
Di Cerita sebelumnya Steven mengucapkan selamat datang, tampak ada kekhawatiran dan rasa berat di wajahnya. Bentuk kekhawatiran seorang sahabat, yang tak ingin melihat sahabatnya mengalami kesulitan.
Malam hari Dimas sedang berada di gudang wine, melihat satu persatu wine yang tersimpan disana. Bermacam-macam red wine dan red wine tertata rapi di sana. Dimas lalu membuka kotak penyimpanan barang-barang bekas. Ia tersenyum melihat satu persatu barang yang pernah ia gunakan.
Didalam kotak itu juga, Dimas menemukan buku pemberian Tias sewaktu mereka masih pacaran. Di lembar halaman pertama Tertulis Untuk merayakan 22 hari berkencan dari Kekasihmu Tias, Lengkap dengan tanda hari. Dimas tersenyum membolak-balik halaman buku.
Terdengar pintu terbuka, Dimas mendongak keatas melihat Dewi menuruni tangga sambil menatap ponselnya. Dimas pun panik buru-buru mencari tempat sembunyi. Dia sembunyi dibalik tembok.
Dewi sedang menelpon Steven, memberitahu bahwa ia telah mengirim uang tiket ke rekeningnya, setengah bercanda Dewi minta maaf tidak bisa memberikan bunga.
Dewi duduk di tembok dimana ada Dimas di sebelah tembok itu mendengarkan Dewi bicara.
Pengembalian uang itu bagi Dewi terdengar sebagai ucapan selamat tinggal pada Taiwan. Wajah Dewi berubah sendu mengingat pesan yang ia tinggalkan di mading Universitas, sekolah Dimas di Taiwan.
"Lagi? Bagaimana aku pergi ke sana lagi? Taiwan terlalu jauh dari kamar pelayan. Aku harus pergi.. Ya, aku akan menghubungimu nanti" Dewi mengakhiri pembicaraan nya dengan Steven.
Dewi melamun...
Sedangkan Dimas diam tanpa suara. Jarak mereka dekat tapi terpisah oleh tembok. Itulah pemisah diantara mereka, tembok kokoh yang sulit di runtuhkan.
Dewi keluar dari gudang Wine jalan melewati taman. Semua lampu taman menyala menerangi jalan. Dewi bergumam "Apa mereka tidak khawatir jika tagihan listrik mereka membengkak".
Ponsel Dewi menerima panggilan masuk, panggilan itu dari Dimas.
Dewi diam sejenak lalu menjawabnya, "Halo?".
"Halo.....?" jawab Dimas dengan suara di buat seram dan berat.
Dewi sedikit tersenyum, "Apakah ini kenapa kau menyimpan nomorku? Aku tidak takut sama sekali".
"Lihatlah ke lantai atas" ujar Dimas.
Dewi bingung, "Atas? Dimana?",
Dewi mendongak keatas, mencari apa yang dimaksud Dimas. Dan pandangannya jatuh terpaku menatap Kotak musik ungu yang terletak di meja samping jendela kamar Dimas.
"Berbaliklah" ucap Dimas lembut.
Dewi nurut berbalik, ada Dimas berdiri tepat di belakangnya membuat Dewi tercengang.
Pandangan Dimas lurus menatap dalam Dewi. Mereka berpadangan beberapa detik.
__ADS_1
Dimas jalan mendekati Dewi. Tentu Dewi syok dan tidak percaya, "Bagaimana bisa kau disini?".
"Pikirkan ini!" jawab Dimas.
Dewi sontak berbalik, melihat kembali Kotak musik yang terlihat di jendela. Itu benar-benar benda yang ia berikan pada Dimas sewaktu di Taiwan. Dewi lalu menarik napas, menguatkan dirinya.
"Apakah kau...Anak ke-2 dari keluarga ini?" tanya Dewi menyakinkan diri sendiri, sekaligus ingin mencari tahu apa benar dugaannya ini. (Disini dia baru tau orang yang di sukainya adalah anak konglomerat dan bahkan mustahil Untuk di gapainya).
"Hmm..." jawab Dimas dengan deheman, pelan nyaris tak terdengar. Seakan ia tak kuasa untuk mengucapkan kata "Ya".
"Kau putra ke dua pemilik perusahaan grup Ahmad?" tanya Dewi seakan belum yakin dengan mata berkaca kaca.
"Hmm.." jawab Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari Dewi.
Dewi syok, "Lalu... Saat kau melihatku di depan pintu gerbang. Apakah kau tahu bahwa aku tinggal di sini?".
"Hmm...".
Dewi menahan tangis, dengan terbata dan suaranya bergetar ia kembali bertanya, "Kau tahu bahwa aku tinggal di kamar pelayan di sini?".
"Hmm..." jawab Dimas mengangguk.
"Dewi Apakah aku...Apakah aku merindukanmu?", tanya Dimas tercekat.
Sebuah pertanyaan yang membuat Dewi berhenti untuk sesaat. Membuat 2 air mata bening mengalir turun membasahi pipinya. Dewi menarik napas panjang, menguatkan diri menahan tangis. Mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah.
Dimas memandang dari jauh, dengan mata sorot mata sedih sama seperti Dewi saat ini. Tak hanya Dewi yang terluka, Dimas juga terluka dan sedih melihat Dewi berada di rumahnya sebagai anak dari pelayan.
Di kamar, Dewi mencoba melupakan hal itu dengan belajar. Tapi air matanya terus turun membanjiri pipi. Tak kuasa lagi menahan, Dewi menangis tersedu tanpa suara.
Kenyataan Dimas melihat hidupnya yang menyedihkan, adalah hal yang lebih menyakitkan. Pria itu telah melihatnya dalam titik terendah, membuatnya semakin sadar siapa dirinya.
Dimas melamun dikamar, tak berniat melakukan apapun. Nyonya Sari masuk membuyarkan lamunannya. Dengan wajah cerah, Nyonya Sari membawa baju seragam Dimas. Ia berkata ayahnya ingin Dimas mulai masuk sekolah besok, "Lakukan dengan baik di sekolah.. Ambil alih semuanya".
"Dengan menjadi gangster" celetuk Dimas.
"Ambil alih dalam hal nilai pelajaran" jelas Nyonya Sari, "Putri pelayan itu mendapat peringkat ke-5 Dia akan pindah ke sekolahmu. Kau tidak akan membiarkannya mendapat nilai yang lebih baik dari kau, bukan?".
"Apa" tanya Dimas menyakinkan pendengarannya.
"Dewa!" ucap Nyonya Sari lagi-lagi salah menyebut nama Dewi. "Ayahmu melakukan pekerjaan amal lagi...Saat kau melihatnya di sekolah, berpura-pura bahwa kau tidak mengenalnya dia. Kau harus berteman dengan orang yang mempunyai tingkat yang sama".
__ADS_1
Mata Dimas melebar terkejut, "Dewi ditransfer ke SMA yang sama denganku?".
***
Hari pertama Dewi bersekolah di SMA Elit. Dewi datang kesekolah dengan mengenak pakaian casual, karena belum mampu membeli baju seragam yang mahal itu.
Dewi dibuat terbengong-bengong dengan pemandangan baru yang ia lihat disana. Para siswa diantar sekolah menggunakan mobil mewah lengkap dengan sopir. Dewi semakin dibuat bengong dan terkejut mendengar pembicaraan 3 siswa yang jalan di depannya.
Mereka membicarakan harga saham yang merosot akhir-akhir ini hingga membuatnya kehilangan 2 milyar. Seakan uang senilai itu tidak ada artinya.
Dewi seakan kehabisan napas mendengar uang 2 milyar itu. Ia menarik napas panjang, menguasai diri dari rasa terkejutnya.
Dewi masuk ke ruang loker, memandangi murid-murid yang bergaya trendy satu persatu. Diantara mereka ada yang bercakap-cakap menggunakan bahasa inggris. Apa yang mereka bahas, mobil keluaran terbaru dan peringkat kekayaan mereka.
Satu dari mereka menatap aneh pada Dewi yang tidak memakai baju seragam. pada temannya ia bertanya "Kenapa dia tidak memakai seragam kita? Apakah dia murid baru?".
"Siapa yang peduli" jawab yang lain.
Kimi berdiri di depan lokernya. Kaget melihat Dewi berdiri termanggu tak jauh darinya.
"Hei! Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengadakan tur?" tegur Tias lebih dulu dengan nada tidak bersahabat sama sekali, seperti biasa.
"Aku ditransfer ke sini" jawab Dewi.
"Apa? Ditransfer? Tidak mungkin, bagaimana bisa?", seru Tias tidak percaya.
Kimi mendekat, "Ditransfer? Atau kau di sini untuk mengembalikan name tag-ku? Apa pekerjaan keluargamu?".
"Bagaimana denganmu?" tanya Dewi balik tanpa gentar, membuat Kimi bungkam.
Vania datang, langsung menempel pada Tias, "Siapa dia?".
"Murid pindahan, Aku tidak bisa percaya" ucap Tias dengan rasa terkejutnya.
Aldi muncul, "Oh , seorang siswa baru?" ucapnya dengan nada riang.
"Murid pindahan? Aku benar-benar tidak bisa percaya" sahut Tias kehabisan kata-kata.
"Murid baru? Hi, aku murid terbaik di SMA ini, namaku Aldi Senang bertemu denganmu" Aldi mengulurkan tangannya mengajak salaman dilengkapi senyum hangatnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1