Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Episode 31


__ADS_3

Sandi memasuki lobby hotel dengan langkah lesu. Manager hotel menyampaikan ada tamu sedang menunggu dikamar Dimas. Dimas langsung mengambil ponselnya dari saku jas, menghubungi sekertaris Rudi.


Pada Rudi, Sandi tanya kapan ayahnya datang. Ia mengira orang yang sedang menunggunya saat ini adalah presdir Ahmad, ayahnya. Rudi memberitahu presdir Ahmad ada di rumah, ia baru saja pulang dari rumah Sandi.


Sandi menutup telponnya, bertanya pada manager hotel, "Siapa tamuku?".


"Dia adalah adik Anda" jawab manager hotel.


Sandi marah, "Dan kau membiarkan siapa pun masuk ke kamarku? Bagaimana caramu menjalankan hotel? Membiarkan orang lain masuk tanpa ijin dari pemilik kamar".


"Presdir Ahmad secara pribadi menelpon kami", jawab manager hotel.


"Ayahku menelepon untuk memberitahumu membuka kamarku?", tanya Sandi tak percaya.


Manager Hotel membenarkan. Sandi semakin marah, tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berbalik arah meninggalkan hotel.


Di dalam kamar Dimas menunggu kedatangan Sandi dengan sabar. Menunggu dan terus menunggu, meski rasa lelah menderanya. Dan tahu dengan pasti kakak yang ia sukai itu tak akan mau bertemu dengannya.


Nyonya Sari menemani Dimas makan malam, ia bertanya dari mana saja Dimas dan siapa yang dia temui, "Mengapa kamu melewatkan makan malam? Lihat, jam berapa sekarang".


"Enak, Ibu yang membuat semua makanan ini?", tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.


Nyonya Sari bilang ia yang memesan agar semua makanan ini dimasak. Dimas sedikit tidak suka, tapi tetap bersiakp biasan dan tanya bagaimana ibunya bisa memesan makanan yang enak.


Nyonya Sari malah senang, "Aku akan meminta bantuan mereka setiap hari".


Astuti masuk ke ruang makan, mengantarkan hidangan yang lainya lalu kembali ke dapur. Dimas tanya, "Apakah gadis yang tinggal di sini putrinya?".


"Dewi?Ya, aku kasihan padanya..Itu sebabnya aku baik padanya" jawab Nyonya Sari.


"Berapa lama Dewi tinggal disini" tanya Dimas.


"Ibu Dewi sudah bekerja di rumah ini selama 3 tahun, tapi putrinya belum lama pindah ke sini. "Untungnya, dia bisa berbicara dengan baik".


Nyonya Sari melihat gelas wine-nya yang hampir kosong, "Aku ingin tahu apakah dia sudah ada di rumah, Dewi!" panggil Nyonya Sari.


"Ya" jawab Dewi dari dalam dapur.


"Aku ingin minta anggur lagi" seru Nyonya Sari lalu berdiri. "Dimana kau? Kesini?".


Dimas yang panik mendengar suara Dewi segera mencari tempat sembunyi. Ia belum siap bertemu Dewi. Ia sempat melongok ke bawah kolong meja.


Dari kaca, Dimas melihat sosok Dewi jalan menuju ruang makan.


Dewi sampai diruang makan, "Ya, Anda memanggil saya?".


Nyonya Sari menyuruh Dewi pergi ke penyimpanan wine ruang bawah tanah, lalu berbalik menengok Dimas.


Tapi Dimas tidak ada di tempatnya, kursinya kosong, Kemana dia pergi?" gumam Nyonya Sari bingung.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Dewi .


"Sudahlah", ucap Nyonya Sari. "Bawakan aku sebotol anggur dari ruang bawah tanah. Anggur apapun".


"Baik" jawab Dewi bergegas pergi.


Dewi pergi ke penyimpanan bawah tanah. Lampu taman tidak menyala sehingga ia harus menggunakan santer dari ponselnya sebagai penerang jalan.


Beberapa menit kemudian, Dewi keluar dari ruangan penyimpanan membawa sebotol wine pesanan Nyonya Sari. Tiba-tiba satu persatu lampu taman otomatis menyala, begitu pula dengan air mancur di belakangnya. Air mancur itu mengeluarkan cahaya warna biru, terlihat indah di malam hari.


Dewi berhenti sebentar memandangi lampu dan air mancur, sedikit heran. Lalu kembali melangkah masuk ke dalam rumah, tanpa menyadari ada Dimas yang memandangnya dari jauh.


***


Di lain sisi Rudi yang dilanda galau memilih minum sendirian di bar langganannya. Ia teringat pengakuan Veni yang mengatakan hatinya masih berdebar-debar setiap kali mereka bertemu.


"Satu lagi" ucap Rudi pada bartender minta tambahan minum.


"Dua lagi" seru Sandi yang baru tiba duduk di samping Rudi. "Aku akan duduk disini, anggap saja ini sebagai kerja lembur".


"Pasti Dimas yang menunggumu di hotel", tebak Rudi tepat sasaran.


Sandi tahu kalau Rudi dekat dengan Dimas, "Ketika Dimas tumbuh dewasa dan mengambil alih perusahaan, kamu akan bekerja pada dia, kan?".


"Ketika Tan tumbuh dewasa, Apakah kau akan membiarkan dia melakukan itu?" tanya Rudi balik.


Ferdian dan Veni tiba di bar yang sama, Rudi yang tak sengaja menatap kearah pintu melihat kedatangan mereka. Ia dan Veni sama-sama terkejut dan saling melampar pandang.


"Presdir Sandi" panggil Ferdian.


Sandi bisa mengenali siapa yang memanggilnya, sedikit menarik napas merasa terganggu. Sandi lalu berdiri memasang wajah biasa dan bersalaman dengan Ferdian.


"Aku sudah menelpon Sandi berkali-kali" ujar Ferdian.


Ferdian beralasan perjalanan bisnisnya di Taiwan lebih lama dari yang ia perkirakan.


Ferdian ingin Sandi tinggal di hotelnya selama berada di Taiwan, tapi Sandi malah menolaknya.


Sandi berdalih perkebunan almond terletak di dekat pedesaan, jaraknya jauh dari hotel milik Ferdian.


Saat Sandi dan Ferdian bicara, Rudi dan Veni saling menatap satu sama lain.


Sandi menyapa Veni dan bilang ia bertemu dengan Kimi di Taiwan.


"Aku sudah mendengar itu dari Kimi" jelas Veni.


"Bagaimana dengan kabar keluarga, baik-baik saja kan?".


"Ya. Terima kasih" jawab Sandi.

__ADS_1


"Siapa orang yang bersamamu saat ini?" tanya Ferdian pada Sandi.


Sandi lalu mengenalkan Rudi sebagai sekertaris Ahmad Group. Senyum di wajah Ferdian langsung lenyap, dia mengetahui hubungan yang terjalin antara Rudi dan Veni di masa lalu.


"Senang bertemu dengan Anda.. Namaku Rudi", ucap Rudi mengenalkan diri pada Ferdian.


Ferdian tidak menanggapi Rudi, ia mengajak Sandi minum bersama.Veni dan Rudi saling lirik, wajah keduanya tegang.


Keempatnya lalu minum bersama. Ferdian membicarakan kejatuhan ekonomi di Eropa yang menyebabkan pasar di India tidak berjalan baik. Ia tanya pendapat Sandi, pasar mana saat ini yang menarik perhatian Sandi.


Disaat mereka asyik biara, baik Veni dan Rudi tak henti-hentinya saling menatap satu sama lain, terlihat jelas cinta di mata mereka.


"Aku tertarik dengan pasar di Sahara, Afrika" jelas Sandi.


Tapi sekertaris Rudi menentang gagasan itu. Rudi memberi alasan resikonya terlalu tinggi, "Seperti negara-negara BRIC ( Brasil, Rusia , India , Cina ) , aku khawatir pasar di Afrika juga tidak stabil, dan volatilitasnya...".


Ferdian memotong, "'Tidak bisa!Terlalu berisiko!' Itulah yang selalu karyawan katakan. Mereka tidak memiliki keberanian, mereka tidak berani mengambil risiko. Tak satu pun dari mereka memiliki sikap positif".


Sandi tidak suka mendengar perkataan Ferdian yang menghina Rudi. Veni juga kaget.


Rudi diam sebentar, melirik vent, dengan sikap tenang Rudi membalas perkataan Ferdian, "'Tidak bisa dan Itu terlalu berisiko! Mengatakan itu adalah sikap yang berani dan berisiko bagi karyawan".


Lalu Ferdian melihat Rudi dengan pandangan tidak suka. Rudi hanya tersenyum tipis, "Permisi sebentar. Anakku sedang menunggu teleponku" Rudi berdiri dan pergi dari sana.


"Sekertaris Rudi.. Apa sebenarnya posisinya?" tanya Ferdian ke Sandi dengan gaya mengejek.


Veni juga permisi sebentar, memberi kesempatan Sandi dan Ferdian menyelesaikan pembicaraan mereka. Veni beralasan tidak suka menonton National Geographic. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Ferdian ingin tahu bagaimana Rudi bisa seberani itu.


Sandi berkomentar dingin, Sekertaris Sandi adalah orang yang bisa memancing kemarahannya, dan sering membuatnya marah, "Dia bahkan menyakitiku kadang-kadang..Dia bisa melakukan hal yang sama kepadamu".


"Kau bilang bahwa dia hanyalah seorang sekretaris. Bagaimana dia bisa melakukan dengan peringkat rendah seperti itu?" tanya Ferdian sinis.


"Aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya", jawab Sandi.


Rudi memang pergi untuk menelpon Steven, ia minta pada putranya berhenti ngomel, janji tidak akan pulang terlambat. Rudi menutup telponnya, saat berbalik ada Veni di belakangnya.


Veni meminta maaf atas sikap kasar Ferdian, "Seperti yang kau lihat, dia kasar. Maafkan aku".


"Aku juga" ucap Rudi.


"Untuk apa" tanya Veni tak mengerti.


Rudi hendak melangkah pergi, tiba-tiba ia mencium bibir Veni, memepetnya ke tembok. Veni tentu saja kaget menerima serangan tiba-tiba, tapi ia sama sekali tak menolak dan membalas ciuman Rudi.


Kedua orang dewasa ini jelas masih saling mencintai, hanya saja bagaimana jika ada orang yang melihat mereka. Bisa berabe..


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2