
Assalamu'alaikum
Hai hai hai....hadir up lagi nih....
Met baca aja deh readers
Tok
Tok
Tok
Aldy keluar dari kamar mandi dengan hanya
menggunakan handuk yang melilit di pinggang Ketika mendengar bunyi ketukan di
kamarnya. Di bukanya pintu dan terlihat Wanita baya yang masih sangat cantik
berdiri di depan pintu kamarnya. Wanita itu tersenyum lembut.
“Mom…”
“Belum selesai ya”
“Ya Mom, penting banget Mom?” Tanya Aldy karena
melihat Hana sepertinya gelisah.
“Ah, ya..eh tidak, emm, mommy tunggu di bawah aja
ya”
Aldy mengangguk heran dengan kelakuan mommynya. Ia
kemudian menggelengkan kepala dan melangkah menuju ruang ganti. 10 menit
kemudian ia telah rapi dengan setelan kerja warna abu yang semakin menambah
kadar ketampanannya. Hari ini ia akan menjemput Ginara di rumah orang tuanya,
jadi harus berangkat lebih pagi. Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke rumah
orang tua Ginara, biasanya kalau ia menjemput ke apartemen paling membutuhkan
waktu 15-20 menit.
“Sayang, ini sarapan dulu ya” Hana menyodorkan roti
yang sudah di olesi mentega dan selai nanas kesukaannya. Aldy menerima dengan
tersenyum.
“Daddy belum keluar mom?”
“Iya, Daddymu bilang menyusul sebentar lagi”
“Oya, gimana kabar Nara?” Tanya Hana dengan nada
cemas. Sejak kejadian di kafe dulu, ia belum bertemu Kembali dengan Ginara,
Aldy juga menahannya untuk ingin bertemu.
“Dia baik mom, Mommy gak perlu khawatir, everything
is okay” Hana masih terdiam.
“Tapi Mommy merasa bersalah Al, harusnya Mommy
__ADS_1
menguatkan dia dari dulu, bukan malah pergi meninggalkannya” Aldy bangkit dan
memeluk Hana.
“Mommy kan sakit waktu itu, Nara pasti ngerti”
“Mommy merasa bersalah dengan kehidupan Nara
sayang, harusnya ia tidak menyiksa diri seperti itu”
“Mom, sudah. Semua sudah berlalu, semua baik-baik
saja, nanti coba aku minta datang menemui Mommy.” Bujuk Aldy seraya mengelus
punggung Hana.
“Benar ya sayang, ajak Nara ke sini, Mommy beneran
kangen banget” Hana mendongak menatap putranya. Aldy mengangguk kemudian
mencium kening Hana.
“Al nggak nunggu Daddy ya Mom, Al harus jemput Nara
dulu”
“Ya sudah, hati-hati ya”
Aldy meminum segelas susu yang disiapkan Hana
kemudian berlalu ke arah tempat parkir.
Ginara sudah bersiap sejak pagi tadi, ia ingin
mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna, baginya semua sudah berlalu, hatinya
“Bunda, Gi berangkat dulu ya, ojeknya udah datang
tuh” Pamit Ginara seraya mencium punggung tangan dan pipi Tiara.
“Iya sayang, hati-hati”
“Emang mana tuh si yayang, gak guna banget jadi
cowok, harusnya tuh di jemput kek.” Ledek Davin sambil mencomot roti bakar.
“Hush!” Tiara menepuk tangan Davin gemas.
“Situ sendiri gimana kabarnya? Kenapa gak jemput
juga?” Ginara balas meledek dengan mencibirkan mulutnya. Aldy membelalak panik.
“Kak…”
“Ada yang mau cerita nih kayaknya” Sindir Tiara
memandang Davin. Pemuda itu panik sambil memandang Ginara. Gadis itu hanya
mengangkat bahu cuek.
“Assalamu’alaikum bunda”
“Waalaikumussalam sayang”
“Davin, bunda menunggu”
“Bunda, nanti aja ya, Dav ada keperluan mendadak,
__ADS_1
assalamu’alaikum”
“Ish Davin selalu ya, waalaikumussalam”
“Lho, kemana anak-anak Hon?” Reza mencium kening
Tiara kemudian duduk di kursi makan.
“Tau tuh, pada berangkat pagi-pagi semua, eh mas,
Davin kayaknya udah deket sama cewek deh” Curhat Tiara.
“Ah…anak slengekan gitu?” Ledek Reza. Tiara
mencubit pinggang Reza gemas.
“Aduh, sakit Hon.”
“Anak aku itu ya” Protesnya.
“Iya, iya anak aku juga kali Hon”
“Anak-anak sudah dewasa sepertinya ya mas”
“Hmm, iya sudah pada siap menikah semua ya”
“Duh mas, kalau Davin jangan dulu deh, masih kayak
anak-anak gitu” Keluh Tiara, Reza mengerling jenaka.
“Anak aku itu Hon”
“Ish…” Reza terbahak, di cubitnya pipi Tiara yang
menggembung marah.
“Dah ah, laper ini” Tiara mendadak tersenyum mengangguk
kemudian menyiapkan sarapan suaminya.
“Eh, mas aku punya ide deh” Kata Tiara sambil
mengambilkan sarapan Reza.
“Apa?”
“Gimana kalau kita nikahkan massal aja mereka, seru
kali ya mas, Genta sama Dina, Ginara sama Aldy, Davin…ah, anak itu kapan sih
bawa calon menantuku” Tiara senang namun sekejap kemudian ia cemberut, Reza
hanya tertawa melihat istrinya merajuk.
“Sudah kita doain aja, kuliahnya cepat selesai,
menggantikan mas trus cari istri.”
“Atau kita carikan jodoh aja kali ya mas”
“Hush…jangan dikit-dikit jodoh, kita serahin aja
sama anak-anak Hon, siapa tahu Davin kita sudah punya pilihan” Tiara mengangguk
setuju, kemudian mengikuti Reza memakan sarapannya dalam diam, walaupun
pikirannya masih tertuju pada putranya Davin.
__ADS_1
To Be Continued