
Dah cukup 3 episode dulu yaaaaa
Dah capek ini...
“Baiklah nona…sesuai keinginan anda…” Sahut Aldy
yang mendapat balasan cubitan kecil di pinggangnya. Pemuda itu mulai melajukan
motor sportnya membelaj jalanan yang mulai memiliki pencahayaan minim. Karena
pemberlakuan jam malam bagi para pencari rezeki masih berlaku, walaupun sudah
mulai banyak kuliner malam yang mulai tidak mengindahkan peringatan tersebut.
Tangan kiri Aldy bergerak menangkup tangan Ginara
yang membelit di perutnya, sementara tangan kanan nya tetap stabil
mengendalikan laju motornya. Keduanya menikmati moment ini di iringi gejolak
perasaan yang dari tadi tidak karuan.
“Apa yang kau rasakan sekarang?” Ginara mengangkat
wajahnya, menatap wajah Aldy dari belakang, pria ini selalu saja sempurna
dilihat dari sudut manapun.
“Terimakasih, kau telah menghadirkan kebahagiaan
malam ini”
“Kalau begitu…aka nada hadiah spesial nih…”
“Hadiah? Kau masih butuh sesuatu untuk melengkapi
keberadaanmu? Apa juga yang harus kuberi…”
“Berikan dirimu padaku Nona Ginara Safiera
Mahendra”
Jlep!
Ginara langsung terdiam, perlahan ia kembali
menyandarkan kepalanya di punggung Aldy dengan wajah yang memerah.
“Kemaren aku ikut Davin men-taaruf seorang gadis…”
Lirihnya dengan suara yang sedikit gelisah. Pelukannya di tubuh Aldy semakin
kuat, ada perasaan yang kuat yang membuat jiwanya terasa begitu hangat.
“Davin taaruf? Apa kau ingin aku juga melamarmu ke
kedua orang tuamu begitu?” Tanya Aldy agak keras. Ginara diam, seperti ingin
mengetahui kelanjutan kalimat aldy.
“Aku akan pergi ke Inggris malam ini, jadi…jaga
dirimu baik-baik, jangan membuatku cemas. Pulang dari Inggris, aku akan membawa
orang tuaku melamar ke rumahmu”
Deg!
Ginara kembali mengangkat wajahnya, ia terkejut
mendengar ucapan Aldy. Jadi dia akan pergi malam ini? Makanya dia mengajakku
__ADS_1
keluar untuk menghiburku? Ada yang mencelos jauh di lubuk hatinya, rasanya
begitu berat.
“Apakah harus malam ini? Tidakkah bisa di tunda,
atau kau suruh Yudha mewakilimu?”
“Tidak bisa Sweety, ada urusan yang harus segera
ditangani, tidak bisa ditunda, aku akan cepat kembali, percayalah…” Ia sangat
tahu apa yang dikhawatirkan Ginara, perpisahan. Tangkupan tangannya di lengan
Ginara semakin kuat, di bawanya naik ke dadanya dan diciumnya sepanjang
perjalanan untuk menenangkan perasaan gadis di belakangnya. Keduanya terdiam
menyelami perasaan dan pikiran masing-masing, tidak ada pembicaraan lagi sampai
mereka tiba di sebuah pasar malam.
Ginara tak habis pikir, bagaimana bisa pria yang
piawai dalam berbisnis masih mau menginjakkan kakinya ke tempat yang sangat
merakyat seperti ini, tanpa risih atau canggung, malah tampak sangat
menikmatinya.
Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan
tangan, romantic sekali. Sesekali keduanya berhenti di stan yang menarik
perhatian.
“Belilah apa saja yang kau inginkan” Ucap Aldy
sambil menarik tubuh Ginara agar lebih merapat padanya, karena saai ini pasar
10 malam.
“Itu kelihatannya menarik Al…ayo kita ke sana, aku
ingin membelinya.” Ginara menarik tangan Aldy menuju stan yang menjual berbagai
aksesoris cantik dan unik hasil kerajian para seniman local.
“Silahkan Neng…mau beli yang mana?” Sang pedagang
menawarkan barangnya dengan ramah disertai senyuman.
Ginara memilih-milih barang yang menarik
perhatiaannya, termasuk benda couple yang bisa di pasangkan di hp dan ketika
berdekatan maka benda couple itu akan menyala. Lucu sekali…
Ginara kembali menunjuk barang-barang yang menarik
perhatiannnya dan meminta ibu penjual itu membungkusnya. Aldy tak henti
mengamati semua gerak gerik Ginara yang membuat matanya tak mampu berpaling dan
beralih perhatian pada yang lain. Baginya, melihat kebahagiaan dan senyum gadis
itu sudah sangat menyenangkan hatinya. Tiba-tiba hatinya semakin merasa berat
untuk meninggalkan gadis ini. Tapi, bagaimana lagi, tugas menantinya di negeri
sana. Kalaulah bisa di wakilkan, ia memilih tidak berangkat dan selalu menemani
__ADS_1
Ginara.
Setelah puas berkeliling dan mendapatkan banyak
barang, Aldy mengajak Ginara meninggalkan pasar malam, tidak lama dia sudah
melesatkan motornya menuju ke apartemen Ginara. Ya, gadis itu Kembali ke
apartemennya, karena jarak apartemen dan apotek sangat dekat, ia berjanji akan
sering menginap di rumah bersama papa dan bunda.
“Al…apa kepergianmu tidak bisa di tunda?” Ginara
menatap wajah Aldy saat turun dari atas motor. Keduanya saling pandang dengan
sorot mata yang sama-sama berat.
“Kenapa? Kau mau aku menemanimu tidur malam ini?
Seperti di Lumajang waktu itu?”
Blush!
Wajah Ginara langsung memerah bak tomat matang.
Ish…selalu saja ke arah sana pikirannya.
“Bukan begitu…aku hanya…hanya…”
Cup!
Aldy mendaratkan ciuman lembut di kening Ginara
yang langsung memejamkan matanya, hatinya kembali mencelos, melemas seketika.
“Aku akan pulang secepatnya, tunggulah sebentar…”
Aldy menatap wajah wanita cantik di hadapannya, hatinya pun tak rela untuk
berpisah lama, itu benar-benar menyiksanya, tapi ia bisa apa.
Ginara merogoh benda yang dibelinya tadi di dalam
tas ranselnya, kemudian meminta hp Aldy dan memasang bend aitu di hp Aldy.
Ginara juga melakukan hal yang sama pada hpnya. Sekejap kemudian dua benda yang
terpasang di hp mereka berkedip-kedip. Hal sederhana itu sudah membuat hati
keduanya bahagia.
“Hati-hati…jaga dirimu, semoga segala urusan
berjalan lancar, kau harus benar-benar kembali untukku” Lirih Ginara kemudian
meraih punggung tangan Aldy lalu menciumya saat pemuda itu sudah duduk kembali
di motornya. Keduanya kembali saling pandang, melukis wajah dalam benak
masing-masing.
“Aku janji, in shaa allah, jaga hati, jaga mata, I
love you sweety…” Ucap Aldy sambil mengacak rambut Ginara dan mengelus wajah
itu sebentar, setelah itu dia melesatkan motornya. Ginara hanya bisa memandang
kepergian Aldy dengan perasaan yang tiba-tiba hampa. Ia menghela nafas berat, “
I love you more kekasih tampanku” bisiknya, kemudian masuk ke dalam
__ADS_1
apartemennya.
To Be Continued