Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Lamaran Mendadak (1)


__ADS_3

Assalamu'alaikum


Balik lagi nihhh


Maaf kalau ada typo yah, namanya manusia biasa pastilah ada salah-salahnya...


Mana nih like dan lain-lainnya....


Tapi...met baca aja deh readers....


Semoga terhibur.....


Yara dan Reynand beserta keluarga besar Dhanurendra


sudah berencana berangkat ke rumah Ginara pagi ini. Sesuai pesan putranya,


Aldy, untuk melamarkan Ginara sebagai calon istrinya, segera setelah ia kembali


dari Inggris.


Flashback On


“Kau serius akan pergi? Tidak bisakah Yudha saja


yang menyelesaikannya?” Tanya Yara beruntun di tengah pembicaraan bersama putra


dan suaminya, di jam yang hampir melewti tengah malam, di mana putranya telah


bersiap-siap ke bandara.


Aldy menghela nafas, “kalau itu bisa, aku tidak


akan mengatakan ini Mom” balasnya, wajahnya tampak gusar, terlebih setelah


Yudha memberitahukan masalah yang terjadi pada perusahaannya membuat ia harus


benar-benar terbang ke Inggris malam ini.


“Aku tidak akan lama Mom, paling lama seminggu, aku


sudah bilang sama Nara.” Sambungnya.


Kini bergantian Yara yang menghela nafas, “kenapa


harus ada masalah sih di saat seperti ini?”


“Yang sabar saja sayang, aku yakin Aldy akan segera


menyelesaikannya” Terang Reynand sabar.


“Temui segera orang tua Nara Mom, bicarakan apa


yang sudah aku bicarakan pada Mom dan Dad” Pinta Aldy.


“Apa Nara setuju?


“Hmm..” Aldy mengangguk, “Kami sudah


membicarakannya tadi Mom dan diam au” Ucapnya sedikit lemah, ia Kembali menarik


nafas. Di raihnya kedua tangan wanita yang dicintainya itu.


“Tolong persiapkan pernikahanku Mom” Pintanya


memohon, “Yakinkan orang tua Nara untuk menyetujui hal ini” Sambungnya lemah


membuat hati kedua orang tuanya tidak tega.


“Aku pasti akan melakukan apapun untuk putraku”


Ucap Yara seraya memeluk putranya erat, air matanya menetes haru.


“Berangkatlah, jangan khawatirkan di sini, Mom dan


Daddy akan mengurus semuanya, Ketika kau Kembali semua sudah siap” Ucap Yara


meyakinkan putranya.


“Baiklah, aku berang Mom, Dad” Aldy memeluk dan


mencium kedua orang tuanya.


Flashback Off

__ADS_1


Keluarga Dhanurendra tiba di kediaman Mahendra


pukul 10.00 pagi, tepat pada saat orang tua Ginara sedang berkumpul bersama


kedua putranya, hanya tidak ada Ginara di antara mereka. Ya, ini hari minggu,


sesuai janji Ginara ketika hari libur ia akan pulang ke rumah, bersamaan dengan


Genta yang juga pulang ke rumah. Kenapa momennya tepat sekali ya…


“Mohon maafkan kami jika kedatangan kami mendadak Pak


Reza.” Kata Reynand mengawali pembicaraan.


“Ah…ya, tidak apa-apa, hanya maafkan juga karena


kami juga tidak ada persiapan apa-apa ini” Jawab Reza merasa tak enak.


“Itu tidak masalah pak, yang penting pesan kami


bisa tersampaikan” Jawab Reynand.


“Begini, kami bermaksud melamar putri Pak Reza,


Ginara untuk menjadi istri dari anak kami Aldy, maaf mendadak, soalnya ini


pesan Aldy sebelum berangkat ke Inggris…” Sambung Reynand.


Reza dan keluarga terkejut mendapat lamaran


mendadak tersebut.


“Ah, benarkah Pak Reynand? Wah, saya benar-benar


tidak menyangka ini…”


“Iya maafkan kami Pak Reza, Bu Tiara, tapi…apakah


Ginara ada di rumah? Mungkin ia juga harus tahu tentang hal ini…” Kata Yara.


“Ah, ya, maaf sekali, sampai lupa memanggilnya,


Dav…” Tiara memanggil Davin, pemuda itu langsung mengerti perintah bundanya.


Ceklek.


bangun…Kak..bangun napa, jam berapa ini” Davin menggoyang-goyang bahu Ginara.


Terlihat mulai ada gerakan dari gadis itu, ia membuka selimutnya dan menatap


Davin kesal.


“Eh, kenapa tuh mata? Nangis? Dih…” Ejek Davin


seraya tertawa. Ginara hanya mendengus seraya melempar adiknya dengan bantal.


Ia bermaksud melanjutkan tidurnya, karena rasanya malas sekali beraktifitas tapi


tanpa ada semangat.


“Eh, ni anak orang, di suruh bangun juga, hei, noh


di samperin camer tuh” Kata Davin lagi dengan gemas. Benar saja, gadis itu


langsung terduduk heran.


“Maksudnya?”


“Iya, tuh camer udah di ruang tamu, udah gih, cepet


mandi sono…” Kata Davin dengan menarik kedua tangan Ginara dari tempat tidur,


karena gadis itu masih saja linglung.


“Gak pake lama, bunda udah nunggu juga”


“Iya” Sahut Ginara dari dalam kamar mandi.


 Setelah selesai membersihkan diri Ginara bergegas


turun ke bawah dan menuju ke ruang tamu, benar saja, di sana ada beberapa orang


dari keluarga Aldy. Ia melangkah dengan malu ke arah Tiara.

__ADS_1


“Sini sayang” Panggil Tiara melihat Ginara, gadis


itu duduk di sebelah Tiara.


“Mom?” Sapa Ginara pelan. Wanita itu tersenyum


mengangguk.


“Sayang bagaimana kabarmu?” Tanya Yara.


“Baik Mom”


“Kau sudah tahu maksud mereka datang kemari?” Tanya


Reza. Ginara menatap ke orang tua Aldy memastikan. Yara mengangguk lagi.


“Aldy ingin setelah pulang dari Inggris ia akan


menikahimu, katanya sudah dibicarakan denganmu, apa benar?” Tanya Yara. Ginara


terdiam kemudian mengangguk pelan.


“Jadi kau setuju untuk menikah setelah Aldy pulang


dari Inggris?” Tanya Yara lagi dengan mata berbinar.


“Jika Papa dan Bunda juga setuju Mom” Ucapnya


pelan. Tiara menggenggam tangan Ginara yang mendingin.


“Papa sudah mengatakan setuju dan mengikuti saja


maumu, Bunda juga setuju” Kata Tiara tersenyum.


“Jangan khawatir tentang persiapan pernikahannya Bu


Tiara, kami akan menyelesaikannya dengan baik” Ucap Yara yakin. Reza dan Tiara


mengangguk.


“Bun…” Panggul Ginara pelan.


“Ya sayang, kenapa wajahmu kelihatan ragu?” Tanya


Tiara mengusap pipi Ginara.


“Abang…” Ginara menoleh ke Tiara kemudian beralih


menatap Genta. Laki-laki itu hanya tersenyum.


“Jangan khawatirkan abangmu, Bunda sudah punya


rencana untuk kalian semua” Kata Tiara misterius. Ginara menaikkan alisnya


demikian juga dengan Genta yang belum mengetahui rencana Tiara.


“Apa maksud Bunda?” Tanya Genda akhirnya. Tiara dan


Reza hanya tersenyum.


“Bunda bermaksud mengadakan pernikahan massal untuk


ketiga anak bunda, bagaimana menurut kalian?” Tiara memandang ketiga


putra-putrinya.


“Wah…kalau begitu sekalian konsepnya di atur


bersama saja Bu Tiara, ini akan sangat menakjubkan” Sela Yara bahagia. Kakak


beradik itu masih shock mendengar rencana bundanya.


“Gimana, kalian setuju kan, terutama Davin yang


tidak boleh bertemu calon istrinya sebelum menikah” Goda Reza menatap Davin.


Pemuda itu tersenyum malu.


“Ya sudahlah kami serahkan semuanya pada Papa dan


Bunda.” Kata Genta akhirnya.


“Alhamdulillah” Jawab serempak yang hadir di ruang

__ADS_1


tamu tersebut.


To Be Continued


__ADS_2