
Assalamu'alaikum
Selamat pagi....Novelku dah tamat ya readers,
tapi nih tak kasih bonus chapter hehe
met baca ya readers...
Dukung aku selalu dengan like, vote, koment, favorit...uh....bakal seneng deh....
Jantung Dina kini berdebar ketika memasuki dalam
kamar hotel yang khusus di sediakan oleh pihak keluarga Mahendra. Saat ini ia
baru menyadari kalau ruangan itu di penuhi oleh aroma bunga mawar dan melati
segar yang menghiasi di penjuru ruangan. Bahkan ia baru sadar ternyata ribuan
kelopak mawar merah juga tersebar di atas tempat tidur.
“Kenapa? Tanya suara berat dan serak di
belakangnya. Laki-laki itu memeluknya dari belakang. Aroma tubuh Dina menyeruak
di penciumannya membuat ia memejamkan matanya. Ternyata begini rasanya
berdekatan dengar seorang gadis dan merasakan langsung aroma tubuhnya. Sungguh,
ini akan membuatnya candu dan betah lama-lama di samping istrinya itu.
“Ah…tidak Bang” Gugup Dina mendapat pelukan dari
belakang itu, tubuhnya mendadak kaku dan darahnya langsung berdesir hebat.
Jangan tanyakan bagaimana jantungnya. Iramanya jelas bersaut-sautan dengan
detak yang ia rasakan menempel di punggungnya. Ya, jantung Genta juga berdetak
lebih cepat dari biasanya.
“Aku hanya takjub melihat hiasan kamar kita…”
Ucapnya lirih.
“Kau suka?” Tanya laki-laki itu berbisik langsung
di telinga Dina membuat tubuh wanita itu berdesir hebat.
“Emm, i..iya aku sangat suka, ah lebih baik Abang
mandi dulu gih…” Elak Dina seraya berusaha melepas tangan Genta dari
pinggangnya. Laki-laki itu cemberut menyaksikan tangannya memeluk udara. Tapi
akhirnya ia menurut juga melangkah ke kamar mandi, menyisakan istrinya di depan
cermin rias untuk melepas semua atribut pernikahannya yang dikenakannya tadi.
Genta keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan
sehelai handuk yang melilit di pinggangnya, dan alangkah sialnya bagi Dina yang
matanya langsung menghadap langsung ke pintu kamar mandi. Matanya langsung
takjub mengamati postur gagah di hadapannya dengan sobekan roti sempurna yang
membuat mulutnya menganga. Genta tersenyum menyeringai melihat ekspresi
istrinya, ide jahil langsung muncul di otaknya. Pelan, langkahnya mendekat
tanpa suara, ia benar-benar menggeleng tak percaya. Bahkan ia bergerakpun Dina
__ADS_1
masih tak berubah dari ekspresinya.
Genta meraih kedua tangan Dina dan langsung di
taruhnya telapak tangan itu di dadanya, saat itulah gadis itu baru tersadar
kalau suaminya sudah berdiri di hadapannya dengan senyum misterius.
Blush
“Duh…mau
ditaruh mana nih mukaku. Malu banget kan.” Ingin rasanya saat ini ia
menenggelamkan diri di kolam terdasar yang ia tidak bisa melihat Genta.
“Nih, puasin sentuhnya, jangan diliatin aja…” Goda
Genta mengerling. Sudah tidak tahu lagi bagaimana warna wajah Dina, pasti merah
semerah-merahnya. Gadis itu menarik tangannya tapi ditahan erat oleh tangan
besar itu.
“Eh…bang, aku mau ke kamar mandi dulu ya” Dina
memandang panik ke arah lain.
“Ini gratis lho…kamu gak suka ya” Tanya Genta
pura-pura sedih. Dina langsung menggeleng.
“Eh, bukan begitu…aku…” Genta langsung tersenyum,
kemudian menarik istrinya untuk menuju ke kamar mandi.
“Mau dimandiin gak?” Tanyanya dengan suara seksi.
“Tidak-tidak, abang tunggu di tempat tidur aja…”
Dina langsung masuk dan segera menutup pintu kamar mandi. Ia menyesal telah
mengatakan kalimat terakhir tadi, seakan ia yang tidak sabar menanti malam
pertama. Duh…gadis itu menutup wajahnya malu. Sementara Genta tertawa terbahak
di kamar. Sungguh, suka sekali menjahili istrinya sekarang.
Dina keluar malu-malu dengan menggunakan handuk
kimono, ia lupa bahwa mereka masuk ke hotel tanpa membawa apa-apa apalagi baju
ganti, hingga ia memanfaatkan handuk kimono yang memang sudah di sediakan di
kamar mandi. Genta sudah naik ke tempat tidur dengan selimut menutupi sampai
pinggangnya, sementara dadanya masih tetap telanjang.
“Kok nggak pakai baju sih Bang, dingin kali” Kata
Dina mengingatkan, ia mengeringkan rambutnya terlebih dahulu dengan hair dryer.
“Emang kita bawa baju ganti?” Tanya Genta seraya
menaikkan kedua alisnya. Dina gelagapan sendiri dengan jawaban Genta.
“Kemarilah…” Lambainya kemudian menepuk ranjang
disebelahnya. Gadis itu meletakkan handuk di punggung kursi rias dan berlalu ke
tempat tidur dengan malu-malu. Kini, ia harus mulai terbiasa bahwa di kamar ia
__ADS_1
tidak akan sendirian lagi, tapi ada sosok suaminya yang akan selalu menemaninya
setiap malam, ah…salah…setiap harinya.
Genta merentangkan lengan kirinya, menempatkannya
persis di bantal sebelahnya untuk memberi kepala Dina bersinggah di atasnya.
Gadis itu semakin tersipu.
“Hmmm…malam ini istriku kenapa berbeda ya?”
“Berbeda, apanya?”
“Jadi lebih pendiam dan pemalu” Goda Genta seraya
mengelus pipinya sayang.
“Jadi selama ini aku cerewet gitu?” Cerca Dina
judes.
“Ish…sensi amat sih…aku gak bilang gitu kok, tapi…”
Genta menjeda kalimatnya membuat gadis itu mendongak menatap suaminya. Sekilas
laki-laki itu mengecup bibirnya singkat.
“Kamu cantik….” Bisiknya di telinga Dina.
Blush
Dina langsung menyembunyikan wajahnya di dada
bidang Genta, malu.
Genta menaikkan dagu Dina menghadap wajahnya, di
telusurinya wajah istrinya, sebentar kemudian ia menunduk untuk mencium lembut
bibir ranum itu, semakin lama semakin tak terkendali. Keduanya berusaha menarik
nafas sebanyak-banyaknya kemudian sama tersenyum.
“Bolehkah?” Tanya Genta lembut, Dina mengangguk
pasrah. Dengan di ikrarkan ikatan suci antara mereka, maka secara otomatis,
hati, jiwa raga, dan tubuhnya milik suaminya, jadi ia tentu tidak harus menolak
kan.
Genta tersenyum kemudian secara perlahan dengan
kelembutan seorang suami ia kembali mencium istrinya, bukan hanya bibirnya tapi
ia mulai merambah ke arah lainnya yang membuat suara aneh dari mulut Dina
secara otomatis keluar.
Dan …malam itu menjadi malam yang sangat panjang
bagi Genta dan Dina menikmati malam pertama mereka.
Ternyata Author masih tetap ndak bisa buka rahasia
perusahaan…xixixi.
Maafkan Author yang minim ekspresi masalah begituan…
Love love love....
__ADS_1