Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Menjemput Ginara (1)


__ADS_3

Assalamu'alaikum


Hai hai hai....hadir up lagi nih....


Met baca aja deh readers


Tok


Tok


Tok


Aldy keluar dari kamar mandi dengan hanya


menggunakan handuk yang melilit di pinggang Ketika mendengar bunyi ketukan di


kamarnya. Di bukanya pintu dan terlihat Wanita baya yang masih sangat cantik


berdiri di depan pintu kamarnya. Wanita itu tersenyum lembut.


“Mom…”


“Belum selesai ya”


“Ya Mom, penting banget Mom?” Tanya Aldy karena


melihat Hana sepertinya gelisah.


“Ah, ya..eh tidak, emm, mommy tunggu di bawah aja


ya”


Aldy mengangguk heran dengan kelakuan mommynya. Ia


kemudian menggelengkan kepala dan melangkah menuju ruang ganti. 10 menit


kemudian ia telah rapi dengan setelan kerja warna abu yang semakin menambah


kadar ketampanannya. Hari ini ia akan menjemput Ginara di rumah orang tuanya,


jadi harus berangkat lebih pagi. Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke rumah


orang tua Ginara, biasanya kalau ia menjemput ke apartemen paling membutuhkan


waktu 15-20 menit.


“Sayang, ini sarapan dulu ya” Hana menyodorkan roti


yang sudah di olesi mentega dan selai nanas kesukaannya. Aldy menerima dengan


tersenyum.


“Daddy belum keluar mom?”


“Iya, Daddymu bilang menyusul sebentar lagi”


“Oya, gimana kabar Nara?” Tanya Hana dengan nada


cemas. Sejak kejadian di kafe dulu, ia belum bertemu Kembali dengan Ginara,


Aldy juga menahannya untuk ingin bertemu.


“Dia baik mom, Mommy gak perlu khawatir, everything


is okay” Hana masih terdiam.


“Tapi Mommy merasa bersalah Al, harusnya Mommy

__ADS_1


menguatkan dia dari dulu, bukan malah pergi meninggalkannya” Aldy bangkit dan


memeluk Hana.


“Mommy kan sakit waktu itu, Nara pasti ngerti”


“Mommy merasa bersalah dengan kehidupan Nara


sayang, harusnya ia tidak menyiksa diri seperti itu”


“Mom, sudah. Semua sudah berlalu, semua baik-baik


saja, nanti coba aku minta datang menemui Mommy.” Bujuk Aldy seraya mengelus


punggung Hana.


“Benar ya sayang, ajak Nara ke sini, Mommy beneran


kangen banget” Hana mendongak menatap putranya. Aldy mengangguk kemudian


mencium kening Hana.


“Al nggak nunggu Daddy ya Mom, Al harus jemput Nara


dulu”


“Ya sudah, hati-hati ya”


Aldy meminum segelas susu yang disiapkan Hana


kemudian berlalu ke arah tempat parkir.


Ginara sudah bersiap sejak pagi tadi, ia ingin


mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna, baginya semua sudah berlalu, hatinya


“Bunda, Gi berangkat dulu ya, ojeknya udah datang


tuh” Pamit Ginara seraya mencium punggung tangan dan pipi Tiara.


“Iya sayang, hati-hati”


“Emang mana tuh si yayang, gak guna banget jadi


cowok, harusnya tuh di jemput kek.” Ledek Davin sambil mencomot roti bakar.


“Hush!” Tiara menepuk tangan Davin gemas.


“Situ sendiri gimana kabarnya? Kenapa gak jemput


juga?” Ginara balas meledek dengan mencibirkan mulutnya. Aldy membelalak panik.


“Kak…”


“Ada yang mau cerita nih kayaknya” Sindir Tiara


memandang Davin. Pemuda itu panik sambil memandang Ginara. Gadis itu hanya


mengangkat bahu cuek.


“Assalamu’alaikum bunda”


“Waalaikumussalam sayang”


“Davin, bunda menunggu”


“Bunda, nanti aja ya, Dav ada keperluan mendadak,

__ADS_1


assalamu’alaikum”


“Ish Davin selalu ya, waalaikumussalam”


“Lho, kemana anak-anak Hon?” Reza mencium kening


Tiara kemudian duduk di kursi makan.


“Tau tuh, pada berangkat pagi-pagi semua, eh mas,


Davin kayaknya udah deket sama cewek deh” Curhat Tiara.


“Ah…anak slengekan gitu?” Ledek Reza. Tiara


mencubit pinggang Reza gemas.


“Aduh, sakit Hon.”


“Anak aku itu ya” Protesnya.


“Iya, iya anak aku juga kali Hon”


“Anak-anak sudah dewasa sepertinya ya mas”


“Hmm, iya sudah pada siap menikah semua ya”


“Duh mas, kalau Davin jangan dulu deh, masih kayak


anak-anak gitu” Keluh Tiara, Reza mengerling jenaka.


“Anak aku itu Hon”


“Ish…” Reza terbahak, di cubitnya pipi Tiara yang


menggembung marah.


“Dah ah, laper ini” Tiara mendadak tersenyum mengangguk


kemudian menyiapkan sarapan suaminya.


“Eh, mas aku punya ide deh” Kata Tiara sambil


mengambilkan sarapan Reza.


“Apa?”


“Gimana kalau kita nikahkan massal aja mereka, seru


kali ya mas, Genta sama Dina, Ginara sama Aldy, Davin…ah, anak itu kapan sih


bawa calon menantuku” Tiara senang namun sekejap kemudian ia cemberut, Reza


hanya tertawa melihat istrinya merajuk.


“Sudah kita doain aja, kuliahnya cepat selesai,


menggantikan mas trus cari istri.”


“Atau kita carikan jodoh aja kali ya mas”


“Hush…jangan dikit-dikit jodoh, kita serahin aja


sama anak-anak Hon, siapa tahu Davin kita sudah punya pilihan” Tiara mengangguk


setuju, kemudian mengikuti Reza memakan sarapannya dalam diam, walaupun


pikirannya masih tertuju pada putranya Davin.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2