itulah yang menarik
perhatiannya.
Perlahan Davin membuka niqob itu, ini pertama
kalinya Mahira akan melepas niqobnya dan pertama kali pula bagi Davin melihat
wajah Mahira yng indah baginya.dan …..waktu seakan membeku, hati Davin
berdentam tak karuan. Ketika niqab itu telah lepas dari wajah Mahira, tampaklah
kulit yang mulus, hidung kecil yang mancung, wajah yang simetris dengan ukuran
mata Mahira yang juga pas dengan dengan alis yang melingkar seperti pohon
willow.
“Ma syaa Allah…” Ucap Davin takjub memandang
istrinya. Baginya, gadis di depannya ini bukan hanya cantik, tapi ia memiliki
pesona yang luar biasa yang bisa memikat siapa saja yang menatapnya. Tidak
salah jika ia menutupnya dengan niqab untuk menghindari fitnah.
Davin membelai wajah istrinya dengan lembut penuh
perasaan, ia bersyukur ia segera melamar gadis ini, bukannya ia takut menyesal,
tapi karena ini adalah takdir dan hadiah dari Allah untuk dirinya, seorang
laki-laki yang belum bisa dikatakan sempurna menjadi laki-laki yang bertanggung
jawab.
Mahira tersenyum menatap suaminya, mata Davin
mengarah ke bibir yang ranum dan tipis itu, di dekatkannya wajahnya dan
__ADS_1
sentuhan bibir gadis itu benar-benar lembut. Rona merah di pipi Mahira terjejak
sangat jelas, karena saat ini ia sedang sangat malu, yang membuat ia semakin
menggemaskan di mata Davin. Tak hanya itu, dagu Mahira yang bak lebah
menggantung semakin indah dan sedap dipandang mata. Davin tidak pernah bertemu
gadis secantik Mahira sebelumnya, “Ini terlihat seperti gadis yang baru saja
keluar dari dalam lukisan indah, layaknya Monalisa yang dipuja seluruh negara
di dunia” Pikirnya takjub.
“Ini benar-benar istriku bukan, aku sedang tidak
bermimpi kan?” Tanyanya masih dalam mode tidak percaya. Reflek Mahira mencubit
pinggang Davin agak kuat, membuat Davin menjerit tertahan seraya mengelus
pinggangnya.
“Sakit kan?” Tanya Mahira lembut membuat Davin
mengangguk kemudian tersenyum.
“Terima kasih telah bersedia menerimaku yang masih
memiliki segala kekurangan ini, ku mohon kamu bersedia menuntunku agar menjadi
pria yang lebih baik lagi” Ucap Davin. Mahira tersenyum.
“Aku yang harus berterima kasih Bi, dan kamulah
yang harus membimbingku menjadi istri yang baik…aku serahkan semuanya kepada
dirimu” Jawab Mahira pelan.
“Aku mencintaimu, tanpa awal, tanpa akhir, aku akan
“Apa Abi sudah benar-benar yakin memilihku, Abi
belum mengenalku dengan baik, aku takut kalau ada kekurangan yang aku miliki
ternyata tidak berkenan di hati Abi” Kata Mahira menundukkan kepala. Davin
menaikkan dagu istrinya lembut.
“Tetaplah bersamaku hingga aku benar-benar mampu
untuk berdiri, dan berjalanlah di sampingku agar kau melihatku bangkit
karenamu. Aku mencintaimu karena Allah, sehingga kelebihan dan kekuranganmu
akan menjadi semangat untukku berjalan di sisimu.” Jelas Davin lembut. Ia
sendiri heran, dari mana kata-kata bijak dan indah itu muncul, tapi ia
mengatakan semua itu jujur dari dalam hatinya. Mahira menitikkan air mata
bahagia, ia bersyukur pilihannya untuk menerima Davin sebagai suaminya benar
adanya, seorang pemuda yang tidak pernah mengenalnya bahkan selalu mendapat
penolakan darinya, hingga ia menyatakan ingin menikahinya. Itu sudah cukup
baginya untuk meyakini bahwa niat Davin tulus dan jujur.
Ketika tiba saatnya bagi jiwa untuk bertemu
walaupun tidak ada saling mengenal dan terikat apapun, maka tidak ada apapun di
bumi ini yang dapat mencegah kehendak Allah Yang Maha Kuasa untuk mempertemukan
mereka. Ketika dua hati ditakdirkan untuk satu sama lain, maka tidak ada jarak
__ADS_1
yang terlalu jauh, tidak ada waktu yang terlalu panjang, dan tidak ada cinta
lain yang dapat memisahkan mereka. Ya, campur tangan Allah sangat kuat bagi
pertemuan mereka. Cinta memang tidak pernah salah, dua hati telah bersatu maka
masing-masing hati itu akan saling menjaga, mengisi, melindungi, dan
membahagiakan pasangannya masing-masing.
“Apakah aku sudah boleh meminta hakku?” Ucap Davin
seraya mengelus wajah anggun di depannya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk,
membuat mata Davin langsung membelalak senang.
“Ayo kita membersihkan diri dulu, gaunmu juga harus
di lepas bukan? Pasti gerah rasanya dari tadi…” Kata Davin seraya mengerlingkan
matanya. Mahira hanya tersenyum tersipu. Ia membiarkan Davin melepas satu
persatu hijab yang membungkus kepalanya, sampai nampak rambut yang tergelung
sempurna yang langsung di tarik oleh Davin, sehingga terlihatlah rambut hitam
legam yang tergerai indah sampai punggung gadis itu. Mahira terdiam masih
dengan perasaan malu dipandang begitu intens oleh suaminya, ia diam terpaku.
“Kenapa? Mau aku bukakan juga gaunnya?” Goda Davin
melihat istrinya masih duduk diam. Gadis itu mendongak terkejut.
“Eh…?” Davin tertawa senang bisa mengerjai istrinya
yang dalam mode malu. Ia menarik kedua tangan Mahira untuk berdiri dan
membalikkan tubuhnya, di bukanya resleting gaun istrinya sampai batas pinggang,
kemudian seraya reflek pemuda itu mengelus sedikit punggung yang nampak terbuka
itu. Namun, ia segera sadar ketika merasakan tubuh Mahira yang bergetar. Ia
kembali membalikkan tubuh istrinya menghadap ke arahnya kemudian tersenyum. Di
kecupnya perlahan kening, hidung, kedua pipi, dan terakhir bibir Mahira cukup
lama. Gadis itu hanya terpejam dengan tangannya yang meremas lengan Davin.
“Mandilah terlebih dahulu, aku akan membersihkan
diri di kamar mandi luar, hmmm” Mahira mengangguk tersenyum. Ia benar-benar
menjadi gadis beruntung yang mendapatkan cinta laki-laki setia dan lembut
seperti Davin, ia serasa melayang setiap menit mendapatkan perlakuan romantis
pemuda itu.
Dan……kegiatan malam pertama bagi pengantin baru
terjadi dengan semestinya, yang layak dilakukan oleh sepasang pengantin di
manapun berada. Kegiatan yang memang telah di halalkan bagi dua insan laki-laki
dan perempuan yang telah diikat dalam sebuah perjanjian berupa pernikahan.
Xixixixi, maaaapppp sekali lagi, masih juga belum
bisa menuliskan adegan horror itu….hehehehe….cukup sekian ya ekstra part
Davin-Mahira….tinggal ekstra part untuk pasangan pengantin utama kita…..di
tunggu yaaaa…….
__ADS_1
To Bo Continued