
Sudah 2 hari sejak kejadian di mall. Aku rasanya ingin bertanya pada ibu tapi aku ragu. Aku tidak yakin itu benar-benar ibu atau bukan. Lagi pula sikapnya ibu biasa saja tidak menunjukkan kecurigaan yang lain. Aku hanya berharap bahwa aku salah lihat. Tapi kelak jika ibu keluar aku pasti akan mengikutinya.
Sekarang aku berada di kampusku rasanya sungguh berbeda. Aku agak sedikit canggung meskipun sasya selalu ada untuk ku. Tapi tetap saja aku masih butuh penyesuaian lagi. Rasanya aku seperti mahasiswa baru. Untungnya otakku bisa berpikir lancar saat proses perkuliahan kalau tidak itu akan membuatku kesulitan.
Aku pikir semuanya sudah baik-baik saja nyatanya jika aku sedang sendiri selalu saja ada bayangan lyra. Tak jarang aku menangis mengingat adikku itu dan entah kenapa setiap hal itu terjadi ray selalu menelpon ku. Seolah-olah dia tahu aku sedang bersedih.
Sejujurnya aku tidak bisa menghilangkan perasaanku pada ray sekuat apapun aku berusaha. Aku mencoba menerima kenyataan bahwa kelak apapun yang terjadi biarlah takdir yang menentukan. Kalian tahu ray adalah cinta pertamaku. Pria pertama yang membuatku jatuh cinta. Pria yang pesonanya melebihi pria lain yang mampu membuatku selalu merindukannya.
Akhir-akhir ini kami juga sering bertemu. Dia kadang mengajakku ke taman atau ke pasar malam. Ya itu untuk menghibur ku. Dia memperlakukanku seperti anak kecil yang bersedih karna di tinggal ibunya. Lucu bukan tapi aku sangat menikmatinya heheheh. Hal itu membuatku semakin cinta padanya.
Hari ini aku pulang kuliah lebih lambat dari biasanya bukan karna jadwal kuliah yang panjang hanya aku terlalu asik bercerita dengan sasya sampai aku lupa waktu. Sesampainya aku di rumah aku hanya melihat ina. Dia bilang ibu dan ayah ada urusan di luar. Aku pun segera mandi dan siap-siap makan malam. Rasanya perutku ini meronta minta diisi.
Aku makan dengan lahap begitupun dengan ina. Ya hanya kami berdua yang makan malam ayah dan ibu masih belum pulang. Harus ku akui masakan ina sangat nikmat sekali. Andai dia punya banyak uang ia pasti akan membantu ina kuliah. Ina sempat bercerita bahwa ia ingin menjadi seorang chef tapi itu semua terkendala di biaya. Tapi aku percaya bahwa suatu saat ina akan bisa jadi chef terkenal tanpa harus kuliah.
__ADS_1
Selesai makan aku membantu ina membereskan meja makan dan membantunya juga cuci piring. Setelah itu kami kembali ke kamar masing-masing. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, ibu dan ayah belum juga pulang. Kemana mereka sebenarnya? tidak biasanya mereka keluar berdua apalagi sampai malam begini.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.
"kak ini aku ina apa aku boleh masuk?", katanya.
" oh ina ayo masuklah tidak perlu sungkan",kataku.
Ina pun masuk dan duduk di samping tempat tidurku.
Ku ambil kertas di tangannya dan betapa terkejutnya aku. Ini tulisan tangan lyra sebelum dia menghilang.
" Ina dimana kamu mendapatkan ini?",kataku.
__ADS_1
"aku tidak sengaja membaca novelnya kak dan aku menemukan surat ini,aku pikir ini bisa jadi petunjuk untuk menemukannya", katanya.
Aku membenarkan ucapannya dan berterima kasih padanya. Aku memeluknya dan menangis semoga saja ini bisa jadi petunjuk keberadaan lyra. Di kertas itu jelas tertulis alamat wanita yang sering di temui ayah.
Besok aku akan menemui wanita di alamat ini bagaimana pun caranya. Akupun menghubungi ray dan kak stella dan kami sepakat akan kesana bersama-sama besok. Tuhan lancarkanlah semuanya besok.
.
.
.
.
__ADS_1
.
akankah mereka berhasil kali ini?